Aku Ingin Menjadi Manusia Merdeka

Aku ingin mejadi manusia merdeka. Tapi hampir setiap tahun, definisi merdeka buatku berubah-ubah. Aku selalu menemukan kekangan baru, yang aku ingin lepas daripadanya lalu berteriak merdeka.

Hidup kian terbiasa dengan berbagai kekangan buatan manusia. Namun menjadi manusia yang berdaulat tak butuh pertimbangan kondisi penuh kekangan untuk hidup.

Kalau bersikap, dia damai. Manusia yang damai sebagaimanapun hebatnya intervensi dari luar. Seberapa keraspun tekanan hidup, stress mampu diabsorbnya. Tidak membenci, pula tidak mendendam ketika terdzalimi. Hatinya senantiasa damai. Sabar, baik dalam berlaku maupun berpikir.

Kalau bergerak, dia putih. Memiliki kontribusi dan dedikasi yang tidak berkepentingan. Setiap gerakannya adalah murni otoritas dirinya. Ketika berkelompok, adalah untuk menggabungkan mimpinya dalam bingkai yang lebih kuat. Untuk membela yang harus diperjuangkan. Bergerak untuk umat.

Kalau berbahagia, itu terserah dirinya. Karena manusia yang merdeka memiliki kebahagiaan yang tidak ditentukan oleh apapun selain dirinya sendiri. Menikmati keintiman hubungannya dengan Tuhan, alam, kebaikan, dan alunan kehidupan.

Dan bisa jadi, merdeka itu dekat dengan ikhlas. Karena ketika merdeka bicara kebebasan, ikhlas adalah tentang membebaskan. Membebaskan segala yang bisa merusak kedamaian jiwanya.

Aku ingin menjadi manusia merdeka.

Dalam perjalanan Rangkasbitung menuju Bandung
20 Agustus 2016