All posts by ilmibumi

A collage student majoring in Materials and Metallurgical Engineering ITS. Currently work as reporter at ITS Online.

Aku Ingin Menjadi Manusia Merdeka

Aku ingin mejadi manusia merdeka. Tapi hampir setiap tahun, definisi merdeka buatku berubah-ubah. Aku selalu menemukan kekangan baru, yang aku ingin lepas daripadanya lalu berteriak merdeka.

Hidup kian terbiasa dengan berbagai kekangan buatan manusia. Namun menjadi manusia yang berdaulat tak butuh pertimbangan kondisi penuh kekangan untuk hidup.

Kalau bersikap, dia damai. Manusia yang damai sebagaimanapun hebatnya intervensi dari luar. Seberapa keraspun tekanan hidup, stress mampu diabsorbnya. Tidak membenci, pula tidak mendendam ketika terdzalimi. Hatinya senantiasa damai. Sabar, baik dalam berlaku maupun berpikir.

Kalau bergerak, dia putih. Memiliki kontribusi dan dedikasi yang tidak berkepentingan. Setiap gerakannya adalah murni otoritas dirinya. Ketika berkelompok, adalah untuk menggabungkan mimpinya dalam bingkai yang lebih kuat. Untuk membela yang harus diperjuangkan. Bergerak untuk umat.

Kalau berbahagia, itu terserah dirinya. Karena manusia yang merdeka memiliki kebahagiaan yang tidak ditentukan oleh apapun selain dirinya sendiri. Menikmati keintiman hubungannya dengan Tuhan, alam, kebaikan, dan alunan kehidupan.

Dan bisa jadi, merdeka itu dekat dengan ikhlas. Karena ketika merdeka bicara kebebasan, ikhlas adalah tentang membebaskan. Membebaskan segala yang bisa merusak kedamaian jiwanya.

Aku ingin menjadi manusia merdeka.

Dalam perjalanan Rangkasbitung menuju Bandung
20 Agustus 2016

Tidak Terlihat

“Menulislah, jika tak menulis maka engkau akan dilupakan sejarah.” – Pram

Aku mulai berpikir tak apalah dilupakan sejarah, tak pernah tercatat pun tak apa. Kenapa pula sebuah nama harus direkam sejarah? Rasanya dunia ini terlalu palsu dan sebentar. Menulis ya menulis lah. Biar nilai-nilainya saja yang dicatat oleh sejarah, tak bernama tak apa.

Aku mulai menilai, sepertinya manusia yang paling bahagia adalah yang tidak terlihat, tidak mengundang banyak mulut menyebut namanya, tidak mengundang banyak telunjuk mengarah padanya, namun dampaknya nyata dan positif dirasakan banyak orang.

Dikenal dan diketahui secukupnya. Cukup sejumlah beberapa barisan sholat ketika disholatkan.

 

24 Juli 2016

Batu Hijau, Sumbawa-NTB

The Unspoken Words

picsautumphotographyautumnleavessun-6b554abc226a64d19520c780a3f2da9d_h

The words that only live in your mind. Never be spoken. Although it might be important for some persons. But you choose to not deliver them due to some reasons. The reasons could be personally hard for you, hard in a unexplainable way. You simply letting people judge, letting people guess, letting people speculate, letting people hurt, letting people go. Only to set a certain condition, that can only be happened through events, that was unsuccessful through another way you tried, that you think it’s the best thing you can do, the best condition in your view. But you have those unspoken words, that are better left unsaid. That only live in your mind.

 

Batu Hijau, Sumbawa-NTB

28th of June 2016

Picture source: here

Setahun Hidup di Eropa, Nusantara Tetap Jadi Primadona

Terkadang rasa syukur atas kenikmatan hidup di Nusantara baru disadari jika sudah mengalami kehidupan di wilayah lain yang tidak lebih baik dari kehidupan di Nusantara. Hal inilah yang terjadi pada saya. Harus melihat Nusantara dari luar dan negeri lain dari dalam terlebih dahulu untuk akhirnya bisa benar-benar mensyukuri nikmat yang berlimpah di tanah air ini.

