Category Archives: Dear Diary

Jadi Pemuda? Tetap Persiapkanlah Kematian

Assalamualaikum wr wb. Teman-teman Muslim dam Muslimah dimanapun kalian berada, saudara-saudariku, bagaimana rasanya membayangkan sepetak tanah yang akan menjadi singgahsana terakhir kita? Kalau dibayangkan, rasanya langsung sunyi, di keramaian pun merasa sendiri, was-was, merasa rendah diri, sudah sesiap apa kita? Lalu akan diapakan semua pencapaian dan segala usaha keras duniawi yang selama ini kita kejar, akan diapakan? Bukan mustahil dalam perjalanannya kita melakukan banyak dosa, memang Allah Maha Pengampun, tapi sejauh apa kita layak diampuni?

Sebuah laporan global menyebutkan, kematian dini cenderung lebih banyak terjadi di kalangan remaja dan dewasa muda dibandingkan anak-anak. Riset yang dipublikasikan jurnal kesehatan The Lancet, kasus kematian pada usia remaja tampak lebih menonjol. Faktor-faktor seperti kekerasan, bunuh diri, dan kecelakaan lalu lintas diyakini sebagai penyebab utama. Untuk yang sedang berkuliah, teman-teman mahasiswaku, ajal bisa saja menjemput kita saat kita sedang berada di kelas, atau baru saja beranjak pulang dari forum kemahasiswaan, atau mungkin saat baru saja pulang bersenang-senang dari tempat foya-foya.

Saya ingin mengajak teman-teman pemuda Islam khususnya untuk turut mencemaskan kematian dan segera mempersiapkannya meskipun masih muda karena kematian tidak mengenal usia. Setidaknya jika usia kita dipanjangkan, bukankah indah jika akhir hidup kita khusnul khotimah?

Berikut poin-poin rangkuman yang kiranya bisa menjadi persiapan diri kita dalam menanti kematian:

  1. Membiasakan budaya tafakur (merenung)

Manusia adalah mahluk yang berpikir. Apalah arti buku-buku tebal mengenai fenomena fisika, biologi, material, dll kalau tidak mampu mengantarkan kita menjadi mahluk yang merenung, meresapi, dan menyimpulkan. Kapan kita mau sedikit menarik diri dari sekolompok kawan-kawan yang biasa mengajak kita tertawa menikmati hal-hal duniawi? Meluangkan waktu sendiri, benar-benar hanya sendiri antara diri dan Allah, menanyakan eksistensi diri (baca QS Al-Baqarah:30), menanyakan tugas sebagai manusia di muka bumi, menanyakan kenapa kita harus menjalani apa yang kita jalani hari ini, merencanakan segala bentuk usaha diiringi doa untuk meraih ridhoNya dan merayu cintaNya terhadap apa yang Dia tuliskan di lauhul mahfuz.

  1. Senantiasa berpikir jernih

Berpikir jernih dalam hal ini adalah kembali pada apa yang benar dan salah menurut agama. Tepis segala macam paradigma konyol yang dibangun oleh lingkungan masyarakat, kampus, maupun himpunan kemahasiswaan. Sekiranya ada sesuatu yang justru lebih banyak mendatangkan kedzaliman, kemudharatan, dan sedikit manfaat, kenapa harus bertahan didalamnya? Konsekuensi sosial bukan tidak mungkin menimpa kita saat kita berusaha sedikit memberi jarak pada aktivitas yang banyak mudharatnya, apa lagi jika lingkungan teman-teman/kampus cenderung sosialis. “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

  1. Meluruskan niat dalam segala tindakan

Segala bentuk amalan ditentukan oleh niat. Sebagai manusia yang memiliki naluri untuk bertahan hidup, tak jarang kita melakukan sesuatu atas dasar kepentingan yang amat duniawi dan sarat akan kesenangan sesaat. Andai segala kegiatan kita niatkan atas dasar ibadah dan dalam upaya meraih ridhoNya, bukankah tentram hati ini? Nothing to lose. Rasa ikhlas dan tulus bisa menghampiri dengan mudahnya jika segalanya karena Allah, bahkan tanpa menghitung-hitung pahala ibadah pun, segalanya bisa dilakukan secara sukarela demi merayu cinta dan kasihNya. Baiknya kita kembali bertafakur dan bertafakur setiap kali ada niatan yang hampir menyimpang.

