Category Archives: Life

Jadi Pemuda? Tetap Persiapkanlah Kematian

Assalamualaikum wr wb. Teman-teman Muslim dam Muslimah dimanapun kalian berada, saudara-saudariku, bagaimana rasanya membayangkan sepetak tanah yang akan menjadi singgahsana terakhir kita? Kalau dibayangkan, rasanya langsung sunyi, di keramaian pun merasa sendiri, was-was, merasa rendah diri, sudah sesiap apa kita? Lalu akan diapakan semua pencapaian dan segala usaha keras duniawi yang selama ini kita kejar, akan diapakan? Bukan mustahil dalam perjalanannya kita melakukan banyak dosa, memang Allah Maha Pengampun, tapi sejauh apa kita layak diampuni?

Sebuah laporan global menyebutkan, kematian dini cenderung lebih banyak terjadi di kalangan remaja dan dewasa muda dibandingkan anak-anak. Riset yang dipublikasikan jurnal kesehatan The Lancet, kasus kematian pada usia remaja tampak lebih menonjol. Faktor-faktor seperti kekerasan, bunuh diri, dan kecelakaan lalu lintas diyakini sebagai penyebab utama. Untuk yang sedang berkuliah, teman-teman mahasiswaku, ajal bisa saja menjemput kita saat kita sedang berada di kelas, atau baru saja beranjak pulang dari forum kemahasiswaan, atau mungkin saat baru saja pulang bersenang-senang dari tempat foya-foya.

Saya ingin mengajak teman-teman pemuda Islam khususnya untuk turut mencemaskan kematian dan segera mempersiapkannya meskipun masih muda karena kematian tidak mengenal usia. Setidaknya jika usia kita dipanjangkan, bukankah indah jika akhir hidup kita khusnul khotimah?

Berikut poin-poin rangkuman yang kiranya bisa menjadi persiapan diri kita dalam menanti kematian:

  1. Membiasakan budaya tafakur (merenung)

Manusia adalah mahluk yang berpikir. Apalah arti buku-buku tebal mengenai fenomena fisika, biologi, material, dll kalau tidak mampu mengantarkan kita menjadi mahluk yang merenung, meresapi, dan menyimpulkan. Kapan kita mau sedikit menarik diri dari sekolompok kawan-kawan yang biasa mengajak kita tertawa menikmati hal-hal duniawi? Meluangkan waktu sendiri, benar-benar hanya sendiri antara diri dan Allah, menanyakan eksistensi diri (baca QS Al-Baqarah:30), menanyakan tugas sebagai manusia di muka bumi, menanyakan kenapa kita harus menjalani apa yang kita jalani hari ini, merencanakan segala bentuk usaha diiringi doa untuk meraih ridhoNya dan merayu cintaNya terhadap apa yang Dia tuliskan di lauhul mahfuz.

  1. Senantiasa berpikir jernih

Berpikir jernih dalam hal ini adalah kembali pada apa yang benar dan salah menurut agama. Tepis segala macam paradigma konyol yang dibangun oleh lingkungan masyarakat, kampus, maupun himpunan kemahasiswaan. Sekiranya ada sesuatu yang justru lebih banyak mendatangkan kedzaliman, kemudharatan, dan sedikit manfaat, kenapa harus bertahan didalamnya? Konsekuensi sosial bukan tidak mungkin menimpa kita saat kita berusaha sedikit memberi jarak pada aktivitas yang banyak mudharatnya, apa lagi jika lingkungan teman-teman/kampus cenderung sosialis. “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

  1. Meluruskan niat dalam segala tindakan

Segala bentuk amalan ditentukan oleh niat. Sebagai manusia yang memiliki naluri untuk bertahan hidup, tak jarang kita melakukan sesuatu atas dasar kepentingan yang amat duniawi dan sarat akan kesenangan sesaat. Andai segala kegiatan kita niatkan atas dasar ibadah dan dalam upaya meraih ridhoNya, bukankah tentram hati ini? Nothing to lose. Rasa ikhlas dan tulus bisa menghampiri dengan mudahnya jika segalanya karena Allah, bahkan tanpa menghitung-hitung pahala ibadah pun, segalanya bisa dilakukan secara sukarela demi merayu cinta dan kasihNya. Baiknya kita kembali bertafakur dan bertafakur setiap kali ada niatan yang hampir menyimpang.

  1. Mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya

Melakukan poin keempat ini tidak sesederhana mengutarakannya. Perintah dan laranganNya acap kali menemui gesekan dengan realita hidup yang dihadapi dan pergolakan hati manusia yang penuh dengan ambisi. Ketika gesekan itu muncul, gaungkan lah selalu dalam hati ini bahwa Allah tidak tidur, Allah melihat kita, Allah mengasihi kita yang mengingatnya dan mencintai kita selalu. Allah tidak memberi beban pada kita diluar kemampuan kita. Dalam musibah sekalipun, selalu ada nilai pelajaran yang bisa dipetik. Dan ingatlah selalu bahwa dunia ini fana, akhirat itu kekal. Sekali lagi, dunia ini fana, akhirat itu kekal.

  1. Jangan memelihara subjektifitas

Setiap kali hati dihinggapi dengki, benci, iri, dendam, dan penyakit hati lainnya, ingatlah bahwa kita tidak punya kontrol atas manusia lain selain kontrol terhadap diri sendiri. Ingatlah bahwa sederetan perasaan tersebut hanya akan mengurangi waktu produktif kita dalam berkegiatan maupun beribadah. Ingatlah pula bahwa hanya Allah yang berhak menghakimi hambaNya dan punya kontrol penuh terhadap segala ketetapan. Senantiasa menjadi manusia yang positif dan melepas segala yang negatif akan menjadi awal yang baik dalam melakukan aktivitas apapun.

Berakhiran baik berarti menyelesaikan tugas di dunia dalam keadaan menjadi muslim yang baik. Pada dasarnya kebaikan seorang manusia bisa dibangun pada dua lini, yaitu lini vertikal dan horizontal. Secara vertikal adalah habluminallah, me-maintain hubungan dengan Allah. Memenuhi perintahNya, senantiasa menyenangkanNya (menambah amalan-amalan sunnah, seperti shalat rawatib, tahajud, dhuha, puasa daud, dan tidak menunda-nunda sholat), juga senantiasa berdzikir dan bersyukur. Serta menghindari perkara-perkara yang dapat mengundang murkaNya (bersikap angkuh, menyekutukanNya, melanggar larangan-larangannya). Secara horizontal adalah habluminannas, khusus hubungan antar sesama manusia. Sebagai sesama manusia untuk tidak saling menyakiti, menjaga lisan dan segala bentuk hawa nafsu yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Senantiasa berada dalam koridor-koridor aturanNya ketika berhubungan dengan manusia lain, karena sesungguhnya Allah telah mengatur hajat hidup manusia sampai pada hal-hal yang paling kecil.

