Terlalu Sibuk Menuntut Kesetaraan

Dibanding 8 Maret (Hari Perempuan Internasional), rasanya 21 April lebih melekat bagi perempuan Indonesia. 21 April menjadi sedemikian penting karena dikatakan sebagai Hari Kartini, tokoh yang memperjuangkan hak-hak perempuan di Indonesia. Terlepas dari kontroversi kelayakan klaim yang jatuh pada Kartini (bukan pada tokoh pejuang perempuan lainnya) ataupun isu kejanggalan soal bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang, setidaknya kemunculan peringatan tentang perempuan pada tanggal 21 April dan 8 Maret ini menunjukkan bahwa perjuangan kaum feminis tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di belahan bumi lainnya.

Emansipasi banyak didengungkan pada hari ini. Menurut KBBI, emansipasi adalah pembebasan dari perbudakan, atau dalam kata lain persamaan hak antara kaum wanita dan kaum pria pada berbagai aspek kehidupan masyarakat. Di belahan bumi lain, masih di sekitaran tahun 1960an, pergerakan perempuan yang menamai diri sebagai kaum feminis pun semakin menjadi. Bekas sejarah tersebut dibuktikan dengan penetapan hari khusus Perempuan Internasional dan hari Kartini di Indonesia. Pertanyaannya adalah, kenapa bisa terjadi emansipasi? Mengapa sejarah mencatat adanya tuntutan para perempuan terhadap sebuah kesetaraan? Jika diilhami, istilah kesetaraan hanya akan muncul jika terjadi ketimpangan atau kata lain yang bersifat negasi dari kesetaraan.

Mari Kita Menengok Sejarah

Pada zaman Yunani Kuno, martabat perempuan sangat direndahkan. Filosof Demosthenes berpendapat bahwa perempuan hanya berfungsi untuk melahirkan anak. Aristoteles pun menganggap perempuan sederajat dengan hamba sahaya. Tak hanya itu, Plato menilai, kehormatan lelaki ada pada kemampuannya memerintah, sedangkan kehormatan perempuan menurutnya ada pada kemampuannya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sederhana dan hina.

Beralih ke sudut lain, pada tahun 586 M, sempat tercetus pikiran dari salah seorang agamawan Perancis mengenai kebolehan seorang perempuan dalam menyembah Tuhan dan statusnya yang dapat masuk surga atau tidak. Pemikiran-pemikiran tersebut berakhir pada sebuah kesimpulan, bahwa perempuan memiliki jiwa namun tidak kekal. Perempuan dianggap hanya bertugas untuk melayani lelaki dan bebas diperjualbelikan. Begitupun sepanjang zaman pra-Islam, posisi perempuan hanya sampai pada posisi pelayan kaum lelaki. Pada zaman Jahiliyah (kebodohan), para orang tua yang memiliki anak perempuan akan menguburnya hidup-hidup karena dianggap sebagai aib.

Melihat catatan sejarah yang seperti itu, tak aneh jika muncul pergerakan kaum feminis untuk menuntut kesetaraan, karena telah terjadi ketimpangan bahkan penghinaan. Sedangkan parameter kesetaraan itu sendiri berbeda-beda seiring perbedaan budaya di berbagai belahan bumi. Hal itu bermakna, bahwa parameter kesetaraan ini berkiblat pada kondisi sosial, politik, norma-norma, dan ekonomi yang berlaku di setiap lapisan peradaban berbeda. Seiring berjalannya waktu, zaman telah membrei kondisi berbeda dengan masa kelam perempuan di masa lalu, zaman telah memiki daya tawar dan opsi lebih bagi kaum perempuan. Meski demikian, pergerakan kaum feminis hingga hari ini masih terbilang cukup agresif. Namun pertanyaannya, kesetaraan seperti apa lagi yang ingin dicapai? Kaum feminis banyak menuntut kesetaraan yang bersifat kultural. Sejauh apa relevansi pergerakan perempuan seperti ini sebetulnya?

