Hidup Seorang Metallurgist

Jadi anak metalurgi emang keras-keras gemes. Hari eksplorasi ke-2 di town site Newmont telah menunjukkan banyak hal ke-metalurgi-an buat gue secara langsung. Kalau hari pertama kita ke area penambangannya, hari selanjutnya kita diculik ke area concentrator. Cocentrator adalah tempat pengolahan bahan batuan hasil tambang. Diolah gimana ya maksudnya?

Penampakan area concentrator Newmont
Penampakan area concentrator Newmont
Ball Mill
Ball Mill

Sebelumnya, buat yang belum tau ilmu metalurgi itu ngapain, metalurgi adalah ilmu yang mempelajari tentang metal (logam). Jadi ada metalurgi ekstraksi, ada metalurgi manufaktur. Metalurgi ekstraksi ini bekerja di hulu untuk mengekstrak mineral batuan, mengambil material berharganya. Karena sesungguhnya unsur-unsur berharga seperti emas itu tidak berdiri sendiri di alam ini, biasanya ditemukan dalam batuan dengan kondisi bersenyawa dengan tembaga dan pengotor-pengotor lainnya. Nah, metallurgist ini lah yang bertugas untuk mengekstrak material berharganya dari segala pengotornya. Sedangkan metalurgi manufaktur ini lebih ke hilir, bertugas untuk memproses bahan setengah jadi menjadi barang jadi.

Metallurgist Emang Kudu Cadas!

Abaikan wajah gue
Abaikan wajah gue

Sampai ke area concentrator, selain mengenakan pakaian standar keselamatan, kami dianjurkan untuk memakai penyumbat telinga untuk mereduksi kebisingan. Ohya, pengolahan di PNNT ini memenuhi pemurnian sampai 95% proses, sisanya dilakukan di PT Smelting Gresik dan diluar negeri. Hydrometallurgy merupakan jenis proses yang dilakukan di PTNNT, dimana pemurniannya menggunakan air. Simpelnya, batuan material tambang ini digiling dulu sampai halus, lalu diairi pada proses flotasi agar material yang berharga mengapung oleh gelembung, dan sisa pembuangannnya mengendap sebagai tailing untuk selanjutnya dibuang di dasar palung laut selatan Sumbawa.

Area Pengolahan
Area Pengolahan

Nah, konsep-konsep tersebut udah gue pelajari di kelas dengan bahasa-bahasa yang lebih ribet. Sembari mendengar dosen menjelaskan, sembari berkhayal how it works. Kenyataan di lapangan ternyata lebih ngebanting! Maksud gue disini, cadas abiis! Honestly gue bilang, kondisi atmosfer lapangan kerja pertambangan itu semacam menjenuhkan dan stressing. Nah, di area concentrator ini lebih-lebih. Ball mill/SAG mill (penggerus material) ini besar, menyeramkan, dan berputar cepat, berisik pula. Lalu masih ada berpuluh cell (tabung besar) yang isinya partikel-partikel material oalahan yang lagi menggelembung terus naik ke atas. Kita berjalan-jalan diatas cells yang terbuka itu, berpijakan jeruji besi, yang mana kalau kita udah nyampe lantai paling atas, noleh kebawah itu udah nyeremin.

Gak berhenti sampai disitu, ada air yang mengalir deras untuk mensuplai cells flotasi, kepeleset sedikit, habislah riwayat kita! Tugas metallurgist ini memastikan seluruh proses sesuai rencana, dan hasil kualitas metal murni yang dihasilkan sesuai perencanaan pula. Kalau gak sesuai? Kena tegur. Kalau ada masalah ditengah proses? Harus langsung ke lokasi, gak peduli hujan, badai, terik matahari atau apapun.

Hasil akhir konsentrat emas-tembaga yang sudah diolah
Hasil akhir konsentrat emas-tembaga yang sudah diolah

Cara kontrollingnya canggih banget. Di setiap tahap proses, ada unsur radioaktif (biasanya radium) yang digunakan sebagai sensor untuk mengirimkan informasi kondisi pengolahan berupa video yang akan muncul langsung di ruang kontroling, termasuk suhu dan komposisi unsurnya juga loooh. Unsur radioaktif ini lifetimenya 10 tahun, harus hati-hati ketika di area scanning ini.

