Mungkin, Suatu Hari, Entah Kapan

Tahun lalu, sebelum meninggalkan Bandung untuk berkuliah di Surabaya, seorang sahabat menghadiahi saya sebuah buku cerita pendek karya Habiburrahman El Shirazy yang berjudul: Pudarnya Pesona Cleopatra. Ketika saya baca, struktur bahasa seorang Habiburrahman benar-benar membuat saya terkagum! Sampai lebih dari satu tahun berlalu, belum lama ini saya membongkar buku-buku bacaan di bawah lemari kosan, kembali saya temukan novel tersebut. Memandangi cover-nya agak lama, dari dua judul cerpen yang terdapat dalam buku tersebut, saya hanya mengingat isi kisah satu judul cerpen saja. Karena penasaran, saya membacanya lagi, hanya di cerpen yang ke-2. Hasilnya, yang menjadi fokus saya bukan lagi gaya tulisan Habiburrahman yang luar biasa indah itu, tapi isi kisah seorang tokoh Niyala disana. Hingga sampailah pada satu halaman yang memuat sebuah puisi karya beliau:

mas kawin untuk bidadariku
adalah sekuntum bunga melati
yang aku petik
dari sujud sembahyangku
setiap hari


buah cintaku
dengan bidadariku
adalah lahirnya generasi teladan
yang menggendong tempayan-tempayan kemanfaatan
bagi manusia dan kemanusiaan
pada setiap tempat, pada setiap zaman


mereka lahir demi kesejatian sebuah pengabdian
dalam abad-abad yang susah,
abad-abad tidak mengenal Tuhan
abad-abad hilang naluri kemanusiaan
abad-abad berkuasa rezim-rezim kemungkaran
dan mereka tetap kekar dan setia
membela kebenaran
dan keadilan


estafet perjuangan kami berkelanjutan
sambung-menyambung pada setiap generasi
tak berpenghabisan
terus bergerak
mengaliri ladang-ladang peradaban
seperti cintaku
pada bidadariku
yang terus tumbuh
semakin subur
dari hari ke hari
laksana kalimat-kalimat suci
di hati para salehin
di hati para nabi

Puisi yang berjudul “Bidadariku” ini terasa berbeda ketika saya baca kemarin, emosi yang ditimbulkan amat berbeda dibanding saat pertama kali membaca buku ini. Saya menyadari ada yang berubah dari diri saya, tak aneh, satu tahun pastilah bisa merubah seseorang. Tapi sisi bagian mana yang berubah? Rasanya sebuah naluri, perasaan alami yang tidak bisa tertolak kehadirannya ketika membaca puisi ini. Entah memang saya yang terlalu melankolis saja pada saat membacanya, atau apa. Tapi ada perasaan bertanya-tanya, tentang rencana Allah, padaku. Tentang sisi kehidupanku, yang ini. Apa mungkin karena belakangan aku sudah mulai merasa menjadi wanita yang utuh? Ah, tetap saja belum utuh, tanpa ini. Mungkin, suatu hari, entah kapan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s