  1. Mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya

Melakukan poin keempat ini tidak sesederhana mengutarakannya. Perintah dan laranganNya acap kali menemui gesekan dengan realita hidup yang dihadapi dan pergolakan hati manusia yang penuh dengan ambisi. Ketika gesekan itu muncul, gaungkan lah selalu dalam hati ini bahwa Allah tidak tidur, Allah melihat kita, Allah mengasihi kita yang mengingatnya dan mencintai kita selalu. Allah tidak memberi beban pada kita diluar kemampuan kita. Dalam musibah sekalipun, selalu ada nilai pelajaran yang bisa dipetik. Dan ingatlah selalu bahwa dunia ini fana, akhirat itu kekal. Sekali lagi, dunia ini fana, akhirat itu kekal.

  1. Jangan memelihara subjektifitas

Setiap kali hati dihinggapi dengki, benci, iri, dendam, dan penyakit hati lainnya, ingatlah bahwa kita tidak punya kontrol atas manusia lain selain kontrol terhadap diri sendiri. Ingatlah bahwa sederetan perasaan tersebut hanya akan mengurangi waktu produktif kita dalam berkegiatan maupun beribadah. Ingatlah pula bahwa hanya Allah yang berhak menghakimi hambaNya dan punya kontrol penuh terhadap segala ketetapan. Senantiasa menjadi manusia yang positif dan melepas segala yang negatif akan menjadi awal yang baik dalam melakukan aktivitas apapun.

Berakhiran baik berarti menyelesaikan tugas di dunia dalam keadaan menjadi muslim yang baik. Pada dasarnya kebaikan seorang manusia bisa dibangun pada dua lini, yaitu lini vertikal dan horizontal. Secara vertikal adalah habluminallah, me-maintain hubungan dengan Allah. Memenuhi perintahNya, senantiasa menyenangkanNya (menambah amalan-amalan sunnah, seperti shalat rawatib, tahajud, dhuha, puasa daud, dan tidak menunda-nunda sholat), juga senantiasa berdzikir dan bersyukur. Serta menghindari perkara-perkara yang dapat mengundang murkaNya (bersikap angkuh, menyekutukanNya, melanggar larangan-larangannya). Secara horizontal adalah habluminannas, khusus hubungan antar sesama manusia. Sebagai sesama manusia untuk tidak saling menyakiti, menjaga lisan dan segala bentuk hawa nafsu yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Senantiasa berada dalam koridor-koridor aturanNya ketika berhubungan dengan manusia lain, karena sesungguhnya Allah telah mengatur hajat hidup manusia sampai pada hal-hal yang paling kecil.

Hidup dan mati adalah pasti. (Dialah) yang menjadikan mati dan hidup, agar Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS Al-Mulk: 2).

Semoga bisa mengingatkan saudara-saudari muslimku dimanapun kalian berada. Setiap kali share, setiap itu pula ada muslim yang teringatkan untuk menyegerakan kebaikan dan meninggalkan keburukan sebagai upaya menyiapkan bekal di kehidupan yang kekal.

Reminder

Bersama Departemen Enviro PT Newmont Nusa Tenggara setelah mengambil sampel tailing hasil tambang di dekat palung laut
Bersama Departemen Enviro PT Newmont Nusa Tenggara setelah mengambil sampel tailing hasil tambang di dekat palung laut

Akhirnya ada yang bilang saya cantik, paling cantik malah, khusus di foto ini saja. Bersama rekan-rekan peserta Bootcamp dan profesional dari Departemen Enviro PT Newmont Nusa Tenggara, Januari 2015. Foto ini mengingatkan saya (kembali) kalau saya anak teknik. Seberapapun kecintaan saya terhadap dunia jurnalistik, sosial, budaya, dll, ini menyadarkan saya tentunya pengetahuan di bidang tersebut tidak dapat membantu saya menjawab soal ujian fenomena transport ataupun mekanika fluida. Setidaknya untuk saat ini, area yang sedang urgent untuk diperjuangkan adalah semua tentang teknik material dan metalurgi, hal terdekat yang bisa mengantarkan saya untuk  menjadi manusia yang memiliki skill nyata. Tenang, bukan berarti hobi diluar bidang teknik ditinggalkan, hanya saja lebih terkontrol di tahun ketiga nanti. Rasanya sudah waktunya membuat sesuatu, karya, menyelami lebih dalam tentang keprofesian sendiri. Alhamdulillah Ramadhan kali ini dapat ilham, sudah tidak galau lagi soal track pasca kuliah. Yah, manusia dinamis, setidaknya keputusan saat ini membantu prioritas kedepan. Karena masalah bangsa ini tidak hanya pada persoalan politis saja, tapi masalah-masalah teknis juga. Orang-orang dengan latar belakang teknik berwawasan politik ditambah empati dan kepekaan sosial baik dengan spiritualitas+intelektualitas yang kuat, dibutuhkan banyak di negeri ini bukan?