Remaja mana yang tidak bahagia dan bangga ketika mendapat kesempatan untuk mengikuti program pertukaran pelajar ke Eropa. Kala itu usia saya baru berjalan 16 tahun, namun tidak merasa khawatir sama sekali ketika hendak meninggalkan tanah air untuk hidup di Swiss bersama sebuah keluarga non-Muslim dan hidup selama satu tahun disana.

Sebagai siswi madrasah, transformasi lingkungan dan gegar budaya yang saya hadapi ketika sampai di Eropa cukup besar. Saya tidak pernah berpikir tantangan umat Muslim di negara minoritas Muslim ini menjadi lebih dari yang saya bayangkan. Jika tantangannya hanya soal menjaga diri dari pola pergaulan bebas, hal tersebut menjadi persoalan benteng diri, namun ternyata lebih dari itu.

Teknis Beragama Sudah Pasti Menjadi Soal
Teknis beragama yang menjadi soal dalam hal ini meliputi sholat, puasa, hingga makanan halal. Jika waktu sholat di Indonesia mulai dari subuh hingga ashar terbagi secara tepat antara berkegiatan dan jeda istirahat, tidak dengan di Swiss. Setiap musim berbeda mempengaruhi waktu sholat yang berbeda pula, tak jarang perbedaan waktu ini sedikit menyulitkan dalam pelaksanaannya. Sebab, masjid sangat sulit ditemukan, musholla hampir tidak mungkin, dan waktu kegiatan sekolah maupun lainnya tidak mentoleransi alasan izin untuk beribadah.

Tak jarang saya harus melaksanakan ibadah sholat ini di perpustakaan sekolah, bahkan di perjalanan kereta sambil duduk. Pula tidak ada adzan, waktu sholat yang senantiasa bergeser pun hanya ditandai oleh notifikasi email dari website pemberitahu jadwal sholat. Ini adalah hal paling pertama yang saya syukuri betapa tanah air Nusantara adalah hamparan rumah bagi umat Muslim. Anugerah dari Allah yang menjadikan Nusantara berada di garis khatulistiwa, sehingga tidak menawarkan banyak musim, dan fluktuasi pergeseran waktu sholat menjadi tidak terlalu kentara. Dimana subuh tetap di waktu bersiap mengawali hari, dzuhur di saat jeda istirahat kegiatan, ashar di momen memasuki perjalanan pulang berkegiatan, dan maghrib serta isya dalam posisi rileks (www.nu.or.id). Terus demikian sepanjang tahun.

Ketika terjadi pergeseran waktu sholat, tentu diiringi juga dengan pergeseran waktu dimulai dan berakhirnya puasa (muslimmedianews.com). Terasa begitu menyiksa ketika kedatangan saya pertama kalinya di Swiss bertepatan dengan bulan Ramadhan yang berlangsung di musim panas. Alhasil, puasa dimulai sangat dini namun berakhir sangat larut hingga jika diakumulasikan, total durasi satu hari puasa bisa mencapai 17 jam. Tidak berhenti sampai disitu, momen Idulfitri pun harus rela saya lewatkan karena alasan profesionalitas mengikuti kegiatan wajib dari program yang mensponsori saya. Menjadi hal yang tidak lazim untuk meninggalkan kegiatan yang sudah terjadwal untuk hal-hal keagamaan, termasuk hari raya. Lagi-lagi, betapa saya merindukan nuansa Ramadhan di Nusantara yang penuh dengan toleransi beragama.

