Harus banget ya, Mahasiswa Ngomongin Politik?

Dalam tatanan kehidupan manusia, didapati begitu banyak elemen kehidupan. Agar roda kehidupan bisa berputar, berbagai sektor bidang dengan peranan khusus pun eksis untuk saling mendukung satu sama lain. Tak ayal, manusia pun turut dispesifikasi karakter dan keahliannya untuk menempati posisi peran-peran tersebut. Maka disinilah lembaga pendidikan hadir untuk menjawab kebutuhan peranan-peranan tersebut.

Saat ini, kurang lebih ada 100 Perguruan Tinggi Negeri (berbentuk universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, politeknik), 52 Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN), 272 Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta, dan 3.078 Perguruan Tinggi Swasta yang tersebar di seluruh nusantara. Diketahui dari Angka Partisipasi Kasar (APK) pada tahun 2012, jumlah mahasiswa Indonesia kurang lebih sekitar 4,5 juta (dari 25 juta usia produtif 19-24 tahun) atau 1,8 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Dengan peningkatan persentase jumlah mahasiswa hingga 2014 ini, taruhlah 2 persen penduduk Indonesia adalah mahasiswa.

Semua penduduk Indonesia dengan latar pendidikan yang berbeda-beda menempati perannya masing-masing di berbagai sektor dimana mereka dibutuhkan. Mulai dari buruh pabrik, tenaga pendidik, spesialis industri, pemerintah, hingga wiraswasta. Kondisi tersebut adalah jika proporsi jumlah penduduk, kebutuhan konsumsi keseharian, dan ketersediaan sumber daya alam/manusia menunjukkan kondisi yang tepat terintegrasi dan seimbang. Namun, dari 250 juta penduduk Indonesia, ternyata 7,24 juta diantaranya adalah pengangguran. Selain itu, masih ada persoalan kesehatan, pembangunan, pendidikan, asktivitas impor-ekspor, dan kesejahteraan masyarakat Indonesia yang dianggap masih belum mencapai kondisi ideal.

Berangkat dari hal tersebut, kita menyadari bersama bahwa sistem ini perlu mendapat perhatian lebih. Masalah-masalah perlu ditanggulangi dengan tepat. Ada begitu banyak variabel yang terlibat dalam terjadinya suatu kebijakan. Mulai dari masalah yang dihadapi, efisiensi solusi, ketersediaan tenaga, pembagian peran, gesekan kepentingan dalam maupun luar negeri, dan masih banyak lagi (baca: tangan-tangan invisible yang penuh ambisi :p). Cara mencapai itu lah yang kita sebut politik.

Review Apa itu Politik

Menurut teori klasik Aristoteles, politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Perspektif lain bicara, bahwa politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara, atau sesuatu yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat. Definisi yang paling klop untuk saya pribadi: politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.

Saya memahami bahwa dalam perumusan dan pelaksaan ini lah, banyak perilaku-perilaku politik yang menunjukkan ketidaksamaan persepsi. Dalam arti, sedemikian banyak kepentingan disana, sehingga menimbulkan gesekan dan pelanggaran yang dapat berefek pada kebijakan yang kurang tepat. Pada akhirnya, rakyat lah yang paling menikmati efek (baik/buruk)-nya suatu kebijakan tanpa bisa banyak berpartisipasi.

Bicara partisipasi politik, sejak saya mengenal Indonesia dan bangku kuliah, mahasiswa selalu dielu-elukan sebagai subjek terpercaya dalam mengawal kebijakan pemerintah karena dianggap sebagai kaum intelek yang berada pada posisi netral. Iyakah?

Status Mahasiswa

Perguruan Tinggi menyuguhkan atmosfer pendidikan yang lebih terfokus dan mendalam, juga menawarkan lingkungan yang intelek. Untuk bisa survive dalam menjadi mahasiswa, dikatakan perlu daya berpikir lebih daripada mereka yang tidak mengenyam bangku kuliah. Tanpa maksud mengeneralisir dan menyalahi takdir, kondisi ini tidak salah jika mahasiswa dikatakan mampu melihat serta mengkritisi keadaan pemerintah. Tak hanya otaknya yang diklaim terlatih mengkaji persoalan, mahasiswa berada dibawah institusi legal yang mana track untuk mencapai meja pemerintah lebih dekat, apa lagi dosen-dosen/petinggi kampus adalah mereka-mereka yang sering bersinggungan langsung dengan pemerintah.