Memoar 20 Tahun

Ini saya, sedang duduk makan french fries sambil memangku tas backpack eiger kesayangan. Pukul 23.25 WIB, 17 Januari 2015 di bar Lobby Airport Cafe, Bandara Juanda Surabaya, sendirian. Jari jemari asyik menari diatas keyboard lipat, mengganti peran keyboard laptop yang ketumpahan bumbu sate padang kapan hari itu. Seharusnya sibuk membaca Study Guide bertopik Journalistic Freedom untuk selanjutnya membuat sebuah position paper, tapi hati ini gatal ingin membeberkan semuanya. Siap-siap, semuanya.

Sebelum pagi, sebelum subuh, dan sebelum pesawat tujuan Lombok take off. Biarkan jemari saya terus menari.

Lahir di Bandung 22 Januari 1995. Belum masuk tanggal 22 pun, awal tahun 2015 serasa mencekik. Januari selalu menjadi bulan yang paling membikin penasaran. Tapi tidak kali ini. Saat-saat ini adalah turning point hidup saya yang pergeserannya luar biasa, hampir 180 derajat bisa saya bilang. Momen paling melankolis yang pernah ada. Saya harap, ini momen terburuk dalam hidup saya, terburuk dari yang terburuk. Supaya tidak pernah saya temui lagi momen yang lebih buruk dari ini.

Tidak salah jika psikologi sepakat, kalau masalah itu sesungguhnya hanya ada dalam otak manusia saja, dan hampir tidak pernah betul-betul terjadi. Dari sebuah kecemasan saja, katanya psikologi, hanya 2% kecemasan yang mungkin akan benar-benar terjadi. Ah, basi, tetap saja tidak bisa mereduksi kegelisahan saya.

Memang betul, masalah itu tidak benar-benar ada. Atau mungkin belum. Tapi Tuhan, tolong, usia 20 tahun ini masalah buatku. Masalah refleksi hidup. Saya mau kemana? Kenapa rencana-rencana terdahulu yang pernah saya susun sedemikian cantik itu nampak seperti sampah sekarang ini? Kenapa saya kehilangan semangat yang menggebu-gebu itu? Kenapa ayat-ayatMu mengalami kemacetan dalam implementasi yang menenangkan buatku ya Allah? Kenapa upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan hidup sebagai khalifah fiil ard ini begitu banyak hitamnya daripada putihnya ya Allah? Kenapa belakangan aku sangat iri kepada saudaraku yang telah Engkau panggil di usia belia? Seperti apa selayaknya aku menunggu mati?

Kenapa

Besyukur, kegalauan ini masih dikeetahui sebabnya. Ini akumulasi tentang penasaran yang hampir habis. Tentang ambisi yang sempat tidak terkontrol, keluar track dari goal sesungguhnya, lantas tersadarkan oleh variabel yang tidak terseimbangkan. Gott sei dank!

Selama 20 tahun, ada banyak catatan yang terceklis dan terlewati. Komposisi dan keberpengaruhan dari setiap pencapaian berhasil maupun gagal nampak begitu harmonis saling menyempurnakan. Dari sini, berangkatlah aku semakin percaya akan Dia sebagai Perencana terbaik.

Beberapa Catatan Lalu

Sejak kecil, saya tidak pernah bermimpi untuk pergi ke luar negeri selama satu tahun menjadi siswa yang ditukar. Tidak pernah. Saya hanya berpikir, bahwa hal itu memang akan terjadi pada saya, bukan bermimpi. Memasuki SMP, saya bahkan sempat lupa tentang pikiran tersebut. Tapi anehnya, kesempatan itu datang begitu saja, bahkan melalui kawan facebook yang tidak pernah saya temui secara langsung.

Ilmi Mayuni Bumi, AFS Participant to Switzerland 2011-2012.