Curhatan salah satu user PTNNT yang ritme kerjanya empat hari dalam satu pekan, start pukul 6 pagi dan usai pukul 5 sore, mengaku cukup berat menjalani hari-harinya. Katanya, meskipun diluar jam kerja, malam sudah pingin istirahat, handphone masih aja tiba-tiba berbunyi melaporkan kendala-kendala di lapangan. “Susah tidur!” katanya.

Abaikan ekspresi gue
Abaikan ekspresi gue

See, segimana metallurgist harus cadas secara mental dan fisik?

Safety PTNNT Nomor Satu di Dunia

Berfoto di hadapan Haul Truck. Besaaar!
Berfoto di hadapan Haul Truck. Besaaar!
yeay!
yeay!

Hampir di setiap sudut proses, disediakan shower air dingin untuk mengguyur siapapun yang terciprat cairan material panas. Di sudut tertentu bahkan diberi pintu tambahan yang hanya bisa diakses oleh user tertentu saja. Selain itu, di jalanan town site, meski gak ada polisi tukang tilang, kalau kita melanggar aturan lalu lintas bahkan gak pakai seatbelt itu pasti ketahuan dan akan segera diinvestigasi! Mantep kan? Haha secara ini penting, kendaraan alat berat mondar mandir sana-sini. Berkendara menjadi salah satu hal yang paling krusial.

Konon, PT Newmont Nusa Tenggara ini merupakan perusahaan tambang yang safety nya nomor satu di dunia. Di dunia. Kalau harus dibandingkan dengan Newmont Australia saja, PTNNT ini safety nya masih lebih edan. Wow!

Indonesia Susah Maju Kalau Metallurgist-nya Gak Handal

Coba kita merenung, kenapa pertambangan dalam negeri dikuasai asing? Kalau kita dari zaman dulu sudah menguasai ilmu metalurgi dengan mantap,kira-kira hal tesebut kejadian gak ya?

Well, give applause kepada pemerintah kita yang sudah berani menetapkan undang-undang mineral dan batu bara, dimana bahan mentah tambang harus diolah dalam negeri terlebih dahulu sebelum akhirnya diekspor. Terlepas dari serba ketidaksiapannya, namun langkah berani ini perlu diapresiasi. Kehadiran UU tersebut memicu dibangunnya smelter dalam negeri. Maka meningkatlah kebtuhan metallurgist dalam negeri.

Bayangkan jika metallurgists kita tidak kompeten, di era pembangunan smelter dan masyarakat ekonomi Asean. Apakah posisi metallurgists dalam negeri harus diduduki oleh orang non-Indonesia?

Yuk semangat! Utmanya temen-temen gue sejurusan di kampus manapun, the nation is on our hand!! \m/ salam metal!

Tambang itu seksi!

Tulisan tambang mending dibawa santai aja ya, biar ga malesin hehe.

So, dalam pattern pikiran gue, ada tiga bidang yang menurut gue akan membuat si pelaku bidang tersebut terlihat seksi. Which means, bidangnya emang menggairahkan ya maksud gue (iya aja deh). Kalau diurut, pertama pertambangan, kedua otomotif/manufaktur, ketiga perkapalan/penerbangan.

And lucky me! Keisengan ikut blog competition tentang UU Mineral dan Batu Bara yang digelar PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) telah berhasil mengantarkan gue untuk mengenal hal terseksi urutan pertama. Jadi, para pemenang blog competition ini selanjutnya menjadi peserta Sustainable Mining Bootcamp batch IV. Bootcamp ini adalah kegiatan 8 hari untuk mengenal pertambangan di PTNNT dan kesosial-masyarakatan di area Sumbawa (Batu Hijau).

Jadi, 18-25 Januari ini gue di tengah hutan looh :3 Kota di tengah hutan lebih tepatnya, di Batu Hijau Sumbawa, Indonesia tengah 😀

Sempat Tertunda

Kompetisi ini sudah dimenangkan dari sejak Februari 2014, tapi kok baru terlaksana bootcampnya di Januari 2015?

Buat yang ngikutin perkembangan berita tentang nasionalisasi pengelolaan sumber daya alam sih pasti tahu. PTNNT ini sempat berhenti beroperasi karena ketiadaan ruang lagi untuk menimbu ore (mineral tambang). Kok bisa? Ini adalah efek pemberlakuan UU Minerba, dimana hasil tambang mineral dalam negeri harus diolah didalam negeri juga, sedangkan PTNNT biasanya selain mengolah pemurnian mineral di PT Smelting Gresik, tapi juga ekspor keluar negeri untuk diolah, karena memang limit jumlah konsentrat yang bisa diolah di dalam negeri terbatas.