Ditambah lagi, mahasiswa tidak terlibat dalam pengambilan kebijakan pemerintah (jelas lah), namun capable untuk mengkritisi kebijakan-kebijakannya. Maka posisi mahasiswa ini sangatlah netral dan strategis untuk turut berpolitik dalam soal dijadikan sebagai pengawal kebijakan dan penyambung lidah rakyat. Lalu, populasi 2 persen dari total penduduk Indonesia ini juga adalah yang paling memungkinkan dijadikan sebagai pemegang tongkat estafet pemerintahan Indonesia (Ibu Susi lain cerita).

Akhirnya, disebut-sebutlah bahwa mahasiswa memiliki peranan khusus. Peranan khusus tersebut meliputi Agen Perubahan (saya lebih setuju untuk bilang Pemimpin Perubahan), Moral Force, Iron Stock (better Golden Stock :p), dan Social Control.

Fenomena Mahasiswa Hari Ini

Lima juta lebih mahasiswa dengan berbagai fokus bidang yang berbeda ini dipaksa oleh sistem ataupun passionnya untuk memenuhi kebutuhan peradaban. Sementara ini menurut riset, untuk mencapai kondisi ideal, Indonesia membutuhkan 100 ribu dokter umum, 6000 dokter spesialis, 2,7 juta teknisi, 600 aktuaris, dan masih banyak lagi sektor yang harus dipenuhi oleh para mahasiswa ini. Tak ayal, pikiran terspesialis pun muncul, dimana mahasiswa berpikir bahwa apa yang perlu dilakukannya hanyalah menggeluti fokus bidangnya saja.

Hal tersebut tidak salah, mengingat dalam tatanan kehidupan ini memang dibutuhkan para jenius di bidang-bidang khusus yang pendalamannya membutuhkan fokus penuh. Tapi, apakah semua mahasiswa harus begitu?

Adanya jurusan ilmu politik, hukum, ilmu pemerintahan, dan lain sejenisnya ini dianggap oleh beberapa mahasiswa sudah cukup menjawab kebutuhan panggung perpolitikan Indonesia. Lantas mahasiswa-mahasiswa jurusan tersebut dianggap yang paling bertanggung jawab mengurusi politik. Terus, kita-kita mahasiswa teknik, sains, dan lainnya ini apakah tidak diperlukan? Layak kah lepas peran dan tanggung jawab sebagai mahasiswa?

Fenomena lain yang tak kalah menarik adalah orientasi kebanyakan individu mahasiswa itu sendiri. Bersekolah, kerja, mendapat gaji cukup, dan hidup bahagia, agaknya menjadi situasi dambaan banyak mahasiswa saat ini. Tak salah memang, sudah menjadi dasar sifat manusia untuk mencari kenyamanan hidup. Dikatakan kebanyakan mahasiswa sekarang pragmatis dan oportunis. Mementingkan kenyamanan hidup sendiri, begitu?

Kondisi lingkungan Indonesia pascareformasi ini menghadirkan kenyamanan tersendiri. Tidak ada gejolak nyata ataupun common enemy (seperti Soeharto dulu), sehingga nampak seperti semuanya tidak ada yang salah. Lupa melihat masih ada rakyat yang susah, dikatakan kebanyakan mahasiswa sekarang cenderung elitis dan kurang merakyat. Katanya penyambung lidah rakyat?

Niat berkontribusi untuk bangsa, tapi nanti-saja-kalau-sudah-sukses, lantas sekarang fokus kuliah tanpa peduli apa yang terjadi dengan bangsanya. Hm, ada yang berkata, cara paling efektif untuk merusak suatu bangsa adalah dengan membuat para pemudanya tidak kenal sejarah. Bagaimana bisa kita membantu berkontribusi untuk bangsa sedangkan sejarah akar masalahnya saja kita tidak paham karena tidak memerhatikan sedari dulu?