Berkebaya di Kota Bern, Swiss.
Berkebaya di Kota Bern, Swiss.
Salju pertama. Rikon-Zurich, Swiss.
Salju pertama. Rikon-Zurich, Swiss.
Skiing pertama. Di Elm-Glarus, Swiss.
Skiing pertama. Di Elm-Glarus, Swiss.
Trip Swiss-Italian part, Lugano.
Trip Swiss-Italian part, Lugano.
With Other Exchange Students!
With Other Exchange Students!

This is the biggest event in my life. Saya sangat yakin, saya hari ini tidak akan ada tanpa pengalaman menjadi siswa AFS. Secara pengalaman, perjalanan spiritual saya dan penemuan jati diri terjadi dalam rentan waktu 11 bulan di negeri Eropa sana. Secara track record, title AFSer telah banyak meloloskan saya kepada berbagai macam kesempatan pasca kepulangan bahkan hingga kuliah sekarang ini. Alhamdulillah, apa yang Allah siapkan untuk satu individu kecil ini?

Saya selalu berpikir, saya akan berkuliah di Bandung atau di luar negeri. Bukan di Surabaya. Meski telah melalui usaha luar biasa, tapi tangan Tuhan tidak mungkin lepas, itu yang saya yakini. Apa lagi ini menyangkut pintu jalan hidup, tentang bidang yang akan digeluti, lingkungan yang akan membentuk, orang-orang yang akan dipertemukan dengan kita, dan masih banyak lagi life-changing variable lainnya. Hingga saya berakhir pada sebuah penerimaan, bahwa ada banyak alasan ditempatkannya saya di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Jurusan Teknik Material dan Metalurgi.

Saya terus mencari alasan itu, yang bisa saja terjawab sekarang, atau nanti berpuluh tahun lagi. Dalam rentang waktu 17 bulan, ini yang sudah saya lakukan di Kampus Perjuangan:

Become part of Himpunan Mahasiswa Teknik Material dan Matelurgi, HMMT.
Become part of Himpunan Mahasiswa Teknik Material dan Matelurgi, HMMT.
Having great family!
Having great family!
MT 15 family!
MT 15 family!
Paticipating on Young Engineers and Scientists Summit 2014 as Public Reations.
Paticipating on Young Engineers and Scientists Summit 2014 as Public Reations.
Tidak melupakan jas merah! @ HOS Tjokroaminoto House
Tidak melupakan jas merah! @ HOS Tjokroaminoto House
Having a great team also family, ITS Online :)
Having a great team also family, ITS Online 🙂
Doing social project ;)
Doing social project 😉
Become modertor at a press conference for the very first time
Become modertor at a press conference for the very first time
Screaming freely as unplanned MC
Screaming freely as unplanned MC
again
again
Knowing Nannotechnolgy and became part of Nano World Indonesia
Knowing Nannotechnolgy and became part of Nano World Indonesia
Hidup Mahasiswa!
Hidup Mahasiswa!

Catatan Hari ini

Hal terdekat yang akan saya temui dalam beberapa jam dari saat saya menulis ini adalah berpetualang ke Batu Hijau, Sumbawa. Memenangkan kompetisi blog tentang UU Mineral dan Batu bara mengantarkan saya kesana untuk melihat langsung lokasi pertambangan PT Newmont Nusa Tenggara dan kehidupan masyarakat disana. Siap-siap!

Exciting sekaligus bingung, karena saya meninggalkan banyak catatan penting lainnya untuk menyipip hiruk pikuk kehidupan tambang di PTNNT. Beberapa jam lalu, masih di bandara, saya tidak sendiri. Karena saya ditemani partner sekaligus kawan project bisnis yang sudah berjalan empat bulan. Kami masih harus rapat. Sebagai koordinator proyek, saya harus mengkondisikan manajerial proyek dalam keadaan baik ketika saya tinggalkan. Sebagai penerima beasiswa Astra 1st Scholarship Program dari PT Astra International Tbk, kami memang diberi kesempatan untuk menjadi business consultant sungguhan untuk salah satu anak perusahan Astra. Menjadi salah satu hal yang sangat challenging buat saya!