Parahnya, pemberlakuan UU ini berefek juga pada beacukai ekspor konsentrat ini, kalau kemahalan dan ga ekonomis, buat apa capek-capek nambang? Lagian konsentrat ga bisa ditimbun lama-lama, gudang udah full juga. Akhirnya PTNNT sempat berhenti beroperasi dan gilanya ini sampai melumpuhkan perekonomian di area penduduk sekitar site town.

Sebab itu, alokasi waktu bootcamp kita ini diposisikan padamasa operasi sudah normal lagi. Kan biar ada mining experience nya.

Ngomong-ngomong soal Nasionalisasi

Sibuk koar-koar setuju dengan tindakan agresif pemerintah untuk menolak keras ekspor konsentrat ke luar negeri dan mengolahnya di dalam negeri, kira-kira bijak ga tuh? Logika anak TK nih ye, Kontrak karya yang sudah dibangun dari sejak tahun 1986, apakah seringan itu diganggu oleh aturan undang-undang yang tetiba nongol tahun 2009?

Catatan penting, gue ga dibayar newmont ya, ini emang pure pandangan objektif gue.

Satu, “Kapok lu! Nambang di negara gue, tegas nih pemerintah gue. Cabut lo sono!,” ujar para aktivis itu. Tahukah elu, kalau saham Newmont sendiri di PTNNT ini hanya sekitar +/- 25 %? Lalu +/- 25% nya lagi perusahaan apaaa gitu dari Jepang (lupa, maaf, ga beretik jurnalistik banget). Nah sisanya punya pihak-pihak Indonesia semua, mulai dari depkeu bahkan sampe bakrie punya saham disini.

Kegaksiapan nasionalisasi nampak jelas. Perusahaan tambang cuma dihimbau untuk mengolah mineral dalam negeri, bukan membangun smelter sendiri-sendiri. Ya dipikir aja, buat anak metalurgi nih ya, secara ekonomi teknik, bukannya bakal rugi? Tergantung sih emang, tapi hasil hitung-hitungan newmont dengen present worth dan annual cost yg udah di-range, akumulasi usia eksistensi pertambangan mereka di batu hijau sampai akhirnya proyek berkhir, tidak sebanding dengan waktu usia smelter yang dibangun untuk akhirnya balik modal.

Simpelnya, emang kondisi di sumbawa ga memungkinkan buat bangun smelter. Hal itu udah dikoar-koarkan ke pemerintah, tapi pemerintah abai. Lumayan noleh cuma pas newmont ngadu ke abitrase (huehehe kena lo). Barulah muncul kesepakatan untuk join jadi pemasok ke smelter yang akan dibangun freeport (ini karena kondisi freeport memungkinkan) dan diberi izin ekspor lagi sementara smelter dibangun.

Dua, “Ada kok perundang-undangannya, kalo segala kekayaan alam ini adalah untuk rakyat Indonesia. Lah faktanya?” Nah gue gak tau ya kondisinya kalo di perusahaan-perusahaan yang mengeruk kekayaan alam kita lainnya, tapi di newmont gue tau nih. Se per sekiannya dari penghasilannya gitu (lagi, ga beretik jurnalistik, ampun), harus dialokasikan untuk pengembangan masyarakat Indonesia. Kan tiap perusahaan ada program CSR nya tuh, nah lewat program CSR ini lah perusahaan melaksanakan kewajibannya. Dulu, katanya, sebelum proyek tambang Batu Hijau ini dimulai, warga di daerah Sumbawa Barat ini terbelakang bangeet, ekonomi mati. Tapi newmont hadir melakukan pembangunan mulai dari infrastruktur, pendidikan, dan masih banyak lagi (bisa dibuka di halaman web resmi ptnnt).

Yang nasionalis, yuk mikir solutif!

Mining Experience

Nah, agenda bootcamp paling pertama adalah mengenal area tambang. How it works dan lain-lain. Bisa dicek di twitter gue: @ilmibumi dengan hashtag #NewmontBootcamp 😀

Satu hal yang pengen gue paparkan disini (karna gak gue paparkan di twitter) adalah atmosfer pemandangan area tambang disini. Kok gue gak nemu om-om gendut buncit ya? Semuanya gahar, maco, dan maskulin banget! Haha makanannya sehat (all prepared karena town site ini ada di tengah hutan). Ada pusat-pusat olah raga, billiard, bar, masjid, dan klinik juga. Meskipun tambang itu keras dan menjenuhkan nampaknya, tapi mereka nampak enjoy. Btw, pada religius gitu nuansanya. Berada di pedalaman dan aktivitas monoton emang bikin melankolis yaa :3 mencari ketenangan bersama Tuhan kali ya. Overall luar biasa!