Hidup dan mati adalah pasti. (Dialah) yang menjadikan mati dan hidup, agar Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS Al-Mulk: 2).

Semoga bisa mengingatkan saudara-saudari muslimku dimanapun kalian berada. Setiap kali share, setiap itu pula ada muslim yang teringatkan untuk menyegerakan kebaikan dan meninggalkan keburukan sebagai upaya menyiapkan bekal di kehidupan yang kekal.

Reminder

Bersama Departemen Enviro PT Newmont Nusa Tenggara setelah mengambil sampel tailing hasil tambang di dekat palung laut
Bersama Departemen Enviro PT Newmont Nusa Tenggara setelah mengambil sampel tailing hasil tambang di dekat palung laut

Akhirnya ada yang bilang saya cantik, paling cantik malah, khusus di foto ini saja. Bersama rekan-rekan peserta Bootcamp dan profesional dari Departemen Enviro PT Newmont Nusa Tenggara, Januari 2015. Foto ini mengingatkan saya (kembali) kalau saya anak teknik. Seberapapun kecintaan saya terhadap dunia jurnalistik, sosial, budaya, dll, ini menyadarkan saya tentunya pengetahuan di bidang tersebut tidak dapat membantu saya menjawab soal ujian fenomena transport ataupun mekanika fluida. Setidaknya untuk saat ini, area yang sedang urgent untuk diperjuangkan adalah semua tentang teknik material dan metalurgi, hal terdekat yang bisa mengantarkan saya untuk  menjadi manusia yang memiliki skill nyata. Tenang, bukan berarti hobi diluar bidang teknik ditinggalkan, hanya saja lebih terkontrol di tahun ketiga nanti. Rasanya sudah waktunya membuat sesuatu, karya, menyelami lebih dalam tentang keprofesian sendiri. Alhamdulillah Ramadhan kali ini dapat ilham, sudah tidak galau lagi soal track pasca kuliah. Yah, manusia dinamis, setidaknya keputusan saat ini membantu prioritas kedepan. Karena masalah bangsa ini tidak hanya pada persoalan politis saja, tapi masalah-masalah teknis juga. Orang-orang dengan latar belakang teknik berwawasan politik ditambah empati dan kepekaan sosial baik dengan spiritualitas+intelektualitas yang kuat, dibutuhkan banyak di negeri ini bukan?

Terlalu Sibuk Menuntut Kesetaraan

Dibanding 8 Maret (Hari Perempuan Internasional), rasanya 21 April lebih melekat bagi perempuan Indonesia. 21 April menjadi sedemikian penting karena dikatakan sebagai Hari Kartini, tokoh yang memperjuangkan hak-hak perempuan di Indonesia. Terlepas dari kontroversi kelayakan klaim yang jatuh pada Kartini (bukan pada tokoh pejuang perempuan lainnya) ataupun isu kejanggalan soal bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang, setidaknya kemunculan peringatan tentang perempuan pada tanggal 21 April dan 8 Maret ini menunjukkan bahwa perjuangan kaum feminis tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di belahan bumi lainnya.

Emansipasi banyak didengungkan pada hari ini. Menurut KBBI, emansipasi adalah pembebasan dari perbudakan, atau dalam kata lain persamaan hak antara kaum wanita dan kaum pria pada berbagai aspek kehidupan masyarakat. Di belahan bumi lain, masih di sekitaran tahun 1960an, pergerakan perempuan yang menamai diri sebagai kaum feminis pun semakin menjadi. Bekas sejarah tersebut dibuktikan dengan penetapan hari khusus Perempuan Internasional dan hari Kartini di Indonesia. Pertanyaannya adalah, kenapa bisa terjadi emansipasi? Mengapa sejarah mencatat adanya tuntutan para perempuan terhadap sebuah kesetaraan? Jika diilhami, istilah kesetaraan hanya akan muncul jika terjadi ketimpangan atau kata lain yang bersifat negasi dari kesetaraan.

Mari Kita Menengok Sejarah

Pada zaman Yunani Kuno, martabat perempuan sangat direndahkan. Filosof Demosthenes berpendapat bahwa perempuan hanya berfungsi untuk melahirkan anak. Aristoteles pun menganggap perempuan sederajat dengan hamba sahaya. Tak hanya itu, Plato menilai, kehormatan lelaki ada pada kemampuannya memerintah, sedangkan kehormatan perempuan menurutnya ada pada kemampuannya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sederhana dan hina.

Beralih ke sudut lain, pada tahun 586 M, sempat tercetus pikiran dari salah seorang agamawan Perancis mengenai kebolehan seorang perempuan dalam menyembah Tuhan dan statusnya yang dapat masuk surga atau tidak. Pemikiran-pemikiran tersebut berakhir pada sebuah kesimpulan, bahwa perempuan memiliki jiwa namun tidak kekal. Perempuan dianggap hanya bertugas untuk melayani lelaki dan bebas diperjualbelikan. Begitupun sepanjang zaman pra-Islam, posisi perempuan hanya sampai pada posisi pelayan kaum lelaki. Pada zaman Jahiliyah (kebodohan), para orang tua yang memiliki anak perempuan akan menguburnya hidup-hidup karena dianggap sebagai aib.

Melihat catatan sejarah yang seperti itu, tak aneh jika muncul pergerakan kaum feminis untuk menuntut kesetaraan, karena telah terjadi ketimpangan bahkan penghinaan. Sedangkan parameter kesetaraan itu sendiri berbeda-beda seiring perbedaan budaya di berbagai belahan bumi. Hal itu bermakna, bahwa parameter kesetaraan ini berkiblat pada kondisi sosial, politik, norma-norma, dan ekonomi yang berlaku di setiap lapisan peradaban berbeda. Seiring berjalannya waktu, zaman telah membrei kondisi berbeda dengan masa kelam perempuan di masa lalu, zaman telah memiki daya tawar dan opsi lebih bagi kaum perempuan. Meski demikian, pergerakan kaum feminis hingga hari ini masih terbilang cukup agresif. Namun pertanyaannya, kesetaraan seperti apa lagi yang ingin dicapai? Kaum feminis banyak menuntut kesetaraan yang bersifat kultural. Sejauh apa relevansi pergerakan perempuan seperti ini sebetulnya?

