Memoar 20 Tahun

Ini saya, sedang duduk makan french fries sambil memangku tas backpack eiger kesayangan. Pukul 23.25 WIB, 17 Januari 2015 di bar Lobby Airport Cafe, Bandara Juanda Surabaya, sendirian. Jari jemari asyik menari diatas keyboard lipat, mengganti peran keyboard laptop yang ketumpahan bumbu sate padang kapan hari itu. Seharusnya sibuk membaca Study Guide bertopik Journalistic Freedom untuk selanjutnya membuat sebuah position paper, tapi hati ini gatal ingin membeberkan semuanya. Siap-siap, semuanya.

Sebelum pagi, sebelum subuh, dan sebelum pesawat tujuan Lombok take off. Biarkan jemari saya terus menari.

Lahir di Bandung 22 Januari 1995. Belum masuk tanggal 22 pun, awal tahun 2015 serasa mencekik. Januari selalu menjadi bulan yang paling membikin penasaran. Tapi tidak kali ini. Saat-saat ini adalah turning point hidup saya yang pergeserannya luar biasa, hampir 180 derajat bisa saya bilang. Momen paling melankolis yang pernah ada. Saya harap, ini momen terburuk dalam hidup saya, terburuk dari yang terburuk. Supaya tidak pernah saya temui lagi momen yang lebih buruk dari ini.

Tidak salah jika psikologi sepakat, kalau masalah itu sesungguhnya hanya ada dalam otak manusia saja, dan hampir tidak pernah betul-betul terjadi. Dari sebuah kecemasan saja, katanya psikologi, hanya 2% kecemasan yang mungkin akan benar-benar terjadi. Ah, basi, tetap saja tidak bisa mereduksi kegelisahan saya.

Memang betul, masalah itu tidak benar-benar ada. Atau mungkin belum. Tapi Tuhan, tolong, usia 20 tahun ini masalah buatku. Masalah refleksi hidup. Saya mau kemana? Kenapa rencana-rencana terdahulu yang pernah saya susun sedemikian cantik itu nampak seperti sampah sekarang ini? Kenapa saya kehilangan semangat yang menggebu-gebu itu? Kenapa ayat-ayatMu mengalami kemacetan dalam implementasi yang menenangkan buatku ya Allah? Kenapa upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan hidup sebagai khalifah fiil ard ini begitu banyak hitamnya daripada putihnya ya Allah? Kenapa belakangan aku sangat iri kepada saudaraku yang telah Engkau panggil di usia belia? Seperti apa selayaknya aku menunggu mati?

Kenapa

Besyukur, kegalauan ini masih dikeetahui sebabnya. Ini akumulasi tentang penasaran yang hampir habis. Tentang ambisi yang sempat tidak terkontrol, keluar track dari goal sesungguhnya, lantas tersadarkan oleh variabel yang tidak terseimbangkan. Gott sei dank!

Selama 20 tahun, ada banyak catatan yang terceklis dan terlewati. Komposisi dan keberpengaruhan dari setiap pencapaian berhasil maupun gagal nampak begitu harmonis saling menyempurnakan. Dari sini, berangkatlah aku semakin percaya akan Dia sebagai Perencana terbaik.

Beberapa Catatan Lalu

Sejak kecil, saya tidak pernah bermimpi untuk pergi ke luar negeri selama satu tahun menjadi siswa yang ditukar. Tidak pernah. Saya hanya berpikir, bahwa hal itu memang akan terjadi pada saya, bukan bermimpi. Memasuki SMP, saya bahkan sempat lupa tentang pikiran tersebut. Tapi anehnya, kesempatan itu datang begitu saja, bahkan melalui kawan facebook yang tidak pernah saya temui secara langsung.

Ilmi Mayuni Bumi, AFS Participant to Switzerland 2011-2012.