Sedikit gallery:

Welcome!
Welcome!
Welcome in Lombok! Untuk menuju Batu Hijau, kita harus naik boat dulu dari pelabuhan Kayangan ke Benete
Welcome in Lombok! Untuk menuju Batu Hijau, kita harus naik boat dulu dari pelabuhan Kayangan ke Benete
Excited syekalii menuju pit pertambangan!
Excited syekalii menuju pit pertambangan!
Dibriefing dulu sebelum turun~
Dibriefing dulu sebelum turun~
Makan siang dulu ya... makanannya terjaga sehat banget loh!
Makan siang dulu ya… makanannya terjaga sehat banget loh!
yeaah!!
yeaah!!
Penampakan pit yang kedalamannya -240 mRL dibawah permukaan laut. Btw, area hasil galian tambang di Batu Hijau ga akan dibiarin hitu saja loh, tapi bakal direklamasi sampai hijau kembali ;)
Penampakan pit yang kedalamannya -240 mRL dibawah permukaan laut. Btw, area hasil galian tambang di Batu Hijau ga akan dibiarin hitu saja loh, tapi bakal direklamasi sampai hijau kembali 😉

All pictures ada yang captured by me, by admin @newmontid, dan kak dzul.

Memoar 20 Tahun

Ini saya, sedang duduk makan french fries sambil memangku tas backpack eiger kesayangan. Pukul 23.25 WIB, 17 Januari 2015 di bar Lobby Airport Cafe, Bandara Juanda Surabaya, sendirian. Jari jemari asyik menari diatas keyboard lipat, mengganti peran keyboard laptop yang ketumpahan bumbu sate padang kapan hari itu. Seharusnya sibuk membaca Study Guide bertopik Journalistic Freedom untuk selanjutnya membuat sebuah position paper, tapi hati ini gatal ingin membeberkan semuanya. Siap-siap, semuanya.

Sebelum pagi, sebelum subuh, dan sebelum pesawat tujuan Lombok take off. Biarkan jemari saya terus menari.

Lahir di Bandung 22 Januari 1995. Belum masuk tanggal 22 pun, awal tahun 2015 serasa mencekik. Januari selalu menjadi bulan yang paling membikin penasaran. Tapi tidak kali ini. Saat-saat ini adalah turning point hidup saya yang pergeserannya luar biasa, hampir 180 derajat bisa saya bilang. Momen paling melankolis yang pernah ada. Saya harap, ini momen terburuk dalam hidup saya, terburuk dari yang terburuk. Supaya tidak pernah saya temui lagi momen yang lebih buruk dari ini.

Tidak salah jika psikologi sepakat, kalau masalah itu sesungguhnya hanya ada dalam otak manusia saja, dan hampir tidak pernah betul-betul terjadi. Dari sebuah kecemasan saja, katanya psikologi, hanya 2% kecemasan yang mungkin akan benar-benar terjadi. Ah, basi, tetap saja tidak bisa mereduksi kegelisahan saya.

Memang betul, masalah itu tidak benar-benar ada. Atau mungkin belum. Tapi Tuhan, tolong, usia 20 tahun ini masalah buatku. Masalah refleksi hidup. Saya mau kemana? Kenapa rencana-rencana terdahulu yang pernah saya susun sedemikian cantik itu nampak seperti sampah sekarang ini? Kenapa saya kehilangan semangat yang menggebu-gebu itu? Kenapa ayat-ayatMu mengalami kemacetan dalam implementasi yang menenangkan buatku ya Allah? Kenapa upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan hidup sebagai khalifah fiil ard ini begitu banyak hitamnya daripada putihnya ya Allah? Kenapa belakangan aku sangat iri kepada saudaraku yang telah Engkau panggil di usia belia? Seperti apa selayaknya aku menunggu mati?

Kenapa

Besyukur, kegalauan ini masih dikeetahui sebabnya. Ini akumulasi tentang penasaran yang hampir habis. Tentang ambisi yang sempat tidak terkontrol, keluar track dari goal sesungguhnya, lantas tersadarkan oleh variabel yang tidak terseimbangkan. Gott sei dank!