Fantasix Team, Astra workshop Program
Fantasix Team, Astra workshop Program
Again, fantasix
Again, fantasix
My Astra people
Some of my Astra people

Tak kalah menantang dan penting, catatan lain yang saya tinggalkan adalah segala kepentingan lomba simulasi sidang PBB terbesar, tertua, dan paling prestisius itu. I am part of ITS Delegation for Harvard National Model United Nations (HNMUN) 2015, di Boston Amerika. Lomba yang akan dihelat di salah satu hotel luxurius, Marriott Copley Palace ini menguras banyak tenaga dan pikiran. Mulai dari latihan, komitmen, sampai pencarian dana. Meski visa sudah di tangan dan persiapan terus kami lakoni, namun masih banyak upaya yang harus kita lakukan agar kita benar-benar berangkat ke negeri Paman Sam dan berlomba sebagai delegasi pertama Kampus Perjuangan di lomba paling bergengsi itu. However, till today, I ve learned a looot from them, from our activities!

ITS Delegation for Harvard National Model United Nations 2015
ITS Delegation for Harvard National Model United Nations 2015
ITS Delegation for Harvard National Model United Nations 2015
ITS Delegation for Harvard National Model United Nations 2015
My partner at the same council: Social, Humanitarian, and Cultural Committee
My partner at the same council: Social, Humanitarian, and Cultural Committee

Tidak berhenti sampai disitu, alhamdulillah catatan menggalaukan lainnya datang dari Italia. Sempat ditolak tahun lalu, kini kesempatan itu seperti datang dengan ringgannya. Saya dinyatakan lolos sebagai jurnalis untuk RomeMUN dan termasuk kedalam kandidat penerima total scholarship. Sayang, scholarship yang katanya total itu tidak men-cover biaya visa dan tiket pesawat. Haruskah saya melepas kesempatan untuk kembali ke Eropa? Lalu makna pelangi di Eropa yang sempat menampakkan diri pada saya itu apa? (Konon jika pernah melihat pelangi di Eropa, maka kita akan kembali kesana hehe)

E-mail yang justru membuat cemberut bingung
E-mail yang justru membuat cemberut bingung

Catatan lainnya, sebagai staff Kementerian Kebijakan Publik BEM ITS, Kedirjenan Agitasi dan Propaganda, saya merupakan penanggungjawab aksi. Yang berarti, saya akan bertanggung jawab terhadap perencanaan dan pelaksanaan aksi yang akan ditempuh oleh KM ITS. Challengging bukan? Geregetin tapi bikin gemeter.

DSC_9200 edit

Profesi sampingan sebagai Reporter kampus pun telah menembuskan saya sebagai bagian dari tim penulisan buku “25 Ilmuwan Indonesia yang Mendunia”. Besutan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) bersama Nano World Indonesia dan Masyarakat Nano Indonesia. Tanggung jawab lain yang menunggu untuk diusaikan dengan gemilang.

Si pelaku pers
Si pelaku pers.

Akademik. Setelah mengalami kemerosotan luar biasa pada semester pembuka tahap sarjana, saya mendampat tamparan keras. Kegalauan dimulai. Saya ini mau jadi apa? Apa yang mau saya tonjolkan? Alhasil daripada galau, saya lebih memilih untuk memantapkan squad akademik yang baik dan pencapaian yang tidak biasa.

Begitu banyak catatan anugerah maupun godaan langsung/tak langsung yang harus senantiasa ditafakuri. Agar tidak keluar jalur dan salan orientasi hidup.

Tidak menyangka, Ilmi, seorang anak yang semasa kecilnya hobi menangis kencang sampai satu RT kedengaran ini segera menginjak usia 20 tahun. Bersyukur atas kegalauan yang menimpa, rasanya lebih baik galau daripada banyak tertawa tanpa sempat mentafakuri apa yang sudah diberiNya.

Karena inti dari berkuliah (dan mengarungi hidup) adalah mau bekerja keras dan berdamai dengan kenyataan. (Ilmi Mayuni Bumi, 2015)

Nabi Muhammad sekalipun, yang ahlaqnya
mulia, masih saja mendapat ujian berupa
kebencian dari orang lain, cercaan, hingga
fitnah.

“Tiada menimpa seorang mukmin
(mukminah), kesulitan, kesedihan, dan
sakit, meski hanya terkena duri, melainkan
Allah akan mencatat baginya satu kebaikan
atau menghapus satu dosa karenanya.” (HR
Bukhari).

