Mungkin Ini Penyebab Hidup Tidak Bahagia

Pernah saya berada dalam sebuah kondisi yang mungkin banyak pula dari kita pernah mengalaminya. Kondisi dimana hari-hari terasa berat, kepala berat, mata berat, bibir berat untuk tersenyum, bahkan napas pun berat. Rasanya hidup terasa sulit, penuh tekanan, ada saja masalah yang tidak bisa terlihat titik terang penyelesaiannya.

Sampai suatu hari saat sedang berselancar di internet, saya menemukan kalimat begini dari seorang tokoh barat (lupa namanya siapa),

“Kunci kebahagiaan adalah menyadari bahwa Anda tidak pernah benar-benar bisa mengontrol apapun”

Hening…. Kok rasanya benar sekali?

Apa yang terbersit dalam benak saya ketika membaca kalimat tersebut adalah konsep berserah diri. Sebuah konsep yang menyerahkan semua daya kendali dan kontrol persoalan manusia kepada pihak yang paling mampu mengendalikan semuanya, paling berkuasa, dan paling handal. Menyerahkan semuanya kepada Allah.

Di momen tersebut saya sudah mulai sedikit bisa tersenyum dan merasakan sebuah kelegaan.

Alhamdulillah, kelegaan yang sejuk dan menenangkan semakin muncul ketika saya menemukan ini, hal menakjubkan dari Islam yang tepat terproyeksi dari kalimat yang saya temukan sebelumnya,

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang mengucapkan : لاَ حَوْلَ وَلاَ قُـوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ 
(Laa Haula wa Laa Quwwata illa Billaah – Tiada daya dan upaya kecuali pertolongan Allah) maka hal itu sebagai penawar baginya dari sembilan puluh sembilan penyakit dan yang termudah adalah rasa bimbang”

Disebutkan bahwa, barangsiapa yang yang mengatakan Laa Haula wa Laa Quwwata illa Billaah maka akan lenyap dari dirinya tujuh puluh pintu petaka, yang paling rendah adalah bencana kemiskinan. Tak hanya itu, dari Abi Musa Al-Asy’ari radhiallahu anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadaku: “Maukah aku tunjukkan kepadamu salah satu bacaan yang menjadi simpanan kekayaan di dalam syurga?“, Maka aku menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah“. Maka beliau menjawab: “Ucapkanlah” La Haula wa La Quwwata illa Billaah.”

Ibnu Qoyyim rahimahullah mengatakan: Kalimat La Haula wa La Quwwata illa Billaah mempunyai pengaruh yang sangat menakjubkan saat menanggung beban pekerjaan yang sulit dan keras, atau saat menghadap kepada raja dan orang yang ditakutkan, selain pengaruhnya yang efektif untuk menolak kemiskinan.

Bagi saya, mengucapkan kalimat “La Haula wa La Quwwata illa Billaah” secara berulang-ulang seperti mensugestikan diri bahwa hanya Allah lah sebaik-baik Penolong, dimana segala daya dan upaya berasal. Teringat bagaimana Allah berfirman, “Aku bagaimana prasangka hambaKu.” Melalui kalimat inilah kita bisa membangun prasangka positif kepada Allah, yang secara otomatis akan membangun hubungan manis antara kita dengan Allah, sehingga akan terus menghadirkan syukur dan ketenangan dalam hidup.

Sungguh menakjubkan, tak aneh jika kalimat ini dikatakan sebagai simpanan kekayaan didalam syurga. Pengaruhnya dalam menolak musibah maupun menghilangkan perasaan gelisah hanyalah bonus kecil. Hal terbesar dalam kalimat ini bagi saya adalah mempercayakan seutuhnya kepada Allah sebagai satu-satunya Penolong dan Pengatur. Lepas semua beban, lepas semua pikiran berat karena sibuk mengatur hari-hari atau suatu perihal, lepas semua kekhawatiran akan perjalanan hidup yang tidak bisa diprediksi, lepas semuanya. Percaya padaNya tanpa syarat.

Berangkat dari sini, saya menemukan tiga solusi mutlak atas setiap permasalahan hidup. Adalah Allah, waktu, dan sabar.

Jadi, jika diantara kita merasakan hidup yang tidak bahagia, mari kita tengok kedalam diri.
Adakah diri kita terlalu sombong merasa semuanya bisa diatasi dengan tindakan sendiri sehingga lupa kehendakNya?
Adakah diri kita terlalu fokus pada urusan teknis yang bisa dikontrol oleh kita sehingga lupa bahwa ada tanganNya yang bisa bertindak kapanpun hanya dengan “Kun Fayakun”?
Adakah diri kita terlalu berambisi untuk meraih sesuatu sehingga menghalalkan segala cara hingga lupa pada penaNya?
Adakah diri kita takut pada hal-hal selain diriNya?
Adakah kita sudah benar-benar mengimani Keesaan-Nya?
Adakah Ia dalam hati kita?

Karena jika hati sudah mantap bergantung pada daya dan upaya-Nya saja, hidup di dunia ini akan jelas terasa fana, terasa akan singkat adanya. Dengan begitu, tindak-tanduk kita hanya untuk merayu-Nya, agar kasih-Nya mengalir terus, ada rasa cinta, ada rasa tidak ingin ditinggalkan oleh-Nya, ada rasa semangat mengarungi hidup di dunia dan semangat bersabar dengan ujian di dunia semata untuk segera bertemu denganNya dalam keindahan.

Insha Allah.

Surabaya, 3 Januari 2015

Advertisements

2 thoughts on “Mungkin Ini Penyebab Hidup Tidak Bahagia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s