Selama 20 tahun, ada banyak catatan yang terceklis dan terlewati. Komposisi dan keberpengaruhan dari setiap pencapaian berhasil maupun gagal nampak begitu harmonis saling menyempurnakan. Dari sini, berangkatlah aku semakin percaya akan Dia sebagai Perencana terbaik.

Beberapa Catatan Lalu

Sejak kecil, saya tidak pernah bermimpi untuk pergi ke luar negeri selama satu tahun menjadi siswa yang ditukar. Tidak pernah. Saya hanya berpikir, bahwa hal itu memang akan terjadi pada saya, bukan bermimpi. Memasuki SMP, saya bahkan sempat lupa tentang pikiran tersebut. Tapi anehnya, kesempatan itu datang begitu saja, bahkan melalui kawan facebook yang tidak pernah saya temui secara langsung.

Ilmi Mayuni Bumi, AFS Participant to Switzerland 2011-2012.

Berkebaya di Kota Bern, Swiss.
Berkebaya di Kota Bern, Swiss.
Salju pertama. Rikon-Zurich, Swiss.
Salju pertama. Rikon-Zurich, Swiss.
Skiing pertama. Di Elm-Glarus, Swiss.
Skiing pertama. Di Elm-Glarus, Swiss.
Trip Swiss-Italian part, Lugano.
Trip Swiss-Italian part, Lugano.
With Other Exchange Students!
With Other Exchange Students!

This is the biggest event in my life. Saya sangat yakin, saya hari ini tidak akan ada tanpa pengalaman menjadi siswa AFS. Secara pengalaman, perjalanan spiritual saya dan penemuan jati diri terjadi dalam rentan waktu 11 bulan di negeri Eropa sana. Secara track record, title AFSer telah banyak meloloskan saya kepada berbagai macam kesempatan pasca kepulangan bahkan hingga kuliah sekarang ini. Alhamdulillah, apa yang Allah siapkan untuk satu individu kecil ini?

Saya selalu berpikir, saya akan berkuliah di Bandung atau di luar negeri. Bukan di Surabaya. Meski telah melalui usaha luar biasa, tapi tangan Tuhan tidak mungkin lepas, itu yang saya yakini. Apa lagi ini menyangkut pintu jalan hidup, tentang bidang yang akan digeluti, lingkungan yang akan membentuk, orang-orang yang akan dipertemukan dengan kita, dan masih banyak lagi life-changing variable lainnya. Hingga saya berakhir pada sebuah penerimaan, bahwa ada banyak alasan ditempatkannya saya di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Jurusan Teknik Material dan Metalurgi.

Saya terus mencari alasan itu, yang bisa saja terjawab sekarang, atau nanti berpuluh tahun lagi. Dalam rentang waktu 17 bulan, ini yang sudah saya lakukan di Kampus Perjuangan:

Become part of Himpunan Mahasiswa Teknik Material dan Matelurgi, HMMT.
Become part of Himpunan Mahasiswa Teknik Material dan Matelurgi, HMMT.
Having great family!
Having great family!
MT 15 family!
MT 15 family!
Paticipating on Young Engineers and Scientists Summit 2014 as Public Reations.
Paticipating on Young Engineers and Scientists Summit 2014 as Public Reations.
Tidak melupakan jas merah! @ HOS Tjokroaminoto House
Tidak melupakan jas merah! @ HOS Tjokroaminoto House
Having a great team also family, ITS Online :)
Having a great team also family, ITS Online 🙂
Doing social project ;)
Doing social project 😉
Become modertor at a press conference for the very first time
Become modertor at a press conference for the very first time
Screaming freely as unplanned MC
Screaming freely as unplanned MC
again
again
Knowing Nannotechnolgy and became part of Nano World Indonesia
Knowing Nannotechnolgy and became part of Nano World Indonesia
Hidup Mahasiswa!
Hidup Mahasiswa!

Catatan Hari ini

Hal terdekat yang akan saya temui dalam beberapa jam dari saat saya menulis ini adalah berpetualang ke Batu Hijau, Sumbawa. Memenangkan kompetisi blog tentang UU Mineral dan Batu bara mengantarkan saya kesana untuk melihat langsung lokasi pertambangan PT Newmont Nusa Tenggara dan kehidupan masyarakat disana. Siap-siap!

