Pentingnya Budaya Gengsi

Image

Gengsi sering dikaitkan dengan perilaku buruk. Sedangkan arti kata ‘gengsi’ sendiri menurut KBBI adalah rasa terlalu menjaga kehormatan dan harga diri. Namun demikian, dalam realita sosial yang ada, gengsi dipandang sebagai hal yang negatif. Padahal menurut saya jika ditelaah lebih jauh lagi, tidak sedikit efek positif yang didapatkan karena adanya rasa gengsi ini.

Pada umumnya, orang menganggap gengsi hanya akan melahirkan kesombongan. Kebanyakan mereka menganggap, apa yang disebut gengsi adalah ketika seseorang memakai barang branded. Termasuk juga gengsi ketika senior meminta maaf pada juniornya, gengsi ketika makan di pingir jalan, ataupun gengsi bergaul dengan orang yang tidak berasal dari kota metropolitan.

Hal itu tidak bisa ditepis keberadaannya dalam dunia sosial kita, namun bagaimana jika rasa gengsi ini ditempatkan pada hal yang bisa memberikan efek positif?

Saya merasa bahwa budaya gengsi perlu dibangun di lingkungan akademik. Mengapa demikian? Saya akan gambarkan dalam beberapa studi kasus. Bayangkan saja jika setiap mahasiswa yang sedang dalam ujian memiliki rasa gengsi untuk mencontek ataupun menanyakan jawaban pada temannya, maka hasil ujian akan benar-benar murni.

Dengan terbangunnya budaya gengsi, seperti dalam situasi ujian, setiap individu akan termotivasi untuk belajar dan benar-benar berusaha memahami setiap materi. Setidaknya, rasa gengsi itu bisa menjadi alasan seseorang untuk mau mempelajari materi kuliah. Hal tersebut berefek pada tingkat pemahaman yang baik terhadap seorang mahasiswa dalam memahami materi-materi kuliah.

Membangun rasa gengsi, terutama dalam ujian memang tidaklah otomatis. Budaya gengsi dalam konteks ini berkaitan erat dengan budaya malu. Sementara malu menurut KBBI adalah perasaan hina karena berbuat sesuatu yang kurang baik. Kembali pada pandangan umum terhadap tindakan mencontek. Bagaimana seorang individu menilai hal tersebut baik atau tidak.

Namun menurut saya, tindakan mencotek merupakan tindakan yang memalukan dan bisa menjatuhkan harga diri. Perasaan jatuhnya harga diri ini bisa terjadi pada orang yang memiliki rasa gengsi dalam hal mencontek. Perasaan tersebut memberikan efek jera yang pada akhirnya menjadi pencegah seseorang untuk mencontek.

Pada kasus lain, dalam pembuatan laporan misalnya, jika budaya gengsi ini terbangun pada diri seorang mahasiswa, maka ia akan merasa gengsi jika mencontek laporan milik temannya. Dengan begitu, setiap individu akan benar-benar terasah dalam menyusun laporan meski dengan kondisi keterpaksaan karena rasa gengsi yang ada dalam dirinya. Dalam kondisi keterpaksaan itu justru menimbulkan semangat menyelesaikan laporan, dalam tujuan lain untuk menjaga harga dan kehormatan diri.

Budaya gengsi juga akan baik efeknya jika memang tepat adanya. Dalam penerimaan beasiswa yang mensyaratkan keterangan kurang mampu misalnya. Jika golongan yang mampu secara finansial memiliki gengsi, maka beasiswa tersebut tidak akan salah masuk kantong.

Adanya rasa gengsi pada manusia tidaklah harus selalu disikapi dengan pandangan negatif. Memanfaatkan keberadaannya dan membudayakannya untuk sesuatu yang positif akanlah sangat berguna. Gengsi bagaikan pisau bermata dua. Jika ia dipakai sesuai tempatnya, maka ia sangat berguna. Namun jika tidak dipakai sesuai dengan tempatnya, ia bisa menjadi bumerang, senjata makan tuan untuk diri kita sendiri. Dengan demikian, dalam pandangan saya, kehadiran budaya gengsi adalah penting terutama di lingkungan akademik.

Ilmi Mayuni Bumi

https://www.its.ac.id/berita/12839/en

Advertisements

2 thoughts on “Pentingnya Budaya Gengsi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s