Eksistensi Perempuan

Eksistensi atau keberadaan dipastikan memiliki makna. Setidaknya Tuhan menciptakan benda sekecil apapun melainkan untuk suatu fungsi (pernyataan ini tidak berlaku untuk kaum atheis). Secara lahiriah, sains telah membuktikan bahwa struktur fisik lelaki dan perempuan berbeda. Tak terkecuali struktur otak dan kondisi hormonalnya yang sudah barang pasti mempengaruhi pola perilaku seorang individu. Jika diuraikan, Michael Gurian dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa perempuan:

  1. Memiliki corpus callosum atau penghubung jaringan antarbagian otak pada perempuan rata-rata lebih besar 25% pada saat akil baligh. Ini berefek pada terjadinya komunikasi saling-silang dalam otak yang membuat perempuan kerap berkomunikasi sendiri.
  2. Memiliki konektor lebih kuat dalam lobes atau salah satu bagian dari otak. Manfaat konektor ini memungkinkan perempuan lebih terampil mengerjakan tugas-tugas tertulis.
  3. Memiliki hippocampus atau area penyimpan memori dalam otak yang lebih besar. Tak aneh jika perempuan lebih mudah dalam mempelajari bahasa.
  4. Memiliki prefrontal cortex yang berkembang lebih awal dan lebih aktif, sehingga menjadikan perempuan cenderung tidak impulsif.
  5. Lebih sering menggunakan area korteks sehingga perempuan lebih bisa mengatur emosi dan bicaranya.
  6. Aliran volume darah yang mengalir ke otak perempuan 15% lebih banyak dari otak laki-laki, hal itu membuat perempuan lebih bisa mengatur aktivitas kejiawaannya.

Sedangkan otak laki-laki dikatakan lebih unggul dalam matematika dan fisika, terutama subyek-subyek abstrak. Laki-laki cenderung bersifat impulsif, bukan tipikal pendengar yang baik, dan lebih tertarik pada permainan-permainan.

Islam Tertuduh, Islam Menjawab

Jauh sebelum hasil penelitian sains dipublikasikan, Islam sudah membagi peran laki-laki dan perempuan serta mengklaim bahwa aturan-aturannya penuh dengan pemuliaan terhadap perempuan. Jika harus dibandingkan dengan kehidupan pra-Islam, perempuan dalam konsep kehidupan yang ditawarkan Islam memang dapat dikatakan lebih mulia. Namun kenyataannya, Islam masih dikatakan sebagai agama yang tidak memberikan Hak Asasi Perempuan (HPA). Penilaian tersebut tidak lepas dari aturan-aturan Islam seperti dalam kepemimpinan, perempuan tidak boleh memimpin, dalm hak waris hanya mendapat setengah dari bagian laki-laki, dalam kesaksian pun hanya dianggap setengah dari kesaksian laki-laki. Salah satu hadits yang menuai banyak polemik adalah hadits Muttafaqun ‘alaih, HR Bukhari no.1462 dan Muslim no.79:

“Aku tidak pernah melihat orang kurang akal dan agamanya paling bisa mengalahkan akal lelaki yang kokoh daripada salah seorang kalian (kaum wanita).”

Syaikh ‘Abdul Kairm menerangkan, dalam tafsir tentang makna kurang akal dan agama telah diterangkan dalam hadits tersebut. Bahwa yang dimaksud kurang akal adalah karena persaksian wanita itu separuh dari persaksian laki-laki (sebagaimana tertera pada QS. Al-baqarah: 282).

Pertanyaannya, apakah akal perempuan terdesain sedemikian rupa untuk selamanya berada dibawah derajat laki-laki dan tidak akan pernah setara? Atau dimaksudkan untuk tujuan lainnya? Padahal jika diteliti hasil penelitian secara ilmiah dan capaian-capaian perempuan di zaman ini, hampir tidak bisa dibedakan bahkan tak jarang melebihi laki-laki. Jika ditelaah kembali, masalah akal ini tidak sesederhana menyinggung soal daya pikir dan kecerdasan saja. Namun lebih kepada kadar kesaksian (ingatan dan lupa). Lupa atau ingat ini adalah hal yang berkaitan dengan data empirik serta pengalaman, sama antara laki-laki atau perempuan. Akan tetapi perempuan memiliki kekhususan, dimana perempuan lebih banyak mengalami keadaan berbeda-beda. Terdapat banyak siklus hidup pada perempuan yang berkaitan dengan tubuh dan perasannya yang keduanya sangat berpengaruh pada proses berpikir perempuan. Boleh dikatakan, berdasarkan hal ini, Islam menjawabnya dengan pembagian peran dan menghukumi perempuan sesuai tabiat dan kehidupan kesehariannya dalam masyarakat islami secara lebih khusus.