Hal yang paling menyiksa adalah persoalan makanan. Soal halal dan haram. Memang, Al-Qur’an secara langsung telah menerangkan makanan halal dan haram. Dalam bayangan saya, mengamalkan hal tersebut tidak akan menjadi hal yang sulit, cukup dengan menghindari daging hewan-hewan yang disebutkan Al-Qur’an sebagai daging yang haram. Namun rupanya praktik di kehidupan nyata di Swiss tidak sesederhana itu. Secara terang-terangan, berbagai daging olahan ayam dan sapi sudah dicampuri daging babi. Tak hanya itu, terdapat banyak unsur haram di berbagai makanan lainnya seperti roti tawar, permen, jelly, ice cream, coklat, bahkan minuman kaleng yang bisa dengan mudah diketahui dari kode tertentu pada komposisi yang tertera di kemasan. Disini saya menyadari betapa bahagianya penduduk Nusantara, tidak perlu khawatir dengan perihal haram-halal karena produk yang beredar mampu termonitor kehalalannya.

Gesekan Sosial dan Budaya Sangat Tinggi
Jika dalam Islam, berdakwah atau menyeru kebaikan pada sesama Muslim adalah wajib, maka dalam kehidupan di Eropa terasa justru mengganggu. Idealisme yang berlaku di peradaban Eropa yang cenderung liberal menjadikan urusan dakwah adalah hal yang tidak perlu bahkan aneh. Sebab agama menjadi hal yang sangat pribadi, antara individu dan Tuhannya saja. Hal ini sangat bertentangan dengan konsep Islam yang mengusung tinggi kejamaahan, karena agama hadir sebagai nasihat. Perlahan situasi ini justru membahayakan bagi Muslim, sangat mungkin terpengaruh nilai-nilai kehidupannya dengan situasi liberalisme yang begitu kental. Sehingga adapun bentuk toleransi yang hadir ditengah masyarakat Swiss dalam beragama, adalah lahir dari liberalisasi kehidupan sehari-hari, cenderung bentuk keacuhan untuk tidak mengintervensi selama kepentingan dalam berkegiatan inti tidak terganggu. Damai, namun sering menjadi masalah tersendiri bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah-ibadahnya.

Secara pribadi, saya pun sempat mengalami kesulitan dalam berkerudung disana. Memang saat itu belum istiqomah, tak ayal kerudung pun sempat saya lepas. Namun saat menjalani hari-hari disana ketika mulai berkerudung, saya pernah diteriaki “Afganistan! di Swiss tidak boleh ada yang seperti itu,” oleh seseorang sambil lalu. Pun pernah dilempari patahan kayu oleh anak kisaran seusia 13 tahun. Bahkan dikomentari secara personal oleh teman sekelas bahwa apa yang saya lakukan itu konyol, hanya menonjolkan identitas agama yang dianggap tidak penting.

Lain cerita ketika pulang kembali ke tanah air. Dengan kemampuan Bahasa Jerman yang saya miliki sekembalinya saya dari Swiss, seorang rekan ayah membutuhkan kemampuan saya untuk mendampingi tamu dari Jerman. Ketika sampai di lokasi, rupanya tamu tersebut adalah pendeta dari Jerman. Wajahnya tampak kaget melihat gadis berkerudung turut hadir dalam sebuah rapat internal para pendeta Indonesia barat di Bandung kala itu. Namun dengan keterbukaan saya, pula keterbukaan pendeta-pendeta di Indonesia, tugas saya sebagai interpreter Bahasa Jerman yang beragama Islam justru membuat diskusi berjalan lancar. Padahal topik yang dibahas adalah gejolak sosial di Indonesia perihal pembangunan gereja di beberapa lokasi.

Melihat kesemua kondisi ini, Nusantara seperti surga. Benar-benar seperti surga, sangat berpotensi menjadi mercusuar dunia yang relijius. Dengan persentase penduduk Muslim yang mencapai angka 88% dari total penduduk Indonesia, kebutuhan mendasar umat Islam dapat terpenuhi tanpa menimbulkan masalah dan kaum minoritas pun tidak kesulitan hidupnya. Jika di Swiss terdapat larangan membangun kubah masjid, Indonesia justru menjadi negara dengan jumlah masjid terbanyak yaitu hampir 900 ribu masjid. Meski struktur masyarakatnya lebih heterogen dengan terdiri dari 1128 suku bangsa, lima agama resmi, sampai perbedaan bahasa dan dialek yang mencapai 583 banyaknya, harmonisasi masyarakat di Nusantara justru tetap terjaga dengan sangat aman, damai, dan tenteram.

