Menuju Indonesia Mandiri, Sektor Pertambangan Harus Rela ‘Disenggol’

Image

Bicara mengenai Indonesia yang mandiri, otomatis berhubungan dengan persoalan aktivitas ekspor dan impor. Ketika lalu lintas perdagangan dalam negeri didominasi oleh barang impor dengan alasan ketidakberdayaan Indonesia menciptakan atau mengelola barang tertentu, maka sudah bisa dikatakan pada posisi tersebut Indonesia belum mandiri. Kenyataannya memang begitu.

Dominansi kegiatan ekspor-impor sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut meliputi adanya sumber daya alam, adanya pengelola atau sumber daya manusia, dan kebijakan yang berlaku. Dalam kacamata saya, ketiga elemen tersebut harus saling berharmonisasi. Kala salah satu di antara faktor tersebut ada yang timpang, maka mimpi Indonesia yang mandiri dengan dominasi ekspor tidak bisa tercapai.

Fokus pada satu sektor, salah satu sektor yang sedang hits dan menjadi trending topic pada tahun 2014 ini adalah sektor pertambangan. Hal tersebut jelas, kehadiran UU Minerba No.4 tahun 2009 berhasil menggoyahkan ketiga faktor yang mempengaruhi kegiatan ekspor-impor. Larangan mengekspor bahan tambang mentah, sedikit banyaknya menggetarkan mereka para pemilik usaha tambang, dunia pendidikan dalam hal penyiapan tenaga ahli, dan tentu pemerintah sendiri.

Kenyataannya, 75% sektor pertambangan RI dikuasai oleh asing. Bagaimana bisa dikatakan Indonesia mandiri dalam kondisi seperti itu? Dilansir dari okezone, Faisal Yusra yang merupakan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Migas Indonesia (KSPMI), menilai bahwa Indonesia adalah surga bagi investor asing. Kilau emas kuning dan hitam (migas) sangat menarik perhatian pengusaha tambang asing untuk mengeruknya dari bumi Indonesia. Dia menjelaskan, dominasi asing sector pertambangan dalam negeri dinilai kian mengkhawatirkan bahkan telah mengancam kedaulatan perekonomian Indonesia, karena menjadikan pertambangan sebagai komoditas yang tidak memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan rakyat. Disisi lain, besarnya dominasi asing disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang terlalu membuka lebar pintu investasi bagi investor asing di sector strategis.

Berlakunya UU Minerba sejak 12 Januari lalu pun menjadi tugas besar perguruan tinggi dalam negeri. Larangan ekspor tersebut memancing kehadiran pabrik-pabrik smelter baru di Indonesia yang tentunya membutuhkan tenaga ahli dalam pengoperasiannya. Dalam pengolahan bahan tambang, jurusan Teknik Metalurgi menjadi bidang yang paling bertanggung jawab dalam kesiapan tenaga ahli. Dilansir dari ITS Online, Sungging Pintowantoro ST MT PhD, Kepala Jurusan Teknik Material dan Metalurgi (JTMM) FTI-ITS yang juga merupakan Wakil Ketua Dewan Asosiasi Metalurgi dan Material Indonesia (AMMI), memaparkan bahwa untuk JTMM sendiri mulai kurikulum 2014 akan menjadikan mata kuliah Metalurgi Ekstraksi dan Pengolahan Besi&Baja yang sebelumnya bersifat pilihan, menjadi wajib. Hal tersebut merupakan salah satu contoh dari upaya perguruan tinggi selaku pencetak tenaga ahli dalam menunjang sumber daya manusia.

Pasca diberlakukannya UU Minerba, pemerintah pun sedikit kewalahan. Tingginya tuntutan untuk membangun smelter dalam negeri sedikit menyulitkan dari segi ekonomi dan akselerasi produksi bahan tambang dari perusahan-perusahan tambang asing maupun nasional. Pembangunan smelter membutuhkan uang yang tidak sedikit, namun hanya sedikit bank yang berani meminjamkan uang untuk pembangunan smelter dalam negeri. Disisi lain, perusahan tambang terus mengeruk bahan tambang, konsentratnya harus segera diproses untuk menunjang optimalisasi produksi. Namun UU Minerba justru mereduksi persentase produksi hasil tambang karena kurangnya jumlah smelter dalam negeri. Meski sudah dihadirkannya undang-udang turunan UU Minerba yang membolehkan enam jenis bahan tambang tetap ekspor, namun tingginya pajak bea cukai menjadi bahan pertimbangan lain bagi perusahaan.

Memang, diberlakukannya UU Minerba ini menjadi sebuah dilematis. Saya sendiri menanggapi hal ini merupakan sebuah tindakan berani dari pemerintah. Dengan segala resikonya, ekonomi maupun politik, ini merupakan langkah awal untuk Indonesia yang mandiri. Pemberlakuan undang-udang ini pun menjadi dorongan tersendiri untuk mencetak lebih banyak lagi tenaga ahli di bidangnya. Meski harus menunggu hingga tiga tahun agar smelter bisa beroperasi normal, namun itu lah fase yang layaknya Indonesia alami dengan segala resikonya untuk pada akhirnya menjadi negara yang mandiri. Yaitu Indonesia yang bisa mengelola kekayannya sendiri dan mengekspor bahan yang memang sudah diolah dengan nilai jual yang lebih tinggi.