Pergerakan Perempuan: Membangun Masyarakat yang Madani

Setiap zaman memang memiliki ceritanya masing-masing. Era tahun 60-an sudah berlalu, demikian pun dengan sejarah yang mencatat pergerakan-pergerakan perempuan pada masanya. Kini kita dihadapkan dengan zaman yang kian dinamis, entah dari segi sosial, politik, dan ekonomi. Perempuan pun memiliki lebih banyak opsi di abad 21 ini. Sejak dulu, tidak bisa ditampikkan bahwa manusia mendambakan kehidupan yang damai dan sejahtera. Masyarakat yang madani diidam-idamkan, segala bentuk sistem dan usaha tak struktural pun ditempuh demi mencapai sebuah peradaban sejahtera.

Mari kita berpikir sederhana, karena pergerakan tidak harus selalu diawali dengan pemikiran-pemikiran yang kompleks. Suatu peradaban terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, bermasyarakat dapat berarti adanya interaksi bersama antar rumah tangga. Keluarga memuat bebrapa idividu yang merupakan komponen terkecil dari masyarakat. Nilai-nilai luhur yang dapat berlaku di masyarakat (sebagai syarat menuju masyarakat yang madani) dibawa oleh individu. Maka dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah wadah terdekat dan paling strategis dalam mebangun peradaban sejahtera dengan masyarakat yang madani. Pendidikan dalam keluarga melahirkan individu-individu yang beradab, tanpa peduli tantangan yang akan terjadi di arena kemasyarakatan yang lebih luas, namun dengan individu yang berprinsip, hal ini bukan tidak mungkin terjadi.

Perempuan terhukum secara sosial maupun agama, rata-rata untuk berada di rumah dan mendidik anak-anak. Dikolerasikan dengan fitrah bahwa perempuan harus mengandung yang berefek pada intuisi lebih terhadap anak yang dilahirkannya. Mencoba merendahkan hati dan menerima fenomena ini, tidakkah kita melihat bahwa perempuan ini sebetulnya sudah memiliki wadah pergerakannya sendiri?

Bahwa perempuan dikatakan sebagai racun dunia. Laki-laki bisa sukses dan bisa hancur karena perempuan. Individu-individu hebat, pemimpin-pemimpin bijak hanya akan lahir dari rahim perempuan cerdas dan bertanggung jawab (sebab mengapa pendidikan tinggi pantas dienyam kaum perempuan). Bahwa perempuan sesungguhnya sudah memiliki senapan jitu, hanya tinggal menambah amunisinya saja. Dalam menambah amunisi inilah kaum perempuan kiranya bijak memilih alur yang tidak membuyarkan fokus akhirnya. Bahwa rupanya wadah pergerakan perempuan ini sudah eksis bahkan sangat strategis. Sedemikian jelas ranah-ranah kepemimpinan khusus perempuan ini, dengan karakterisitk yang hanya dimiliki oleh kita, betapa besar dampak yang dapat dihasilkan.

Kepada Srikandi-srikandi Indonesia.. Sebesar itu kekuatan kita, dan kita masih menuntut kesetaraan?

Setidaknya zaman sudah memberi opsi, hanya tinggal memilih peran yang tidak membohongi dasar hati nurani dan naluri kewanitaan. Selamat 21 April, Selamat Hari Kartini!

__________________________________________

Catatan: penulis menulis berdasarkan riset dan beberapa pandangan pribadi. Penulis mengambil contoh kasus dalam Islam karena penulis menganut agama Islam.

