Setahun Hidup di Eropa, Nusantara Tetap Jadi Primadona

Terkadang rasa syukur atas kenikmatan hidup di Nusantara baru disadari jika sudah mengalami kehidupan di wilayah lain yang tidak lebih baik dari kehidupan di Nusantara. Hal inilah yang terjadi pada saya. Harus melihat Nusantara dari luar dan negeri lain dari dalam terlebih dahulu untuk akhirnya bisa benar-benar mensyukuri nikmat yang berlimpah di tanah air ini.

Remaja mana yang tidak bahagia dan bangga ketika mendapat kesempatan untuk mengikuti program pertukaran pelajar ke Eropa. Kala itu usia saya baru berjalan 16 tahun, namun tidak merasa khawatir sama sekali ketika hendak meninggalkan tanah air untuk hidup di Swiss bersama sebuah keluarga non-Muslim dan hidup selama satu tahun disana.

Sebagai siswi madrasah, transformasi lingkungan dan gegar budaya yang saya hadapi ketika sampai di Eropa cukup besar. Saya tidak pernah berpikir tantangan umat Muslim di negara minoritas Muslim ini menjadi lebih dari yang saya bayangkan. Jika tantangannya hanya soal menjaga diri dari pola pergaulan bebas, hal tersebut menjadi persoalan benteng diri, namun ternyata lebih dari itu.

Teknis Beragama Sudah Pasti Menjadi Soal
Teknis beragama yang menjadi soal dalam hal ini meliputi sholat, puasa, hingga makanan halal. Jika waktu sholat di Indonesia mulai dari subuh hingga ashar terbagi secara tepat antara berkegiatan dan jeda istirahat, tidak dengan di Swiss. Setiap musim berbeda mempengaruhi waktu sholat yang berbeda pula, tak jarang perbedaan waktu ini sedikit menyulitkan dalam pelaksanaannya. Sebab, masjid sangat sulit ditemukan, musholla hampir tidak mungkin, dan waktu kegiatan sekolah maupun lainnya tidak mentoleransi alasan izin untuk beribadah.

Tak jarang saya harus melaksanakan ibadah sholat ini di perpustakaan sekolah, bahkan di perjalanan kereta sambil duduk. Pula tidak ada adzan, waktu sholat yang senantiasa bergeser pun hanya ditandai oleh notifikasi email dari website pemberitahu jadwal sholat. Ini adalah hal paling pertama yang saya syukuri betapa tanah air Nusantara adalah hamparan rumah bagi umat Muslim. Anugerah dari Allah yang menjadikan Nusantara berada di garis khatulistiwa, sehingga tidak menawarkan banyak musim, dan fluktuasi pergeseran waktu sholat menjadi tidak terlalu kentara. Dimana subuh tetap di waktu bersiap mengawali hari, dzuhur di saat jeda istirahat kegiatan, ashar di momen memasuki perjalanan pulang berkegiatan, dan maghrib serta isya dalam posisi rileks (www.nu.or.id). Terus demikian sepanjang tahun.

Ketika terjadi pergeseran waktu sholat, tentu diiringi juga dengan pergeseran waktu dimulai dan berakhirnya puasa (muslimmedianews.com). Terasa begitu menyiksa ketika kedatangan saya pertama kalinya di Swiss bertepatan dengan bulan Ramadhan yang berlangsung di musim panas. Alhasil, puasa dimulai sangat dini namun berakhir sangat larut hingga jika diakumulasikan, total durasi satu hari puasa bisa mencapai 17 jam. Tidak berhenti sampai disitu, momen Idulfitri pun harus rela saya lewatkan karena alasan profesionalitas mengikuti kegiatan wajib dari program yang mensponsori saya. Menjadi hal yang tidak lazim untuk meninggalkan kegiatan yang sudah terjadwal untuk hal-hal keagamaan, termasuk hari raya. Lagi-lagi, betapa saya merindukan nuansa Ramadhan di Nusantara yang penuh dengan toleransi beragama.