Fenomena yang paling mudah ditemui adalah, “Kuliah saya saja sudah susah, tambah susah mikirin politik.” Padahal semua yang kita hadapi adalah menyangkut politik, bahkan pendidikan sekalipun. Intinya, tidak mau susah?

Jadi, Harus banget?

Mengutip perkataan dari salah satu tokoh penulis favorit saya, Bertolt Brecht,

”Buta yang terburuk adalah buta politik. Dia tidak mendengar, tidak berbicara dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, dll semua tergantung pada keputusan politik.

Orang yang buta begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si Dungu ini tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional.”

Lihat betapa sebenarnya kita semua ini pada hakikatnya adalah pelaku politik? Bahkan saintis yang sibuk di lab dan teknisi yang sibuk merancang bangunan sekalipun. Jika kehidupan sebagai teknisi misalnya, tidak sejahtera, temuan tidak dihargai, kompetensi tidak terstandardisasi, dan lainnya, apa lagi kalau bukan persoalan politik?

Tinggal bagaimana kita mau mengalokasikan waktu dan tenaga untuk berpartisipasi aktif sesuai kapabilitas yang kita miliki. Mahasiswa dengan kapabilitas sebesar itu, apakah hanya mau memilih belajar di kelas dan iya-iya saja? Ketika sebetulnya kebertahanan status mahasiswa kita ini diperjuangkan oleh rakyat melalui dana pajak, dan perputaran uang negara. Masih merasa tidak berdosa kah untuk bersikap apatis terhadap peristiwa menyangkut rakyat Indonesia?

Andai pemimpin bangsa dapat lahir dari masa lalu yang tidak peduli dan tidak mau mengenal politik, apa mungkin? 🙂

Sesungguhnya taburan kata ini bukan untuk menggurui apa lagi mendikte, namun sekadar menjadi pengingat bagi yang lupa, dan pemancing inspirasi bagi siapapun.

————————————————————————————————————————

Tulisan ini saya dedikasikan secara khusus untuk Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang konon memiliki semangat kejuangan sepuluh nopember. Mahasiswa yang mengenyam pendidikan di kampus yang murni didirikan oleh bangsa sendiri tanpa campur tangan bangsa lain. Kampus yang konon menjadi senter poros pergerakan mahasiswa Indonesia timur. #AkuSepuluhNopember #AkuArekITS

Bandung, 31 Desember 2014

Ilmi Mayuni Bumi

Mahasiswi Teknik Material dan Metalurgi

Staff Kementerian Kebijakan Publik BEM ITS

Advertisements

<3

Dengar kabar kawan bermain yang akan segera menikah itu selalu bisa bikin menangis bahagia. Rasanya terharu, iri, dan salut.

Terharu, secepat inikah hidup berpindah fase?

Sudah harus menanggalkan beberapa kesenangan untuk kewajiban yang baru.

Iri, betapa banyak ladang pahala yang kamu miliki mulai dari sah, mengandung, melahirkan, menyusui, hingga menyemai kasih untuk buah hati.

Betapa sudah sempurnanya agamamu, seiring dengan kamu yang sudah sempurna menjadi perempuan.

Salut sesalut salutnya, dibalik lemah lembutmu tersimpan keberanian luar biasa untuk mengarungi arena baru kehidupan yang penuh dengan kewajiban serta tugas yg tak ringan.

Untukmu kawan, semoga menjadi ibu yang melahirkan generasi yang mau berjuang… demi kesejatian sebuah
pengabdian, dalam abad-abad yang susah, abad-abad tidak mengenal Tuhan, abad-abad hilang naluri kemanusiaan, abad-abad berkuasa rezim-rezim kemungkaran, dan mereka tetap kekar dan setia membela kebenaran dan keadilan…Sambung-menyambung pada setiap generasi, tak berpenghabisan, terus bergerak, mengaliri ladang-ladang peradaban..(Habiburrahman dlm puisi Bidadariku).

Doakanlah selalu kawan-kawanmu yang masih belum sesempurna dirimu, yang masih berjuang di arena kehidupan yang lain.
Salam sayang dari Surabaya!