Ketahuilah, Sejak Lama Aku Mengagumimu

Sudah hampir dua tahun menjadi warga kampus perjuangan, sudah hampir selama itu pula aku mengagumimu. Melihatmu dari jauh, terlalu terpesona aku. Semakin lama aku melihatmu, semakin banyak lah pertanyaan yang muncul dalam benakku, semakin aku tidak mengerti pula kenapa Tuhan menghadirkan sosok sepertimu. Terdengar picisan memang. Tapi aku betul-betul tidak bisa membendung derai air mata saat menulis ini. Tangan yang lemah dan bergetar ini pun seketika menjadi kuat ketika menyentuh keyboard. Tak tahan ingin kuluapkan dalam tulisan, karena aku tidak akan sanggup jika harus mengungkapkannya pada orang lain.

Sepertinya warna merah adalah warna favoritmu. Tidak pernah aku melihatmu mengenakan pakaian selain warna merah itu. Tas cantikmu yang besar menjadi aksesori lengkapmu setiap harinya. Entah kenapa, semakin siang, isi tasmu semakin penuh saja, membuatku semakin terpesona. Setiap kali aku tanyakan pada orang-orang sekitar tentang kamu, mereka hanya bilang, “oh dia, sudah biasa.” Sedangkan aku hampir tidak bisa mengerti semua orang, kenapa mereka hanya menanggapi sosokmu sesederhana itu. Padahal aku diam-diam terbelalak melihatmu.

Selama tiga semester, kita tidak pernah bicara. Setiap kali aku melihatmu, setiap itu pula aku sedang terburu-buru. Sayang sekali. Sesekali aku ingin menyapa, tapi aku selalu bingung bagaimana. Tak ayal, hanya senyum yang bisa aku beri padamu selama kurun waktu sekian semester itu.

Meski begitu, kamu mengajariku banyak hal. BANYAK SEKALI.

Kamu mengajariku untuk berani melangkah dengan pasti. Tidak peduli paku, tidak peduli pecahan kaca, dengan mantap kamu melangkah. Anehnya, tidak pernah aku menemuimu mengenakan alas tubuh. Semestinya di usia yang sedewasa itu, kamu sudah belajar banyak pelajaran hidup. Apakah kamu tidak pernah dihinggapi paku? Entahlah. Ini hal pertama yang membuatku kagum, betapa kamu melangkah dengan pasti, tanpa ragu, tanpa cemas.

Lebih lagi, kamu mengajariku percaya diri. Tidak pernah kudapati kamu menundukkan kepala, sama sekali selain jika kamu mencari sesuatu yang biasa mengisi penuh tasmu. Ketika berjalan, dagumu mantap naik, tatapanmu mantap kedepan. Tak jarang, dengan penuh percaya diri kamu menyapa para priyayi yang lalu lalang di keseharianmu.

Sampai suatu hari Tuhan mengizinkanku untuk menyapamu lebih, lebih dekat. Berjalan santai di kampus, dari jauh, kamu yang aku kagumi terlihat sedang membungkukkan badan mencoba untuk meraih sesuatu. Jalanku pun terhenti. Aku kembali berjalan dengan tempo yang semakin lamban, seiring dengan otakku yang berusaha mencari cara untuk menyapamu. Berjalan lebih dekat, kala itu kamu justru meloncat-loncat berusaha meraih sesuatu di pohon yang lumayan tinggi. Syukurlah, karena tindakanmu itu, aku berani menghampirimu. Sayang sekali, percakapan pertama kita sepertinya tidak berlangsung baik.

Ketika kusapa kamu, kamu seperti kebingungan membalas apa. Ketika kamu bicara, aku yang kebingungan memahami maksudmu. Bahasa Jawa ku yang terbatas dan Bahasa Indonesia mu yang terbatas mau tidak mau membuat kita sama-sama harus main tebak-tebakkan. Tanpa banyak kata, kuambilkan dahan pohon itu, aku tarik mendekatimu. Ah, rupanya kamu mau mengambil bunga! Begitu saja aku ikut memetikkannya untuk mu. Ternyata kantongmu sudah penuh dengan bunga. Kutanya untuk apa, sayang aku tidak mengerti jawabanmu.

Siang itu berlalu, aktivitasku berlanjut mengalir. Entah kenapa aku berpikir keras tentang makanan favoritmu. Seandainya aku ingin mengajakmu duduk bersama untuk makan siang dan tertawa kecil..