Mungkin Ini Penyebab Hidup Tidak Bahagia

Pernah saya berada dalam sebuah kondisi yang mungkin banyak pula dari kita pernah mengalaminya. Kondisi dimana hari-hari terasa berat, kepala berat, mata berat, bibir berat untuk tersenyum, bahkan napas pun berat. Rasanya hidup terasa sulit, penuh tekanan, ada saja masalah yang tidak bisa terlihat titik terang penyelesaiannya.

Sampai suatu hari saat sedang berselancar di internet, saya menemukan kalimat begini dari seorang tokoh barat (lupa namanya siapa),

“Kunci kebahagiaan adalah menyadari bahwa Anda tidak pernah benar-benar bisa mengontrol apapun”

Hening…. Kok rasanya benar sekali?

Apa yang terbersit dalam benak saya ketika membaca kalimat tersebut adalah konsep berserah diri. Sebuah konsep yang menyerahkan semua daya kendali dan kontrol persoalan manusia kepada pihak yang paling mampu mengendalikan semuanya, paling berkuasa, dan paling handal. Menyerahkan semuanya kepada Allah.

Di momen tersebut saya sudah mulai sedikit bisa tersenyum dan merasakan sebuah kelegaan.

Alhamdulillah, kelegaan yang sejuk dan menenangkan semakin muncul ketika saya menemukan ini, hal menakjubkan dari Islam yang tepat terproyeksi dari kalimat yang saya temukan sebelumnya,

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang mengucapkan : لاَ حَوْلَ وَلاَ قُـوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ 
(Laa Haula wa Laa Quwwata illa Billaah – Tiada daya dan upaya kecuali pertolongan Allah) maka hal itu sebagai penawar baginya dari sembilan puluh sembilan penyakit dan yang termudah adalah rasa bimbang”

Disebutkan bahwa, barangsiapa yang yang mengatakan Laa Haula wa Laa Quwwata illa Billaah maka akan lenyap dari dirinya tujuh puluh pintu petaka, yang paling rendah adalah bencana kemiskinan. Tak hanya itu, dari Abi Musa Al-Asy’ari radhiallahu anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadaku: “Maukah aku tunjukkan kepadamu salah satu bacaan yang menjadi simpanan kekayaan di dalam syurga?“, Maka aku menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah“. Maka beliau menjawab: “Ucapkanlah” La Haula wa La Quwwata illa Billaah.”

Ibnu Qoyyim rahimahullah mengatakan: Kalimat La Haula wa La Quwwata illa Billaah mempunyai pengaruh yang sangat menakjubkan saat menanggung beban pekerjaan yang sulit dan keras, atau saat menghadap kepada raja dan orang yang ditakutkan, selain pengaruhnya yang efektif untuk menolak kemiskinan.

Bagi saya, mengucapkan kalimat “La Haula wa La Quwwata illa Billaah” secara berulang-ulang seperti mensugestikan diri bahwa hanya Allah lah sebaik-baik Penolong, dimana segala daya dan upaya berasal. Teringat bagaimana Allah berfirman, “Aku bagaimana prasangka hambaKu.” Melalui kalimat inilah kita bisa membangun prasangka positif kepada Allah, yang secara otomatis akan membangun hubungan manis antara kita dengan Allah, sehingga akan terus menghadirkan syukur dan ketenangan dalam hidup.

Sungguh menakjubkan, tak aneh jika kalimat ini dikatakan sebagai simpanan kekayaan didalam syurga. Pengaruhnya dalam menolak musibah maupun menghilangkan perasaan gelisah hanyalah bonus kecil. Hal terbesar dalam kalimat ini bagi saya adalah mempercayakan seutuhnya kepada Allah sebagai satu-satunya Penolong dan Pengatur. Lepas semua beban, lepas semua pikiran berat karena sibuk mengatur hari-hari atau suatu perihal, lepas semua kekhawatiran akan perjalanan hidup yang tidak bisa diprediksi, lepas semuanya. Percaya padaNya tanpa syarat.