Eksistensi Perempuan

Eksistensi atau keberadaan dipastikan memiliki makna. Setidaknya Tuhan menciptakan benda sekecil apapun melainkan untuk suatu fungsi (pernyataan ini tidak berlaku untuk kaum atheis). Secara lahiriah, sains telah membuktikan bahwa struktur fisik lelaki dan perempuan berbeda. Tak terkecuali struktur otak dan kondisi hormonalnya yang sudah barang pasti mempengaruhi pola perilaku seorang individu. Jika diuraikan, Michael Gurian dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa perempuan:

  1. Memiliki corpus callosum atau penghubung jaringan antarbagian otak pada perempuan rata-rata lebih besar 25% pada saat akil baligh. Ini berefek pada terjadinya komunikasi saling-silang dalam otak yang membuat perempuan kerap berkomunikasi sendiri.
  2. Memiliki konektor lebih kuat dalam lobes atau salah satu bagian dari otak. Manfaat konektor ini memungkinkan perempuan lebih terampil mengerjakan tugas-tugas tertulis.
  3. Memiliki hippocampus atau area penyimpan memori dalam otak yang lebih besar. Tak aneh jika perempuan lebih mudah dalam mempelajari bahasa.
  4. Memiliki prefrontal cortex yang berkembang lebih awal dan lebih aktif, sehingga menjadikan perempuan cenderung tidak impulsif.
  5. Lebih sering menggunakan area korteks sehingga perempuan lebih bisa mengatur emosi dan bicaranya.
  6. Aliran volume darah yang mengalir ke otak perempuan 15% lebih banyak dari otak laki-laki, hal itu membuat perempuan lebih bisa mengatur aktivitas kejiawaannya.

Sedangkan otak laki-laki dikatakan lebih unggul dalam matematika dan fisika, terutama subyek-subyek abstrak. Laki-laki cenderung bersifat impulsif, bukan tipikal pendengar yang baik, dan lebih tertarik pada permainan-permainan.

Islam Tertuduh, Islam Menjawab

Jauh sebelum hasil penelitian sains dipublikasikan, Islam sudah membagi peran laki-laki dan perempuan serta mengklaim bahwa aturan-aturannya penuh dengan pemuliaan terhadap perempuan. Jika harus dibandingkan dengan kehidupan pra-Islam, perempuan dalam konsep kehidupan yang ditawarkan Islam memang dapat dikatakan lebih mulia. Namun kenyataannya, Islam masih dikatakan sebagai agama yang tidak memberikan Hak Asasi Perempuan (HPA). Penilaian tersebut tidak lepas dari aturan-aturan Islam seperti dalam kepemimpinan, perempuan tidak boleh memimpin, dalm hak waris hanya mendapat setengah dari bagian laki-laki, dalam kesaksian pun hanya dianggap setengah dari kesaksian laki-laki. Salah satu hadits yang menuai banyak polemik adalah hadits Muttafaqun ‘alaih, HR Bukhari no.1462 dan Muslim no.79:

“Aku tidak pernah melihat orang kurang akal dan agamanya paling bisa mengalahkan akal lelaki yang kokoh daripada salah seorang kalian (kaum wanita).”

Syaikh ‘Abdul Kairm menerangkan, dalam tafsir tentang makna kurang akal dan agama telah diterangkan dalam hadits tersebut. Bahwa yang dimaksud kurang akal adalah karena persaksian wanita itu separuh dari persaksian laki-laki (sebagaimana tertera pada QS. Al-baqarah: 282).

Pertanyaannya, apakah akal perempuan terdesain sedemikian rupa untuk selamanya berada dibawah derajat laki-laki dan tidak akan pernah setara? Atau dimaksudkan untuk tujuan lainnya? Padahal jika diteliti hasil penelitian secara ilmiah dan capaian-capaian perempuan di zaman ini, hampir tidak bisa dibedakan bahkan tak jarang melebihi laki-laki. Jika ditelaah kembali, masalah akal ini tidak sesederhana menyinggung soal daya pikir dan kecerdasan saja. Namun lebih kepada kadar kesaksian (ingatan dan lupa). Lupa atau ingat ini adalah hal yang berkaitan dengan data empirik serta pengalaman, sama antara laki-laki atau perempuan. Akan tetapi perempuan memiliki kekhususan, dimana perempuan lebih banyak mengalami keadaan berbeda-beda. Terdapat banyak siklus hidup pada perempuan yang berkaitan dengan tubuh dan perasannya yang keduanya sangat berpengaruh pada proses berpikir perempuan. Boleh dikatakan, berdasarkan hal ini, Islam menjawabnya dengan pembagian peran dan menghukumi perempuan sesuai tabiat dan kehidupan kesehariannya dalam masyarakat islami secara lebih khusus.

Pergerakan Perempuan: Membangun Masyarakat yang Madani

Setiap zaman memang memiliki ceritanya masing-masing. Era tahun 60-an sudah berlalu, demikian pun dengan sejarah yang mencatat pergerakan-pergerakan perempuan pada masanya. Kini kita dihadapkan dengan zaman yang kian dinamis, entah dari segi sosial, politik, dan ekonomi. Perempuan pun memiliki lebih banyak opsi di abad 21 ini. Sejak dulu, tidak bisa ditampikkan bahwa manusia mendambakan kehidupan yang damai dan sejahtera. Masyarakat yang madani diidam-idamkan, segala bentuk sistem dan usaha tak struktural pun ditempuh demi mencapai sebuah peradaban sejahtera.

Mari kita berpikir sederhana, karena pergerakan tidak harus selalu diawali dengan pemikiran-pemikiran yang kompleks. Suatu peradaban terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, bermasyarakat dapat berarti adanya interaksi bersama antar rumah tangga. Keluarga memuat bebrapa idividu yang merupakan komponen terkecil dari masyarakat. Nilai-nilai luhur yang dapat berlaku di masyarakat (sebagai syarat menuju masyarakat yang madani) dibawa oleh individu. Maka dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah wadah terdekat dan paling strategis dalam mebangun peradaban sejahtera dengan masyarakat yang madani. Pendidikan dalam keluarga melahirkan individu-individu yang beradab, tanpa peduli tantangan yang akan terjadi di arena kemasyarakatan yang lebih luas, namun dengan individu yang berprinsip, hal ini bukan tidak mungkin terjadi.