Apa lagi jika kesulitan tersebut menerpa kita
karena keimanan kita kepada Allah dan
keteguhan kita untuk menjadi orang
bertaqwa. Bahkan Aisyah istri Fir’aun pun
rela menerima siksaan Fir’aun atas apa
yang ia imani. Bismillah, Allah senantiasa
bersama orang-orang yang terdzalimi.

Ilmi Mayuni Bumi, 17 Nopember 2014

Mungkin, Suatu Hari, Entah Kapan

Tahun lalu, sebelum meninggalkan Bandung untuk berkuliah di Surabaya, seorang sahabat menghadiahi saya sebuah buku cerita pendek karya Habiburrahman El Shirazy yang berjudul: Pudarnya Pesona Cleopatra. Ketika saya baca, struktur bahasa seorang Habiburrahman benar-benar membuat saya terkagum! Sampai lebih dari satu tahun berlalu, belum lama ini saya membongkar buku-buku bacaan di bawah lemari kosan, kembali saya temukan novel tersebut. Memandangi cover-nya agak lama, dari dua judul cerpen yang terdapat dalam buku tersebut, saya hanya mengingat isi kisah satu judul cerpen saja. Karena penasaran, saya membacanya lagi, hanya di cerpen yang ke-2. Hasilnya, yang menjadi fokus saya bukan lagi gaya tulisan Habiburrahman yang luar biasa indah itu, tapi isi kisah seorang tokoh Niyala disana. Hingga sampailah pada satu halaman yang memuat sebuah puisi karya beliau:

mas kawin untuk bidadariku
adalah sekuntum bunga melati
yang aku petik
dari sujud sembahyangku
setiap hari


buah cintaku
dengan bidadariku
adalah lahirnya generasi teladan
yang menggendong tempayan-tempayan kemanfaatan
bagi manusia dan kemanusiaan
pada setiap tempat, pada setiap zaman


mereka lahir demi kesejatian sebuah pengabdian
dalam abad-abad yang susah,
abad-abad tidak mengenal Tuhan
abad-abad hilang naluri kemanusiaan
abad-abad berkuasa rezim-rezim kemungkaran
dan mereka tetap kekar dan setia
membela kebenaran
dan keadilan


estafet perjuangan kami berkelanjutan
sambung-menyambung pada setiap generasi
tak berpenghabisan
terus bergerak
mengaliri ladang-ladang peradaban
seperti cintaku
pada bidadariku
yang terus tumbuh
semakin subur
dari hari ke hari
laksana kalimat-kalimat suci
di hati para salehin
di hati para nabi

Puisi yang berjudul “Bidadariku” ini terasa berbeda ketika saya baca kemarin, emosi yang ditimbulkan amat berbeda dibanding saat pertama kali membaca buku ini. Saya menyadari ada yang berubah dari diri saya, tak aneh, satu tahun pastilah bisa merubah seseorang. Tapi sisi bagian mana yang berubah? Rasanya sebuah naluri, perasaan alami yang tidak bisa tertolak kehadirannya ketika membaca puisi ini. Entah memang saya yang terlalu melankolis saja pada saat membacanya, atau apa. Tapi ada perasaan bertanya-tanya, tentang rencana Allah, padaku. Tentang sisi kehidupanku, yang ini. Apa mungkin karena belakangan aku sudah mulai merasa menjadi wanita yang utuh? Ah, tetap saja belum utuh, tanpa ini. Mungkin, suatu hari, entah kapan.

A Little Story about The Astra1st (Batch IV)

As a concrete manifestation of Astra concern to the Indonesia’s education sector and Astra Roadmap strategy, namely: Portfolio, People & Public Contribution. Then in every second semester in each year, Astra gives scholarships and mentoring program for 1 year in developing technical competencies and non-technical or soft competencies.

What Will You Get :

  • Hands-on experience as BUSINESS CONSULTANT for Astra Group through project-based activity
  • Chance to be developed to BE YOUR BEST
  • Donation for study IDR 5 Million / semester
  • LEARNING OPPORTUNITIES in Astra Group

Through this program students are expected to be able to recognize the world of work more closely and can utilize Astra’s affiliated company environment to improve their soft and technical competencies.

In the future, Astra will continue to expand the mentoring program to students so they are ready to contribute optimally to the organizations where they work and become the qualified next generation.

Further info
10646818_857287600949369_950735458257754761_n

10659227_857209444290518_7275320780090532846_nFANTASIX!
Agil, Galih, Ilmi, Iga, Indah, Ernest, Eter, Putri, Julio, Richardo