Berangkat dari sini, saya menemukan tiga solusi mutlak atas setiap permasalahan hidup. Adalah Allah, waktu, dan sabar.

Jadi, jika diantara kita merasakan hidup yang tidak bahagia, mari kita tengok kedalam diri.
Adakah diri kita terlalu sombong merasa semuanya bisa diatasi dengan tindakan sendiri sehingga lupa kehendakNya?
Adakah diri kita terlalu fokus pada urusan teknis yang bisa dikontrol oleh kita sehingga lupa bahwa ada tanganNya yang bisa bertindak kapanpun hanya dengan “Kun Fayakun”?
Adakah diri kita terlalu berambisi untuk meraih sesuatu sehingga menghalalkan segala cara hingga lupa pada penaNya?
Adakah diri kita takut pada hal-hal selain diriNya?
Adakah kita sudah benar-benar mengimani Keesaan-Nya?
Adakah Ia dalam hati kita?

Karena jika hati sudah mantap bergantung pada daya dan upaya-Nya saja, hidup di dunia ini akan jelas terasa fana, terasa akan singkat adanya. Dengan begitu, tindak-tanduk kita hanya untuk merayu-Nya, agar kasih-Nya mengalir terus, ada rasa cinta, ada rasa tidak ingin ditinggalkan oleh-Nya, ada rasa semangat mengarungi hidup di dunia dan semangat bersabar dengan ujian di dunia semata untuk segera bertemu denganNya dalam keindahan.

Insha Allah.

Surabaya, 3 Januari 2015

If The Experts Sharing Their Data Through A Centralized Website

There are so many types of movements for a better world are held today. A movement should be initiated with real visions and hopes for positive change. In its sustainability, a good and proper movement can’t be held suddenly. Many stages of preparation before taking a decision should be taken. One of the most important stage is the analysis of environmental conditions or research to get some data and information.

At the stage of research, the activists of the movement will conduct a survey to the field to get or confirm the information related the targets and strategies of its movement. Not only survey, many effort of collecting data and information through literature also commonly taken. Through this stage, we can see how the urgency of data and information on decision-making in a movement is. The errors or lack of data will affect on decision-making which can create a movement that is less precise and inefficient.

Seeing the sources of data and information today, at least technology today has make us easier in accessing information. Take an example of a media, the website of world statistics (world-statistcs.org) that serves free and easy access to international statistics in many variables such as population, unemployment rates, health, and many more. This centralized information space can help activists in strategy-planning of their movement and making the best decision. Other Example is the website of currency converter, this is one of a perfect example in creating an information space such as website for centralized data-sharing based on common needs.

If the needs of data and information of all movements in the world only rely on those two websites, maybe we dont have to make any further ideas for data-sharing. But movement is almost exists on all fronts, so people need more pages that provide valid data in a centralized way. If we see current development, the most strategic area as media is the internet. Through a centralized website that is known to many people, information can be obtained easily by various circles.

Before going into information product, firstly we should work on the persons behind the media who are capable enough to share the data and information with high validity. In this case, we can see that the experts in the specific fields are those persons. For example, if there any group planning to help communities prepare for natural disasters, they will absolutely need information about the areas that have a high potential for disaster. There are of course many informations regarding to it, scattered in various sources with a low validity and sometimes confusing. Or maybe get nothing because nobody shares the informations needed. In this condition, geographer is the one who is capable to provide valid information regarding the problem.

Imagine the geographers from across the world or in a continent work actively in their alliance to provide general information about geographical conditions in every place on earth in a centralized website. As the appreciation of their work, they have right to commercialize the data and information. The alliance can also open a free or paid further consultation for anyone who needs more understanding in geographical things. In realizing this plan, the alliance can involve other institutions whether it is government or non-government to help coordinate the project. This idea can also documenting research in a good way.