Perempuan terhukum secara sosial maupun agama, rata-rata untuk berada di rumah dan mendidik anak-anak. Dikolerasikan dengan fitrah bahwa perempuan harus mengandung yang berefek pada intuisi lebih terhadap anak yang dilahirkannya. Mencoba merendahkan hati dan menerima fenomena ini, tidakkah kita melihat bahwa perempuan ini sebetulnya sudah memiliki wadah pergerakannya sendiri?

Bahwa perempuan dikatakan sebagai racun dunia. Laki-laki bisa sukses dan bisa hancur karena perempuan. Individu-individu hebat, pemimpin-pemimpin bijak hanya akan lahir dari rahim perempuan cerdas dan bertanggung jawab (sebab mengapa pendidikan tinggi pantas dienyam kaum perempuan). Bahwa perempuan sesungguhnya sudah memiliki senapan jitu, hanya tinggal menambah amunisinya saja. Dalam menambah amunisi inilah kaum perempuan kiranya bijak memilih alur yang tidak membuyarkan fokus akhirnya. Bahwa rupanya wadah pergerakan perempuan ini sudah eksis bahkan sangat strategis. Sedemikian jelas ranah-ranah kepemimpinan khusus perempuan ini, dengan karakterisitk yang hanya dimiliki oleh kita, betapa besar dampak yang dapat dihasilkan.

Kepada Srikandi-srikandi Indonesia.. Sebesar itu kekuatan kita, dan kita masih menuntut kesetaraan?

Setidaknya zaman sudah memberi opsi, hanya tinggal memilih peran yang tidak membohongi dasar hati nurani dan naluri kewanitaan. Selamat 21 April, Selamat Hari Kartini!

__________________________________________

Catatan: penulis menulis berdasarkan riset dan beberapa pandangan pribadi. Penulis mengambil contoh kasus dalam Islam karena penulis menganut agama Islam.

Tambang itu seksi!

Tulisan tambang mending dibawa santai aja ya, biar ga malesin hehe.

So, dalam pattern pikiran gue, ada tiga bidang yang menurut gue akan membuat si pelaku bidang tersebut terlihat seksi. Which means, bidangnya emang menggairahkan ya maksud gue (iya aja deh). Kalau diurut, pertama pertambangan, kedua otomotif/manufaktur, ketiga perkapalan/penerbangan.

And lucky me! Keisengan ikut blog competition tentang UU Mineral dan Batu Bara yang digelar PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) telah berhasil mengantarkan gue untuk mengenal hal terseksi urutan pertama. Jadi, para pemenang blog competition ini selanjutnya menjadi peserta Sustainable Mining Bootcamp batch IV. Bootcamp ini adalah kegiatan 8 hari untuk mengenal pertambangan di PTNNT dan kesosial-masyarakatan di area Sumbawa (Batu Hijau).

Jadi, 18-25 Januari ini gue di tengah hutan looh :3 Kota di tengah hutan lebih tepatnya, di Batu Hijau Sumbawa, Indonesia tengah 😀

Sempat Tertunda

Kompetisi ini sudah dimenangkan dari sejak Februari 2014, tapi kok baru terlaksana bootcampnya di Januari 2015?

Buat yang ngikutin perkembangan berita tentang nasionalisasi pengelolaan sumber daya alam sih pasti tahu. PTNNT ini sempat berhenti beroperasi karena ketiadaan ruang lagi untuk menimbu ore (mineral tambang). Kok bisa? Ini adalah efek pemberlakuan UU Minerba, dimana hasil tambang mineral dalam negeri harus diolah didalam negeri juga, sedangkan PTNNT biasanya selain mengolah pemurnian mineral di PT Smelting Gresik, tapi juga ekspor keluar negeri untuk diolah, karena memang limit jumlah konsentrat yang bisa diolah di dalam negeri terbatas.

Parahnya, pemberlakuan UU ini berefek juga pada beacukai ekspor konsentrat ini, kalau kemahalan dan ga ekonomis, buat apa capek-capek nambang? Lagian konsentrat ga bisa ditimbun lama-lama, gudang udah full juga. Akhirnya PTNNT sempat berhenti beroperasi dan gilanya ini sampai melumpuhkan perekonomian di area penduduk sekitar site town.

Sebab itu, alokasi waktu bootcamp kita ini diposisikan padamasa operasi sudah normal lagi. Kan biar ada mining experience nya.

Ngomong-ngomong soal Nasionalisasi

Sibuk koar-koar setuju dengan tindakan agresif pemerintah untuk menolak keras ekspor konsentrat ke luar negeri dan mengolahnya di dalam negeri, kira-kira bijak ga tuh? Logika anak TK nih ye, Kontrak karya yang sudah dibangun dari sejak tahun 1986, apakah seringan itu diganggu oleh aturan undang-undang yang tetiba nongol tahun 2009?

Catatan penting, gue ga dibayar newmont ya, ini emang pure pandangan objektif gue.

Satu, “Kapok lu! Nambang di negara gue, tegas nih pemerintah gue. Cabut lo sono!,” ujar para aktivis itu. Tahukah elu, kalau saham Newmont sendiri di PTNNT ini hanya sekitar +/- 25 %? Lalu +/- 25% nya lagi perusahaan apaaa gitu dari Jepang (lupa, maaf, ga beretik jurnalistik banget). Nah sisanya punya pihak-pihak Indonesia semua, mulai dari depkeu bahkan sampe bakrie punya saham disini.

Kegaksiapan nasionalisasi nampak jelas. Perusahaan tambang cuma dihimbau untuk mengolah mineral dalam negeri, bukan membangun smelter sendiri-sendiri. Ya dipikir aja, buat anak metalurgi nih ya, secara ekonomi teknik, bukannya bakal rugi? Tergantung sih emang, tapi hasil hitung-hitungan newmont dengen present worth dan annual cost yg udah di-range, akumulasi usia eksistensi pertambangan mereka di batu hijau sampai akhirnya proyek berkhir, tidak sebanding dengan waktu usia smelter yang dibangun untuk akhirnya balik modal.

Simpelnya, emang kondisi di sumbawa ga memungkinkan buat bangun smelter. Hal itu udah dikoar-koarkan ke pemerintah, tapi pemerintah abai. Lumayan noleh cuma pas newmont ngadu ke abitrase (huehehe kena lo). Barulah muncul kesepakatan untuk join jadi pemasok ke smelter yang akan dibangun freeport (ini karena kondisi freeport memungkinkan) dan diberi izin ekspor lagi sementara smelter dibangun.