Hal yang paling menyiksa adalah persoalan makanan. Soal halal dan haram. Memang, Al-Qur’an secara langsung telah menerangkan makanan halal dan haram. Dalam bayangan saya, mengamalkan hal tersebut tidak akan menjadi hal yang sulit, cukup dengan menghindari daging hewan-hewan yang disebutkan Al-Qur’an sebagai daging yang haram. Namun rupanya praktik di kehidupan nyata di Swiss tidak sesederhana itu. Secara terang-terangan, berbagai daging olahan ayam dan sapi sudah dicampuri daging babi. Tak hanya itu, terdapat banyak unsur haram di berbagai makanan lainnya seperti roti tawar, permen, jelly, ice cream, coklat, bahkan minuman kaleng yang bisa dengan mudah diketahui dari kode tertentu pada komposisi yang tertera di kemasan. Disini saya menyadari betapa bahagianya penduduk Nusantara, tidak perlu khawatir dengan perihal haram-halal karena produk yang beredar mampu termonitor kehalalannya.

Gesekan Sosial dan Budaya Sangat Tinggi
Jika dalam Islam, berdakwah atau menyeru kebaikan pada sesama Muslim adalah wajib, maka dalam kehidupan di Eropa terasa justru mengganggu. Idealisme yang berlaku di peradaban Eropa yang cenderung liberal menjadikan urusan dakwah adalah hal yang tidak perlu bahkan aneh. Sebab agama menjadi hal yang sangat pribadi, antara individu dan Tuhannya saja. Hal ini sangat bertentangan dengan konsep Islam yang mengusung tinggi kejamaahan, karena agama hadir sebagai nasihat. Perlahan situasi ini justru membahayakan bagi Muslim, sangat mungkin terpengaruh nilai-nilai kehidupannya dengan situasi liberalisme yang begitu kental. Sehingga adapun bentuk toleransi yang hadir ditengah masyarakat Swiss dalam beragama, adalah lahir dari liberalisasi kehidupan sehari-hari, cenderung bentuk keacuhan untuk tidak mengintervensi selama kepentingan dalam berkegiatan inti tidak terganggu. Damai, namun sering menjadi masalah tersendiri bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah-ibadahnya.

Secara pribadi, saya pun sempat mengalami kesulitan dalam berkerudung disana. Memang saat itu belum istiqomah, tak ayal kerudung pun sempat saya lepas. Namun saat menjalani hari-hari disana ketika mulai berkerudung, saya pernah diteriaki “Afganistan! di Swiss tidak boleh ada yang seperti itu,” oleh seseorang sambil lalu. Pun pernah dilempari patahan kayu oleh anak kisaran seusia 13 tahun. Bahkan dikomentari secara personal oleh teman sekelas bahwa apa yang saya lakukan itu konyol, hanya menonjolkan identitas agama yang dianggap tidak penting.

Lain cerita ketika pulang kembali ke tanah air. Dengan kemampuan Bahasa Jerman yang saya miliki sekembalinya saya dari Swiss, seorang rekan ayah membutuhkan kemampuan saya untuk mendampingi tamu dari Jerman. Ketika sampai di lokasi, rupanya tamu tersebut adalah pendeta dari Jerman. Wajahnya tampak kaget melihat gadis berkerudung turut hadir dalam sebuah rapat internal para pendeta Indonesia barat di Bandung kala itu. Namun dengan keterbukaan saya, pula keterbukaan pendeta-pendeta di Indonesia, tugas saya sebagai interpreter Bahasa Jerman yang beragama Islam justru membuat diskusi berjalan lancar. Padahal topik yang dibahas adalah gejolak sosial di Indonesia perihal pembangunan gereja di beberapa lokasi.

Melihat kesemua kondisi ini, Nusantara seperti surga. Benar-benar seperti surga, sangat berpotensi menjadi mercusuar dunia yang relijius. Dengan persentase penduduk Muslim yang mencapai angka 88% dari total penduduk Indonesia, kebutuhan mendasar umat Islam dapat terpenuhi tanpa menimbulkan masalah dan kaum minoritas pun tidak kesulitan hidupnya. Jika di Swiss terdapat larangan membangun kubah masjid, Indonesia justru menjadi negara dengan jumlah masjid terbanyak yaitu hampir 900 ribu masjid. Meski struktur masyarakatnya lebih heterogen dengan terdiri dari 1128 suku bangsa, lima agama resmi, sampai perbedaan bahasa dan dialek yang mencapai 583 banyaknya, harmonisasi masyarakat di Nusantara justru tetap terjaga dengan sangat aman, damai, dan tenteram.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s