Since all we needs is almost in every fields, the alliance of chemists, material scientists, historian, geologists, and many more can do the same. The centralized website project can be initiated by the United Nations or other alliance who have common interest like European Union or ASEAN. Start from collecting the experts, planning the system for data-sharing, and agreement whether it is commercial or become a social project, till it comes into realization. There should be an independent team in every fields having a special task to judge the validity of information before launching into the website.

So all the data and information in the centralized website are legal and allowed to be known by public. All the official websites of the spesific fields that serve data and information can be collected in a mother-website. The mother-website is the first place anyone should go before entering the website of a spesific information they need from a field category. If this idea has realized, every party like schools, universities, organizations, institutions, agencies, foundations, and other councils should be informed about the official website for every data and information. To make a difference for a better world, all we need is synergy.

Jadi Pemuda? Tetap Persiapkanlah Kematian

Assalamualaikum wr wb. Teman-teman Muslim dam Muslimah dimanapun kalian berada, saudara-saudariku, bagaimana rasanya membayangkan sepetak tanah yang akan menjadi singgahsana terakhir kita? Kalau dibayangkan, rasanya langsung sunyi, di keramaian pun merasa sendiri, was-was, merasa rendah diri, sudah sesiap apa kita? Lalu akan diapakan semua pencapaian dan segala usaha keras duniawi yang selama ini kita kejar, akan diapakan? Bukan mustahil dalam perjalanannya kita melakukan banyak dosa, memang Allah Maha Pengampun, tapi sejauh apa kita layak diampuni?

Sebuah laporan global menyebutkan, kematian dini cenderung lebih banyak terjadi di kalangan remaja dan dewasa muda dibandingkan anak-anak. Riset yang dipublikasikan jurnal kesehatan The Lancet, kasus kematian pada usia remaja tampak lebih menonjol. Faktor-faktor seperti kekerasan, bunuh diri, dan kecelakaan lalu lintas diyakini sebagai penyebab utama. Untuk yang sedang berkuliah, teman-teman mahasiswaku, ajal bisa saja menjemput kita saat kita sedang berada di kelas, atau baru saja beranjak pulang dari forum kemahasiswaan, atau mungkin saat baru saja pulang bersenang-senang dari tempat foya-foya.

Saya ingin mengajak teman-teman pemuda Islam khususnya untuk turut mencemaskan kematian dan segera mempersiapkannya meskipun masih muda karena kematian tidak mengenal usia. Setidaknya jika usia kita dipanjangkan, bukankah indah jika akhir hidup kita khusnul khotimah?

Berikut poin-poin rangkuman yang kiranya bisa menjadi persiapan diri kita dalam menanti kematian:

  1. Membiasakan budaya tafakur (merenung)

Manusia adalah mahluk yang berpikir. Apalah arti buku-buku tebal mengenai fenomena fisika, biologi, material, dll kalau tidak mampu mengantarkan kita menjadi mahluk yang merenung, meresapi, dan menyimpulkan. Kapan kita mau sedikit menarik diri dari sekolompok kawan-kawan yang biasa mengajak kita tertawa menikmati hal-hal duniawi? Meluangkan waktu sendiri, benar-benar hanya sendiri antara diri dan Allah, menanyakan eksistensi diri (baca QS Al-Baqarah:30), menanyakan tugas sebagai manusia di muka bumi, menanyakan kenapa kita harus menjalani apa yang kita jalani hari ini, merencanakan segala bentuk usaha diiringi doa untuk meraih ridhoNya dan merayu cintaNya terhadap apa yang Dia tuliskan di lauhul mahfuz.