Dua, “Ada kok perundang-undangannya, kalo segala kekayaan alam ini adalah untuk rakyat Indonesia. Lah faktanya?” Nah gue gak tau ya kondisinya kalo di perusahaan-perusahaan yang mengeruk kekayaan alam kita lainnya, tapi di newmont gue tau nih. Se per sekiannya dari penghasilannya gitu (lagi, ga beretik jurnalistik, ampun), harus dialokasikan untuk pengembangan masyarakat Indonesia. Kan tiap perusahaan ada program CSR nya tuh, nah lewat program CSR ini lah perusahaan melaksanakan kewajibannya. Dulu, katanya, sebelum proyek tambang Batu Hijau ini dimulai, warga di daerah Sumbawa Barat ini terbelakang bangeet, ekonomi mati. Tapi newmont hadir melakukan pembangunan mulai dari infrastruktur, pendidikan, dan masih banyak lagi (bisa dibuka di halaman web resmi ptnnt).

Yang nasionalis, yuk mikir solutif!

Mining Experience

Nah, agenda bootcamp paling pertama adalah mengenal area tambang. How it works dan lain-lain. Bisa dicek di twitter gue: @ilmibumi dengan hashtag #NewmontBootcamp 😀

Satu hal yang pengen gue paparkan disini (karna gak gue paparkan di twitter) adalah atmosfer pemandangan area tambang disini. Kok gue gak nemu om-om gendut buncit ya? Semuanya gahar, maco, dan maskulin banget! Haha makanannya sehat (all prepared karena town site ini ada di tengah hutan). Ada pusat-pusat olah raga, billiard, bar, masjid, dan klinik juga. Meskipun tambang itu keras dan menjenuhkan nampaknya, tapi mereka nampak enjoy. Btw, pada religius gitu nuansanya. Berada di pedalaman dan aktivitas monoton emang bikin melankolis yaa :3 mencari ketenangan bersama Tuhan kali ya. Overall luar biasa!

Sedikit gallery:

Welcome!
Welcome!
Welcome in Lombok! Untuk menuju Batu Hijau, kita harus naik boat dulu dari pelabuhan Kayangan ke Benete
Welcome in Lombok! Untuk menuju Batu Hijau, kita harus naik boat dulu dari pelabuhan Kayangan ke Benete
Excited syekalii menuju pit pertambangan!
Excited syekalii menuju pit pertambangan!
Dibriefing dulu sebelum turun~
Dibriefing dulu sebelum turun~
Makan siang dulu ya... makanannya terjaga sehat banget loh!
Makan siang dulu ya… makanannya terjaga sehat banget loh!
yeaah!!
yeaah!!
Penampakan pit yang kedalamannya -240 mRL dibawah permukaan laut. Btw, area hasil galian tambang di Batu Hijau ga akan dibiarin hitu saja loh, tapi bakal direklamasi sampai hijau kembali ;)
Penampakan pit yang kedalamannya -240 mRL dibawah permukaan laut. Btw, area hasil galian tambang di Batu Hijau ga akan dibiarin hitu saja loh, tapi bakal direklamasi sampai hijau kembali 😉

All pictures ada yang captured by me, by admin @newmontid, dan kak dzul.

Memoar 20 Tahun

Ini saya, sedang duduk makan french fries sambil memangku tas backpack eiger kesayangan. Pukul 23.25 WIB, 17 Januari 2015 di bar Lobby Airport Cafe, Bandara Juanda Surabaya, sendirian. Jari jemari asyik menari diatas keyboard lipat, mengganti peran keyboard laptop yang ketumpahan bumbu sate padang kapan hari itu. Seharusnya sibuk membaca Study Guide bertopik Journalistic Freedom untuk selanjutnya membuat sebuah position paper, tapi hati ini gatal ingin membeberkan semuanya. Siap-siap, semuanya.

Sebelum pagi, sebelum subuh, dan sebelum pesawat tujuan Lombok take off. Biarkan jemari saya terus menari.

Lahir di Bandung 22 Januari 1995. Belum masuk tanggal 22 pun, awal tahun 2015 serasa mencekik. Januari selalu menjadi bulan yang paling membikin penasaran. Tapi tidak kali ini. Saat-saat ini adalah turning point hidup saya yang pergeserannya luar biasa, hampir 180 derajat bisa saya bilang. Momen paling melankolis yang pernah ada. Saya harap, ini momen terburuk dalam hidup saya, terburuk dari yang terburuk. Supaya tidak pernah saya temui lagi momen yang lebih buruk dari ini.

Tidak salah jika psikologi sepakat, kalau masalah itu sesungguhnya hanya ada dalam otak manusia saja, dan hampir tidak pernah betul-betul terjadi. Dari sebuah kecemasan saja, katanya psikologi, hanya 2% kecemasan yang mungkin akan benar-benar terjadi. Ah, basi, tetap saja tidak bisa mereduksi kegelisahan saya.

Memang betul, masalah itu tidak benar-benar ada. Atau mungkin belum. Tapi Tuhan, tolong, usia 20 tahun ini masalah buatku. Masalah refleksi hidup. Saya mau kemana? Kenapa rencana-rencana terdahulu yang pernah saya susun sedemikian cantik itu nampak seperti sampah sekarang ini? Kenapa saya kehilangan semangat yang menggebu-gebu itu? Kenapa ayat-ayatMu mengalami kemacetan dalam implementasi yang menenangkan buatku ya Allah? Kenapa upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan hidup sebagai khalifah fiil ard ini begitu banyak hitamnya daripada putihnya ya Allah? Kenapa belakangan aku sangat iri kepada saudaraku yang telah Engkau panggil di usia belia? Seperti apa selayaknya aku menunggu mati?

Kenapa

Besyukur, kegalauan ini masih dikeetahui sebabnya. Ini akumulasi tentang penasaran yang hampir habis. Tentang ambisi yang sempat tidak terkontrol, keluar track dari goal sesungguhnya, lantas tersadarkan oleh variabel yang tidak terseimbangkan. Gott sei dank!

Selama 20 tahun, ada banyak catatan yang terceklis dan terlewati. Komposisi dan keberpengaruhan dari setiap pencapaian berhasil maupun gagal nampak begitu harmonis saling menyempurnakan. Dari sini, berangkatlah aku semakin percaya akan Dia sebagai Perencana terbaik.

