Surat Cinta Seorang Metallurgist

Perasaan ini begitu membara dalam tanur hatiku
Mendekaplah lalu menyatu membentuk alloy yang tak terpisahkan
Seandainya engkau tau kinetika difusi hasrat ini
Tentunya tak akan ada lagi diagram fasa antara engkau dan aku
 
Namun aku tau bahwa hatiku kini bertepuk sebelah tangan karena entrophy cintamu kepadaku bernilai negatif kendati temperatursayangku kepadamu terlalu tinggi sehingga tetap saja secara termodinamika cinta kita tidak saling larut
 
Mungkin aku perlu bersabar menunggu koefisien cintamu pada titik eutektik sehingga temperatur suasana hati kita dalam keadaansteady state.
Atau bahkan diperlukan penambahan fluks agar terak-terak yang menghalangi viskositasnya berkurang saat menyalurkan taping rindu.
 
Sungguh kuakui hatimu sekeras batuan kuarsa
Tapi aku yakin dapat menghancurkan dengan jaw crusher kesabaranku
Kemudian puing-puing kasihmu aku larutkan dalam larutan sianida kondisi basa
Setelah itu karbon aktif cintaku mengabsorbsi emas cintamu
lalu perlahan tapi pasti difusi cintaku dapat menembus lapis solid hatimu.
Dan kupastikan tidak ada lagi impurities dalam bullion cinta kita
 
Oh… sayangku
Sering engkau kubayangkan memasuki pusaran siklon pikiranku
Dimana suatu saat sentrifugal ketulusan yang telah kuberikan akan memisahkan cinta dan benci sebagai overflow dan underflow.
 
Haruskah aku berputus asa menjaga kestabilan basisity cintaku?
Sementara derajat kebebasanmu masih tidak memungkinkan untuk merubah tekananku
Kecuali jika jumlah komponen cintaku bertambah kepada wanita lain, Namun itu tak mungkin kulakukan sebab faktor retriksi hanya tertuju padamu.
 
Mungkin distribusi ukuran pengobananku masih sempit menurut analisa ayakan matamu
Entahlah yang jelas aku tidak pernah menyesal karena aku tau bahwa ini adalah sebuah kendali proses yang harus dipecahkan dengan menggunakan transformasi Laplace S (sabar).
 

 

Insinyur Material & Metalurgi di RI Minim

Selain kelangkaan jumlah sarjana geologi, Indonesia ternyata juga mengalami kelangkaan lulusan Jurusan Teknik Material dan Metalurgi (JTMM). Bahkan jumlah lulusan ini di Tanah Air hanya mencapai separuh dari jumlah lulusan JTMM di Malaysia.

Demikian disampaikan seorang ahli material dan metalurgi asal Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Sulistijono dalam Seminar Nasional Material dan Metalurgi (Senamm) yang berlangsung di ITS. Kegiatan ini merupakan rutinitas lima perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki JTMM.

Sulistijono menyampaikan, kebutuhan dunia terhadap insinyur di bidang material dan metalurgi cukup tinggi sementara angka insinyur bidang material dan metalurgi di Indonesia terbatas. Oleh karena itu, harapan untuk mengembangkan bidang ini melalui memperbanyak jumlah insinyur bidang tersebut menjadi hal yang perlu dilakukan. ”Dari per satu juta penduduk, Indonesia hanya memiliki 300 insinyur bidang material dan metalurgi yang sudah digabung dengan diploma dan sarjana,” ujar Sulistijono, seperti dilansir dari ITS Online, Kamis (6/9/2012).

Sementara itu, dalam sambutannya, Rektor ITS Tri Yogi Yuwono memaparkan kondisi kekinian industri di Indonesia. Menurut Tri Yogi, banyak di antara perusahaan-perusahaan industri yang masuk dalam keadaan miris. “Mereka kehilangan semangat untuk berkarya, sehingga kalah bersaing dengan industri-industri asing. Dari terselenggaranya kegiatan ini muncullah harapan untuk meningkatkan daya saing industri,” ungkap Tri Yogi.

Selain Sulistijono, salah satu pendiri JTMM ITS Muchtar Karo Karo pun didapuk sebagai pembicara. Tidak hanya itu kegiatan yang telah dihelat dua kali tersebut juga mengundang seorang pakar material dan metalurgi tingkat internasional Dah-Shyang Tsai dari National Taiwan University of Science and Technology (NTUST). Meski menjadi jurusan yang baru dan memiliki perkembangan pesat, Senamm diharapkan mampu menjadi fasilitas utama, yakni sebagai wadah untuk bertukar pengetahuan dalam penelitian dan kurikulum di bidang material dan metalurgi.(mrg)

Sumber: Okezone

http://www.dikti.go.id/?p=5688&lang=id