  1. Senantiasa berpikir jernih

Berpikir jernih dalam hal ini adalah kembali pada apa yang benar dan salah menurut agama. Tepis segala macam paradigma konyol yang dibangun oleh lingkungan masyarakat, kampus, maupun himpunan kemahasiswaan. Sekiranya ada sesuatu yang justru lebih banyak mendatangkan kedzaliman, kemudharatan, dan sedikit manfaat, kenapa harus bertahan didalamnya? Konsekuensi sosial bukan tidak mungkin menimpa kita saat kita berusaha sedikit memberi jarak pada aktivitas yang banyak mudharatnya, apa lagi jika lingkungan teman-teman/kampus cenderung sosialis. “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

  1. Meluruskan niat dalam segala tindakan

Segala bentuk amalan ditentukan oleh niat. Sebagai manusia yang memiliki naluri untuk bertahan hidup, tak jarang kita melakukan sesuatu atas dasar kepentingan yang amat duniawi dan sarat akan kesenangan sesaat. Andai segala kegiatan kita niatkan atas dasar ibadah dan dalam upaya meraih ridhoNya, bukankah tentram hati ini? Nothing to lose. Rasa ikhlas dan tulus bisa menghampiri dengan mudahnya jika segalanya karena Allah, bahkan tanpa menghitung-hitung pahala ibadah pun, segalanya bisa dilakukan secara sukarela demi merayu cinta dan kasihNya. Baiknya kita kembali bertafakur dan bertafakur setiap kali ada niatan yang hampir menyimpang.

  1. Mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya

Melakukan poin keempat ini tidak sesederhana mengutarakannya. Perintah dan laranganNya acap kali menemui gesekan dengan realita hidup yang dihadapi dan pergolakan hati manusia yang penuh dengan ambisi. Ketika gesekan itu muncul, gaungkan lah selalu dalam hati ini bahwa Allah tidak tidur, Allah melihat kita, Allah mengasihi kita yang mengingatnya dan mencintai kita selalu. Allah tidak memberi beban pada kita diluar kemampuan kita. Dalam musibah sekalipun, selalu ada nilai pelajaran yang bisa dipetik. Dan ingatlah selalu bahwa dunia ini fana, akhirat itu kekal. Sekali lagi, dunia ini fana, akhirat itu kekal.

  1. Jangan memelihara subjektifitas

Setiap kali hati dihinggapi dengki, benci, iri, dendam, dan penyakit hati lainnya, ingatlah bahwa kita tidak punya kontrol atas manusia lain selain kontrol terhadap diri sendiri. Ingatlah bahwa sederetan perasaan tersebut hanya akan mengurangi waktu produktif kita dalam berkegiatan maupun beribadah. Ingatlah pula bahwa hanya Allah yang berhak menghakimi hambaNya dan punya kontrol penuh terhadap segala ketetapan. Senantiasa menjadi manusia yang positif dan melepas segala yang negatif akan menjadi awal yang baik dalam melakukan aktivitas apapun.

Berakhiran baik berarti menyelesaikan tugas di dunia dalam keadaan menjadi muslim yang baik. Pada dasarnya kebaikan seorang manusia bisa dibangun pada dua lini, yaitu lini vertikal dan horizontal. Secara vertikal adalah habluminallah, me-maintain hubungan dengan Allah. Memenuhi perintahNya, senantiasa menyenangkanNya (menambah amalan-amalan sunnah, seperti shalat rawatib, tahajud, dhuha, puasa daud, dan tidak menunda-nunda sholat), juga senantiasa berdzikir dan bersyukur. Serta menghindari perkara-perkara yang dapat mengundang murkaNya (bersikap angkuh, menyekutukanNya, melanggar larangan-larangannya). Secara horizontal adalah habluminannas, khusus hubungan antar sesama manusia. Sebagai sesama manusia untuk tidak saling menyakiti, menjaga lisan dan segala bentuk hawa nafsu yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Senantiasa berada dalam koridor-koridor aturanNya ketika berhubungan dengan manusia lain, karena sesungguhnya Allah telah mengatur hajat hidup manusia sampai pada hal-hal yang paling kecil.

Hidup dan mati adalah pasti. (Dialah) yang menjadikan mati dan hidup, agar Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS Al-Mulk: 2).

Semoga bisa mengingatkan saudara-saudari muslimku dimanapun kalian berada. Setiap kali share, setiap itu pula ada muslim yang teringatkan untuk menyegerakan kebaikan dan meninggalkan keburukan sebagai upaya menyiapkan bekal di kehidupan yang kekal.