Beberapa Catatan Lalu

Sejak kecil, saya tidak pernah bermimpi untuk pergi ke luar negeri selama satu tahun menjadi siswa yang ditukar. Tidak pernah. Saya hanya berpikir, bahwa hal itu memang akan terjadi pada saya, bukan bermimpi. Memasuki SMP, saya bahkan sempat lupa tentang pikiran tersebut. Tapi anehnya, kesempatan itu datang begitu saja, bahkan melalui kawan facebook yang tidak pernah saya temui secara langsung.

Ilmi Mayuni Bumi, AFS Participant to Switzerland 2011-2012.

Berkebaya di Kota Bern, Swiss.
Berkebaya di Kota Bern, Swiss.
Salju pertama. Rikon-Zurich, Swiss.
Salju pertama. Rikon-Zurich, Swiss.
Skiing pertama. Di Elm-Glarus, Swiss.
Skiing pertama. Di Elm-Glarus, Swiss.
Trip Swiss-Italian part, Lugano.
Trip Swiss-Italian part, Lugano.
With Other Exchange Students!
With Other Exchange Students!

This is the biggest event in my life. Saya sangat yakin, saya hari ini tidak akan ada tanpa pengalaman menjadi siswa AFS. Secara pengalaman, perjalanan spiritual saya dan penemuan jati diri terjadi dalam rentan waktu 11 bulan di negeri Eropa sana. Secara track record, title AFSer telah banyak meloloskan saya kepada berbagai macam kesempatan pasca kepulangan bahkan hingga kuliah sekarang ini. Alhamdulillah, apa yang Allah siapkan untuk satu individu kecil ini?

Saya selalu berpikir, saya akan berkuliah di Bandung atau di luar negeri. Bukan di Surabaya. Meski telah melalui usaha luar biasa, tapi tangan Tuhan tidak mungkin lepas, itu yang saya yakini. Apa lagi ini menyangkut pintu jalan hidup, tentang bidang yang akan digeluti, lingkungan yang akan membentuk, orang-orang yang akan dipertemukan dengan kita, dan masih banyak lagi life-changing variable lainnya. Hingga saya berakhir pada sebuah penerimaan, bahwa ada banyak alasan ditempatkannya saya di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Jurusan Teknik Material dan Metalurgi.

Saya terus mencari alasan itu, yang bisa saja terjawab sekarang, atau nanti berpuluh tahun lagi. Dalam rentang waktu 17 bulan, ini yang sudah saya lakukan di Kampus Perjuangan:

Become part of Himpunan Mahasiswa Teknik Material dan Matelurgi, HMMT.
Become part of Himpunan Mahasiswa Teknik Material dan Matelurgi, HMMT.
Having great family!
Having great family!
MT 15 family!
MT 15 family!
Paticipating on Young Engineers and Scientists Summit 2014 as Public Reations.
Paticipating on Young Engineers and Scientists Summit 2014 as Public Reations.
Tidak melupakan jas merah! @ HOS Tjokroaminoto House
Tidak melupakan jas merah! @ HOS Tjokroaminoto House
Having a great team also family, ITS Online :)
Having a great team also family, ITS Online 🙂
Doing social project ;)
Doing social project 😉
Become modertor at a press conference for the very first time
Become modertor at a press conference for the very first time
Screaming freely as unplanned MC
Screaming freely as unplanned MC
again
again
Knowing Nannotechnolgy and became part of Nano World Indonesia
Knowing Nannotechnolgy and became part of Nano World Indonesia
Hidup Mahasiswa!
Hidup Mahasiswa!

Catatan Hari ini

Hal terdekat yang akan saya temui dalam beberapa jam dari saat saya menulis ini adalah berpetualang ke Batu Hijau, Sumbawa. Memenangkan kompetisi blog tentang UU Mineral dan Batu bara mengantarkan saya kesana untuk melihat langsung lokasi pertambangan PT Newmont Nusa Tenggara dan kehidupan masyarakat disana. Siap-siap!

Exciting sekaligus bingung, karena saya meninggalkan banyak catatan penting lainnya untuk menyipip hiruk pikuk kehidupan tambang di PTNNT. Beberapa jam lalu, masih di bandara, saya tidak sendiri. Karena saya ditemani partner sekaligus kawan project bisnis yang sudah berjalan empat bulan. Kami masih harus rapat. Sebagai koordinator proyek, saya harus mengkondisikan manajerial proyek dalam keadaan baik ketika saya tinggalkan. Sebagai penerima beasiswa Astra 1st Scholarship Program dari PT Astra International Tbk, kami memang diberi kesempatan untuk menjadi business consultant sungguhan untuk salah satu anak perusahan Astra. Menjadi salah satu hal yang sangat challenging buat saya!

Fantasix Team, Astra workshop Program
Fantasix Team, Astra workshop Program
Again, fantasix
Again, fantasix
My Astra people
Some of my Astra people

Tak kalah menantang dan penting, catatan lain yang saya tinggalkan adalah segala kepentingan lomba simulasi sidang PBB terbesar, tertua, dan paling prestisius itu. I am part of ITS Delegation for Harvard National Model United Nations (HNMUN) 2015, di Boston Amerika. Lomba yang akan dihelat di salah satu hotel luxurius, Marriott Copley Palace ini menguras banyak tenaga dan pikiran. Mulai dari latihan, komitmen, sampai pencarian dana. Meski visa sudah di tangan dan persiapan terus kami lakoni, namun masih banyak upaya yang harus kita lakukan agar kita benar-benar berangkat ke negeri Paman Sam dan berlomba sebagai delegasi pertama Kampus Perjuangan di lomba paling bergengsi itu. However, till today, I ve learned a looot from them, from our activities!

ITS Delegation for Harvard National Model United Nations 2015
ITS Delegation for Harvard National Model United Nations 2015
ITS Delegation for Harvard National Model United Nations 2015
ITS Delegation for Harvard National Model United Nations 2015
My partner at the same council: Social, Humanitarian, and Cultural Committee
My partner at the same council: Social, Humanitarian, and Cultural Committee

Tidak berhenti sampai disitu, alhamdulillah catatan menggalaukan lainnya datang dari Italia. Sempat ditolak tahun lalu, kini kesempatan itu seperti datang dengan ringgannya. Saya dinyatakan lolos sebagai jurnalis untuk RomeMUN dan termasuk kedalam kandidat penerima total scholarship. Sayang, scholarship yang katanya total itu tidak men-cover biaya visa dan tiket pesawat. Haruskah saya melepas kesempatan untuk kembali ke Eropa? Lalu makna pelangi di Eropa yang sempat menampakkan diri pada saya itu apa? (Konon jika pernah melihat pelangi di Eropa, maka kita akan kembali kesana hehe)

E-mail yang justru membuat cemberut bingung
E-mail yang justru membuat cemberut bingung

Catatan lainnya, sebagai staff Kementerian Kebijakan Publik BEM ITS, Kedirjenan Agitasi dan Propaganda, saya merupakan penanggungjawab aksi. Yang berarti, saya akan bertanggung jawab terhadap perencanaan dan pelaksanaan aksi yang akan ditempuh oleh KM ITS. Challengging bukan? Geregetin tapi bikin gemeter.