Oleh karena itu, mengenal seluk beluk pertambangan dan membuka pikiran atas paradigma yang sudah terbangun mengenai kekayaan Indonesia dan Pertambangan adalah penting. Saya sebagai mahasiswi yang kiranya memiliki fungsi sebagai Iron Stock dan Social Control, tentu perlu mengetahui, mensosialisasikan, dan ikut mengawal keberlangsungan UU Minerba ini. Karena pada akhirnya, di tangan para  pemuda lah Indonesia akan menggantungkan nasibnya.

Ilmi Mayuni Bumi

Mahasiswi Jurusan Teknik Material dan Metalurgi ITS 2013

Pentingnya Budaya Gengsi

Image

Gengsi sering dikaitkan dengan perilaku buruk. Sedangkan arti kata ‘gengsi’ sendiri menurut KBBI adalah rasa terlalu menjaga kehormatan dan harga diri. Namun demikian, dalam realita sosial yang ada, gengsi dipandang sebagai hal yang negatif. Padahal menurut saya jika ditelaah lebih jauh lagi, tidak sedikit efek positif yang didapatkan karena adanya rasa gengsi ini.

Pada umumnya, orang menganggap gengsi hanya akan melahirkan kesombongan. Kebanyakan mereka menganggap, apa yang disebut gengsi adalah ketika seseorang memakai barang branded. Termasuk juga gengsi ketika senior meminta maaf pada juniornya, gengsi ketika makan di pingir jalan, ataupun gengsi bergaul dengan orang yang tidak berasal dari kota metropolitan.

Hal itu tidak bisa ditepis keberadaannya dalam dunia sosial kita, namun bagaimana jika rasa gengsi ini ditempatkan pada hal yang bisa memberikan efek positif?

Saya merasa bahwa budaya gengsi perlu dibangun di lingkungan akademik. Mengapa demikian? Saya akan gambarkan dalam beberapa studi kasus. Bayangkan saja jika setiap mahasiswa yang sedang dalam ujian memiliki rasa gengsi untuk mencontek ataupun menanyakan jawaban pada temannya, maka hasil ujian akan benar-benar murni.

Dengan terbangunnya budaya gengsi, seperti dalam situasi ujian, setiap individu akan termotivasi untuk belajar dan benar-benar berusaha memahami setiap materi. Setidaknya, rasa gengsi itu bisa menjadi alasan seseorang untuk mau mempelajari materi kuliah. Hal tersebut berefek pada tingkat pemahaman yang baik terhadap seorang mahasiswa dalam memahami materi-materi kuliah.

Membangun rasa gengsi, terutama dalam ujian memang tidaklah otomatis. Budaya gengsi dalam konteks ini berkaitan erat dengan budaya malu. Sementara malu menurut KBBI adalah perasaan hina karena berbuat sesuatu yang kurang baik. Kembali pada pandangan umum terhadap tindakan mencontek. Bagaimana seorang individu menilai hal tersebut baik atau tidak.

Namun menurut saya, tindakan mencotek merupakan tindakan yang memalukan dan bisa menjatuhkan harga diri. Perasaan jatuhnya harga diri ini bisa terjadi pada orang yang memiliki rasa gengsi dalam hal mencontek. Perasaan tersebut memberikan efek jera yang pada akhirnya menjadi pencegah seseorang untuk mencontek.

Pada kasus lain, dalam pembuatan laporan misalnya, jika budaya gengsi ini terbangun pada diri seorang mahasiswa, maka ia akan merasa gengsi jika mencontek laporan milik temannya. Dengan begitu, setiap individu akan benar-benar terasah dalam menyusun laporan meski dengan kondisi keterpaksaan karena rasa gengsi yang ada dalam dirinya. Dalam kondisi keterpaksaan itu justru menimbulkan semangat menyelesaikan laporan, dalam tujuan lain untuk menjaga harga dan kehormatan diri.

Budaya gengsi juga akan baik efeknya jika memang tepat adanya. Dalam penerimaan beasiswa yang mensyaratkan keterangan kurang mampu misalnya. Jika golongan yang mampu secara finansial memiliki gengsi, maka beasiswa tersebut tidak akan salah masuk kantong.

Adanya rasa gengsi pada manusia tidaklah harus selalu disikapi dengan pandangan negatif. Memanfaatkan keberadaannya dan membudayakannya untuk sesuatu yang positif akanlah sangat berguna. Gengsi bagaikan pisau bermata dua. Jika ia dipakai sesuai tempatnya, maka ia sangat berguna. Namun jika tidak dipakai sesuai dengan tempatnya, ia bisa menjadi bumerang, senjata makan tuan untuk diri kita sendiri. Dengan demikian, dalam pandangan saya, kehadiran budaya gengsi adalah penting terutama di lingkungan akademik.

Ilmi Mayuni Bumi

https://www.its.ac.id/berita/12839/en