Berkebaya di Kota Bern, Swiss.
Berkebaya di Kota Bern, Swiss.
Salju pertama. Rikon-Zurich, Swiss.
Salju pertama. Rikon-Zurich, Swiss.
Skiing pertama. Di Elm-Glarus, Swiss.
Skiing pertama. Di Elm-Glarus, Swiss.
Trip Swiss-Italian part, Lugano.
Trip Swiss-Italian part, Lugano.
With Other Exchange Students!
With Other Exchange Students!

This is the biggest event in my life. Saya sangat yakin, saya hari ini tidak akan ada tanpa pengalaman menjadi siswa AFS. Secara pengalaman, perjalanan spiritual saya dan penemuan jati diri terjadi dalam rentan waktu 11 bulan di negeri Eropa sana. Secara track record, title AFSer telah banyak meloloskan saya kepada berbagai macam kesempatan pasca kepulangan bahkan hingga kuliah sekarang ini. Alhamdulillah, apa yang Allah siapkan untuk satu individu kecil ini?

Saya selalu berpikir, saya akan berkuliah di Bandung atau di luar negeri. Bukan di Surabaya. Meski telah melalui usaha luar biasa, tapi tangan Tuhan tidak mungkin lepas, itu yang saya yakini. Apa lagi ini menyangkut pintu jalan hidup, tentang bidang yang akan digeluti, lingkungan yang akan membentuk, orang-orang yang akan dipertemukan dengan kita, dan masih banyak lagi life-changing variable lainnya. Hingga saya berakhir pada sebuah penerimaan, bahwa ada banyak alasan ditempatkannya saya di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Jurusan Teknik Material dan Metalurgi.

Saya terus mencari alasan itu, yang bisa saja terjawab sekarang, atau nanti berpuluh tahun lagi. Dalam rentang waktu 17 bulan, ini yang sudah saya lakukan di Kampus Perjuangan:

Become part of Himpunan Mahasiswa Teknik Material dan Matelurgi, HMMT.
Become part of Himpunan Mahasiswa Teknik Material dan Matelurgi, HMMT.
Having great family!
Having great family!
MT 15 family!
MT 15 family!
Paticipating on Young Engineers and Scientists Summit 2014 as Public Reations.
Paticipating on Young Engineers and Scientists Summit 2014 as Public Reations.
Tidak melupakan jas merah! @ HOS Tjokroaminoto House
Tidak melupakan jas merah! @ HOS Tjokroaminoto House
Having a great team also family, ITS Online :)
Having a great team also family, ITS Online 🙂
Doing social project ;)
Doing social project 😉
Become modertor at a press conference for the very first time
Become modertor at a press conference for the very first time
Screaming freely as unplanned MC
Screaming freely as unplanned MC
again
again
Knowing Nannotechnolgy and became part of Nano World Indonesia
Knowing Nannotechnolgy and became part of Nano World Indonesia
Hidup Mahasiswa!
Hidup Mahasiswa!

Catatan Hari ini

Hal terdekat yang akan saya temui dalam beberapa jam dari saat saya menulis ini adalah berpetualang ke Batu Hijau, Sumbawa. Memenangkan kompetisi blog tentang UU Mineral dan Batu bara mengantarkan saya kesana untuk melihat langsung lokasi pertambangan PT Newmont Nusa Tenggara dan kehidupan masyarakat disana. Siap-siap!

Exciting sekaligus bingung, karena saya meninggalkan banyak catatan penting lainnya untuk menyipip hiruk pikuk kehidupan tambang di PTNNT. Beberapa jam lalu, masih di bandara, saya tidak sendiri. Karena saya ditemani partner sekaligus kawan project bisnis yang sudah berjalan empat bulan. Kami masih harus rapat. Sebagai koordinator proyek, saya harus mengkondisikan manajerial proyek dalam keadaan baik ketika saya tinggalkan. Sebagai penerima beasiswa Astra 1st Scholarship Program dari PT Astra International Tbk, kami memang diberi kesempatan untuk menjadi business consultant sungguhan untuk salah satu anak perusahan Astra. Menjadi salah satu hal yang sangat challenging buat saya!