DSC_9200 edit

Profesi sampingan sebagai Reporter kampus pun telah menembuskan saya sebagai bagian dari tim penulisan buku “25 Ilmuwan Indonesia yang Mendunia”. Besutan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) bersama Nano World Indonesia dan Masyarakat Nano Indonesia. Tanggung jawab lain yang menunggu untuk diusaikan dengan gemilang.

Si pelaku pers
Si pelaku pers.

Akademik. Setelah mengalami kemerosotan luar biasa pada semester pembuka tahap sarjana, saya mendampat tamparan keras. Kegalauan dimulai. Saya ini mau jadi apa? Apa yang mau saya tonjolkan? Alhasil daripada galau, saya lebih memilih untuk memantapkan squad akademik yang baik dan pencapaian yang tidak biasa.

Begitu banyak catatan anugerah maupun godaan langsung/tak langsung yang harus senantiasa ditafakuri. Agar tidak keluar jalur dan salan orientasi hidup.

Tidak menyangka, Ilmi, seorang anak yang semasa kecilnya hobi menangis kencang sampai satu RT kedengaran ini segera menginjak usia 20 tahun. Bersyukur atas kegalauan yang menimpa, rasanya lebih baik galau daripada banyak tertawa tanpa sempat mentafakuri apa yang sudah diberiNya.

Karena inti dari berkuliah (dan mengarungi hidup) adalah mau bekerja keras dan berdamai dengan kenyataan. (Ilmi Mayuni Bumi, 2015)

Harus banget ya, Mahasiswa Ngomongin Politik?

Dalam tatanan kehidupan manusia, didapati begitu banyak elemen kehidupan. Agar roda kehidupan bisa berputar, berbagai sektor bidang dengan peranan khusus pun eksis untuk saling mendukung satu sama lain. Tak ayal, manusia pun turut dispesifikasi karakter dan keahliannya untuk menempati posisi peran-peran tersebut. Maka disinilah lembaga pendidikan hadir untuk menjawab kebutuhan peranan-peranan tersebut.

Saat ini, kurang lebih ada 100 Perguruan Tinggi Negeri (berbentuk universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, politeknik), 52 Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN), 272 Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta, dan 3.078 Perguruan Tinggi Swasta yang tersebar di seluruh nusantara. Diketahui dari Angka Partisipasi Kasar (APK) pada tahun 2012, jumlah mahasiswa Indonesia kurang lebih sekitar 4,5 juta (dari 25 juta usia produtif 19-24 tahun) atau 1,8 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Dengan peningkatan persentase jumlah mahasiswa hingga 2014 ini, taruhlah 2 persen penduduk Indonesia adalah mahasiswa.

Semua penduduk Indonesia dengan latar pendidikan yang berbeda-beda menempati perannya masing-masing di berbagai sektor dimana mereka dibutuhkan. Mulai dari buruh pabrik, tenaga pendidik, spesialis industri, pemerintah, hingga wiraswasta. Kondisi tersebut adalah jika proporsi jumlah penduduk, kebutuhan konsumsi keseharian, dan ketersediaan sumber daya alam/manusia menunjukkan kondisi yang tepat terintegrasi dan seimbang. Namun, dari 250 juta penduduk Indonesia, ternyata 7,24 juta diantaranya adalah pengangguran. Selain itu, masih ada persoalan kesehatan, pembangunan, pendidikan, asktivitas impor-ekspor, dan kesejahteraan masyarakat Indonesia yang dianggap masih belum mencapai kondisi ideal.

Berangkat dari hal tersebut, kita menyadari bersama bahwa sistem ini perlu mendapat perhatian lebih. Masalah-masalah perlu ditanggulangi dengan tepat. Ada begitu banyak variabel yang terlibat dalam terjadinya suatu kebijakan. Mulai dari masalah yang dihadapi, efisiensi solusi, ketersediaan tenaga, pembagian peran, gesekan kepentingan dalam maupun luar negeri, dan masih banyak lagi (baca: tangan-tangan invisible yang penuh ambisi :p). Cara mencapai itu lah yang kita sebut politik.

Review Apa itu Politik

Menurut teori klasik Aristoteles, politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Perspektif lain bicara, bahwa politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara, atau sesuatu yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat. Definisi yang paling klop untuk saya pribadi: politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.

Saya memahami bahwa dalam perumusan dan pelaksaan ini lah, banyak perilaku-perilaku politik yang menunjukkan ketidaksamaan persepsi. Dalam arti, sedemikian banyak kepentingan disana, sehingga menimbulkan gesekan dan pelanggaran yang dapat berefek pada kebijakan yang kurang tepat. Pada akhirnya, rakyat lah yang paling menikmati efek (baik/buruk)-nya suatu kebijakan tanpa bisa banyak berpartisipasi.

Bicara partisipasi politik, sejak saya mengenal Indonesia dan bangku kuliah, mahasiswa selalu dielu-elukan sebagai subjek terpercaya dalam mengawal kebijakan pemerintah karena dianggap sebagai kaum intelek yang berada pada posisi netral. Iyakah?

Status Mahasiswa

Perguruan Tinggi menyuguhkan atmosfer pendidikan yang lebih terfokus dan mendalam, juga menawarkan lingkungan yang intelek. Untuk bisa survive dalam menjadi mahasiswa, dikatakan perlu daya berpikir lebih daripada mereka yang tidak mengenyam bangku kuliah. Tanpa maksud mengeneralisir dan menyalahi takdir, kondisi ini tidak salah jika mahasiswa dikatakan mampu melihat serta mengkritisi keadaan pemerintah. Tak hanya otaknya yang diklaim terlatih mengkaji persoalan, mahasiswa berada dibawah institusi legal yang mana track untuk mencapai meja pemerintah lebih dekat, apa lagi dosen-dosen/petinggi kampus adalah mereka-mereka yang sering bersinggungan langsung dengan pemerintah.