Kilasan momen kita siang itu membawaku pada terkaan-terkaan lain yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan tentangmu. Kenapa kamu bisa sekuat itu, sih? Kamu membuatku semakin kagum. Aku berharap kita bisa ketemu dan ngobrol lagi ya.

Akhirnya, suatu sore aku melihatmu lagi. Sayang, aku sedang harus mengurusi sesuatu. Usai urusanku selesai, aku melihatmu lagi. Yes! Kamu berjalan menyebrangi gedung jurusanku dengan dua bingkisan besar. Saat itu aku sedang menelpon abahku. Aku tutup telponku, sebelumnya kubilang pada abahku bahwa aku sedang terpesona melihat seseorang, abahku pun mengizinkanku untuk menutup telpon. Aku hampiri kamu, lagi-lagi percakapan kita semacam kurang smooth. Tak apa lah. Terpenting percakapan awal itu membuat kita bisa berjalan bersama sore itu.

Tapi kenapa kamu berjalan jauh didepanku? Padahal aku berharap kamu berjalan disampingku. Supaya aku bisa mendapatkan inspirasi lain. Karena diamnya kamu saja sudah mengajarkan dan menginspirasi banyak hal, apa lagi bicaramu, kupikir. Terlihat kamu mengusap pipi berkali-kali. Aku tanya tentang kemana kita akan pergi, kamu bungkam. Sesekali menjawab dengan kerongkongan yang berat tak seperti biasanya. Aku ikuti kemana kamu pergi dengan kerepotan membawa dua bingkisan besar. Lenganku sudah gemetar, tanganku sakit. Kekagumanku padamu menjadi berlipat-lipat sore itu. Apa lagi saat kita sudah mau sampai, track yang kamu lalui ternyata sebegitunya. Aku takut sungai, tapi kamu melewatinya setiap hari melalui jalan yang hanya cukup untuk satu kaki saja. Aku keringat dingin, aku tidak habis pikir dengan orang-orang yang menganggapmu biasa dan tidak mau menyapamu. Mataku sembab.

Aku pulang dalam diam, tertunduk, menikmati kampus yang libur, sunyi, sejuk sehabis hujan. Kakiku sudah kotor oleh lumpur. Tanganku sudah tidak sanggup kuangkat untuk sekadar membetulkan kerudungku. Kusimpan kedua tanganku di dalam saku jaketku dan membiarkannya terjatuh lemah.

Sesampainya di kamar, aku menangis sejadi-jadinya. Tanpa bisa kuusap karena tanganku benar-benar lemah. Waktu maghrib tiba pun aku tidak langsung bergegas, karena mengangkat untuk mengucap takbir pun sudah gemetar dan jatuh begitu saja. Usai sholat, aku berusaha mendokumentasikan perasaanku ini dalam tulisan.

Dokumentasi ini menjadi penting, agar aku selalu ingat pelajaran yang telah banyak aku pelajari dari kamu. Untuk jangan manja, untuk bisa berdamai dengan kenyataan sepahit apapun itu. Untuk selalu tersenyum, untuk berani bertaruh di arena yang tidak bisa ditebak. Untuk jangan mengeluh, lakukan saja apa yang bisa dilakukan. Untuk jangan mengharap iba dari orang lain, berdiri pada kaki sendiri, berjuang di jalan kemandirian.

Untuk menjadi wanita yang mandiri.

Aku wanita, aku tahu perasaanmu. Tahu betul dan mengerti betul. Sekuat itukah benteng yang telah terbangun oleh pengalaman hidupmu, Nek? Aku senang bertemu dengan kamu. Ketahuilah, aku benar-benar mengangumimu. Sering kali Tuhan memperlihatkan aku sosokmu di kala lelah dan perasaan hampir menyerah menghampiriku. Aku mendapati energi misterius seketika setiap kali itu terjadi. Sering-seringlah kita bertemu, supaya aku selalu ingat bahwa tugasku sekarang adalah berjuang untuk menjadi sosok yang bisa memerdekakanmu, dan tetangga-tetanggamu. Kita saudara, kan? Terima kasih, ya. Terima kasih banyak.