Fantasix Team, Astra workshop Program
Fantasix Team, Astra workshop Program
Again, fantasix
Again, fantasix
My Astra people
Some of my Astra people

Tak kalah menantang dan penting, catatan lain yang saya tinggalkan adalah segala kepentingan lomba simulasi sidang PBB terbesar, tertua, dan paling prestisius itu. I am part of ITS Delegation for Harvard National Model United Nations (HNMUN) 2015, di Boston Amerika. Lomba yang akan dihelat di salah satu hotel luxurius, Marriott Copley Palace ini menguras banyak tenaga dan pikiran. Mulai dari latihan, komitmen, sampai pencarian dana. Meski visa sudah di tangan dan persiapan terus kami lakoni, namun masih banyak upaya yang harus kita lakukan agar kita benar-benar berangkat ke negeri Paman Sam dan berlomba sebagai delegasi pertama Kampus Perjuangan di lomba paling bergengsi itu. However, till today, I ve learned a looot from them, from our activities!

ITS Delegation for Harvard National Model United Nations 2015
ITS Delegation for Harvard National Model United Nations 2015
ITS Delegation for Harvard National Model United Nations 2015
ITS Delegation for Harvard National Model United Nations 2015
My partner at the same council: Social, Humanitarian, and Cultural Committee
My partner at the same council: Social, Humanitarian, and Cultural Committee

Tidak berhenti sampai disitu, alhamdulillah catatan menggalaukan lainnya datang dari Italia. Sempat ditolak tahun lalu, kini kesempatan itu seperti datang dengan ringgannya. Saya dinyatakan lolos sebagai jurnalis untuk RomeMUN dan termasuk kedalam kandidat penerima total scholarship. Sayang, scholarship yang katanya total itu tidak men-cover biaya visa dan tiket pesawat. Haruskah saya melepas kesempatan untuk kembali ke Eropa? Lalu makna pelangi di Eropa yang sempat menampakkan diri pada saya itu apa? (Konon jika pernah melihat pelangi di Eropa, maka kita akan kembali kesana hehe)

E-mail yang justru membuat cemberut bingung
E-mail yang justru membuat cemberut bingung

Catatan lainnya, sebagai staff Kementerian Kebijakan Publik BEM ITS, Kedirjenan Agitasi dan Propaganda, saya merupakan penanggungjawab aksi. Yang berarti, saya akan bertanggung jawab terhadap perencanaan dan pelaksanaan aksi yang akan ditempuh oleh KM ITS. Challengging bukan? Geregetin tapi bikin gemeter.

DSC_9200 edit

Profesi sampingan sebagai Reporter kampus pun telah menembuskan saya sebagai bagian dari tim penulisan buku “25 Ilmuwan Indonesia yang Mendunia”. Besutan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) bersama Nano World Indonesia dan Masyarakat Nano Indonesia. Tanggung jawab lain yang menunggu untuk diusaikan dengan gemilang.

Si pelaku pers
Si pelaku pers.

Akademik. Setelah mengalami kemerosotan luar biasa pada semester pembuka tahap sarjana, saya mendampat tamparan keras. Kegalauan dimulai. Saya ini mau jadi apa? Apa yang mau saya tonjolkan? Alhasil daripada galau, saya lebih memilih untuk memantapkan squad akademik yang baik dan pencapaian yang tidak biasa.

Begitu banyak catatan anugerah maupun godaan langsung/tak langsung yang harus senantiasa ditafakuri. Agar tidak keluar jalur dan salan orientasi hidup.

Tidak menyangka, Ilmi, seorang anak yang semasa kecilnya hobi menangis kencang sampai satu RT kedengaran ini segera menginjak usia 20 tahun. Bersyukur atas kegalauan yang menimpa, rasanya lebih baik galau daripada banyak tertawa tanpa sempat mentafakuri apa yang sudah diberiNya.

Karena inti dari berkuliah (dan mengarungi hidup) adalah mau bekerja keras dan berdamai dengan kenyataan. (Ilmi Mayuni Bumi, 2015)

Advertisements

2 thoughts on “Memoar 20 Tahun”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s