Ditambah lagi, mahasiswa tidak terlibat dalam pengambilan kebijakan pemerintah (jelas lah), namun capable untuk mengkritisi kebijakan-kebijakannya. Maka posisi mahasiswa ini sangatlah netral dan strategis untuk turut berpolitik dalam soal dijadikan sebagai pengawal kebijakan dan penyambung lidah rakyat. Lalu, populasi 2 persen dari total penduduk Indonesia ini juga adalah yang paling memungkinkan dijadikan sebagai pemegang tongkat estafet pemerintahan Indonesia (Ibu Susi lain cerita).

Akhirnya, disebut-sebutlah bahwa mahasiswa memiliki peranan khusus. Peranan khusus tersebut meliputi Agen Perubahan (saya lebih setuju untuk bilang Pemimpin Perubahan), Moral Force, Iron Stock (better Golden Stock :p), dan Social Control.

Fenomena Mahasiswa Hari Ini

Lima juta lebih mahasiswa dengan berbagai fokus bidang yang berbeda ini dipaksa oleh sistem ataupun passionnya untuk memenuhi kebutuhan peradaban. Sementara ini menurut riset, untuk mencapai kondisi ideal, Indonesia membutuhkan 100 ribu dokter umum, 6000 dokter spesialis, 2,7 juta teknisi, 600 aktuaris, dan masih banyak lagi sektor yang harus dipenuhi oleh para mahasiswa ini. Tak ayal, pikiran terspesialis pun muncul, dimana mahasiswa berpikir bahwa apa yang perlu dilakukannya hanyalah menggeluti fokus bidangnya saja.

Hal tersebut tidak salah, mengingat dalam tatanan kehidupan ini memang dibutuhkan para jenius di bidang-bidang khusus yang pendalamannya membutuhkan fokus penuh. Tapi, apakah semua mahasiswa harus begitu?

Adanya jurusan ilmu politik, hukum, ilmu pemerintahan, dan lain sejenisnya ini dianggap oleh beberapa mahasiswa sudah cukup menjawab kebutuhan panggung perpolitikan Indonesia. Lantas mahasiswa-mahasiswa jurusan tersebut dianggap yang paling bertanggung jawab mengurusi politik. Terus, kita-kita mahasiswa teknik, sains, dan lainnya ini apakah tidak diperlukan? Layak kah lepas peran dan tanggung jawab sebagai mahasiswa?

Fenomena lain yang tak kalah menarik adalah orientasi kebanyakan individu mahasiswa itu sendiri. Bersekolah, kerja, mendapat gaji cukup, dan hidup bahagia, agaknya menjadi situasi dambaan banyak mahasiswa saat ini. Tak salah memang, sudah menjadi dasar sifat manusia untuk mencari kenyamanan hidup. Dikatakan kebanyakan mahasiswa sekarang pragmatis dan oportunis. Mementingkan kenyamanan hidup sendiri, begitu?

Kondisi lingkungan Indonesia pascareformasi ini menghadirkan kenyamanan tersendiri. Tidak ada gejolak nyata ataupun common enemy (seperti Soeharto dulu), sehingga nampak seperti semuanya tidak ada yang salah. Lupa melihat masih ada rakyat yang susah, dikatakan kebanyakan mahasiswa sekarang cenderung elitis dan kurang merakyat. Katanya penyambung lidah rakyat?

Niat berkontribusi untuk bangsa, tapi nanti-saja-kalau-sudah-sukses, lantas sekarang fokus kuliah tanpa peduli apa yang terjadi dengan bangsanya. Hm, ada yang berkata, cara paling efektif untuk merusak suatu bangsa adalah dengan membuat para pemudanya tidak kenal sejarah. Bagaimana bisa kita membantu berkontribusi untuk bangsa sedangkan sejarah akar masalahnya saja kita tidak paham karena tidak memerhatikan sedari dulu?

Fenomena yang paling mudah ditemui adalah, “Kuliah saya saja sudah susah, tambah susah mikirin politik.” Padahal semua yang kita hadapi adalah menyangkut politik, bahkan pendidikan sekalipun. Intinya, tidak mau susah?

Jadi, Harus banget?

Mengutip perkataan dari salah satu tokoh penulis favorit saya, Bertolt Brecht,

”Buta yang terburuk adalah buta politik. Dia tidak mendengar, tidak berbicara dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, dll semua tergantung pada keputusan politik.

Orang yang buta begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si Dungu ini tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional.”

Lihat betapa sebenarnya kita semua ini pada hakikatnya adalah pelaku politik? Bahkan saintis yang sibuk di lab dan teknisi yang sibuk merancang bangunan sekalipun. Jika kehidupan sebagai teknisi misalnya, tidak sejahtera, temuan tidak dihargai, kompetensi tidak terstandardisasi, dan lainnya, apa lagi kalau bukan persoalan politik?

Tinggal bagaimana kita mau mengalokasikan waktu dan tenaga untuk berpartisipasi aktif sesuai kapabilitas yang kita miliki. Mahasiswa dengan kapabilitas sebesar itu, apakah hanya mau memilih belajar di kelas dan iya-iya saja? Ketika sebetulnya kebertahanan status mahasiswa kita ini diperjuangkan oleh rakyat melalui dana pajak, dan perputaran uang negara. Masih merasa tidak berdosa kah untuk bersikap apatis terhadap peristiwa menyangkut rakyat Indonesia?

Andai pemimpin bangsa dapat lahir dari masa lalu yang tidak peduli dan tidak mau mengenal politik, apa mungkin? 🙂

Sesungguhnya taburan kata ini bukan untuk menggurui apa lagi mendikte, namun sekadar menjadi pengingat bagi yang lupa, dan pemancing inspirasi bagi siapapun.

————————————————————————————————————————

Tulisan ini saya dedikasikan secara khusus untuk Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang konon memiliki semangat kejuangan sepuluh nopember. Mahasiswa yang mengenyam pendidikan di kampus yang murni didirikan oleh bangsa sendiri tanpa campur tangan bangsa lain. Kampus yang konon menjadi senter poros pergerakan mahasiswa Indonesia timur. #AkuSepuluhNopember #AkuArekITS

Bandung, 31 Desember 2014

Ilmi Mayuni Bumi

Mahasiswi Teknik Material dan Metalurgi

Staff Kementerian Kebijakan Publik BEM ITS