Exciting sekaligus bingung, karena saya meninggalkan banyak catatan penting lainnya untuk menyipip hiruk pikuk kehidupan tambang di PTNNT. Beberapa jam lalu, masih di bandara, saya tidak sendiri. Karena saya ditemani partner sekaligus kawan project bisnis yang sudah berjalan empat bulan. Kami masih harus rapat. Sebagai koordinator proyek, saya harus mengkondisikan manajerial proyek dalam keadaan baik ketika saya tinggalkan. Sebagai penerima beasiswa Astra 1st Scholarship Program dari PT Astra International Tbk, kami memang diberi kesempatan untuk menjadi business consultant sungguhan untuk salah satu anak perusahan Astra. Menjadi salah satu hal yang sangat challenging buat saya!

Fantasix Team, Astra workshop Program
Fantasix Team, Astra workshop Program
Again, fantasix
Again, fantasix
My Astra people
Some of my Astra people

Tak kalah menantang dan penting, catatan lain yang saya tinggalkan adalah segala kepentingan lomba simulasi sidang PBB terbesar, tertua, dan paling prestisius itu. I am part of ITS Delegation for Harvard National Model United Nations (HNMUN) 2015, di Boston Amerika. Lomba yang akan dihelat di salah satu hotel luxurius, Marriott Copley Palace ini menguras banyak tenaga dan pikiran. Mulai dari latihan, komitmen, sampai pencarian dana. Meski visa sudah di tangan dan persiapan terus kami lakoni, namun masih banyak upaya yang harus kita lakukan agar kita benar-benar berangkat ke negeri Paman Sam dan berlomba sebagai delegasi pertama Kampus Perjuangan di lomba paling bergengsi itu. However, till today, I ve learned a looot from them, from our activities!

ITS Delegation for Harvard National Model United Nations 2015
ITS Delegation for Harvard National Model United Nations 2015
ITS Delegation for Harvard National Model United Nations 2015
ITS Delegation for Harvard National Model United Nations 2015
My partner at the same council: Social, Humanitarian, and Cultural Committee
My partner at the same council: Social, Humanitarian, and Cultural Committee

Tidak berhenti sampai disitu, alhamdulillah catatan menggalaukan lainnya datang dari Italia. Sempat ditolak tahun lalu, kini kesempatan itu seperti datang dengan ringgannya. Saya dinyatakan lolos sebagai jurnalis untuk RomeMUN dan termasuk kedalam kandidat penerima total scholarship. Sayang, scholarship yang katanya total itu tidak men-cover biaya visa dan tiket pesawat. Haruskah saya melepas kesempatan untuk kembali ke Eropa? Lalu makna pelangi di Eropa yang sempat menampakkan diri pada saya itu apa? (Konon jika pernah melihat pelangi di Eropa, maka kita akan kembali kesana hehe)

E-mail yang justru membuat cemberut bingung
E-mail yang justru membuat cemberut bingung

Catatan lainnya, sebagai staff Kementerian Kebijakan Publik BEM ITS, Kedirjenan Agitasi dan Propaganda, saya merupakan penanggungjawab aksi. Yang berarti, saya akan bertanggung jawab terhadap perencanaan dan pelaksanaan aksi yang akan ditempuh oleh KM ITS. Challengging bukan? Geregetin tapi bikin gemeter.

DSC_9200 edit

Profesi sampingan sebagai Reporter kampus pun telah menembuskan saya sebagai bagian dari tim penulisan buku “25 Ilmuwan Indonesia yang Mendunia”. Besutan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) bersama Nano World Indonesia dan Masyarakat Nano Indonesia. Tanggung jawab lain yang menunggu untuk diusaikan dengan gemilang.

Si pelaku pers
Si pelaku pers.

Akademik. Setelah mengalami kemerosotan luar biasa pada semester pembuka tahap sarjana, saya mendampat tamparan keras. Kegalauan dimulai. Saya ini mau jadi apa? Apa yang mau saya tonjolkan? Alhasil daripada galau, saya lebih memilih untuk memantapkan squad akademik yang baik dan pencapaian yang tidak biasa.

Begitu banyak catatan anugerah maupun godaan langsung/tak langsung yang harus senantiasa ditafakuri. Agar tidak keluar jalur dan salan orientasi hidup.

Tidak menyangka, Ilmi, seorang anak yang semasa kecilnya hobi menangis kencang sampai satu RT kedengaran ini segera menginjak usia 20 tahun. Bersyukur atas kegalauan yang menimpa, rasanya lebih baik galau daripada banyak tertawa tanpa sempat mentafakuri apa yang sudah diberiNya.

Karena inti dari berkuliah (dan mengarungi hidup) adalah mau bekerja keras dan berdamai dengan kenyataan. (Ilmi Mayuni Bumi, 2015)