Category Archives: Things you should know!

Jadi Pemuda? Tetap Persiapkanlah Kematian

Assalamualaikum wr wb. Teman-teman Muslim dam Muslimah dimanapun kalian berada, saudara-saudariku, bagaimana rasanya membayangkan sepetak tanah yang akan menjadi singgahsana terakhir kita? Kalau dibayangkan, rasanya langsung sunyi, di keramaian pun merasa sendiri, was-was, merasa rendah diri, sudah sesiap apa kita? Lalu akan diapakan semua pencapaian dan segala usaha keras duniawi yang selama ini kita kejar, akan diapakan? Bukan mustahil dalam perjalanannya kita melakukan banyak dosa, memang Allah Maha Pengampun, tapi sejauh apa kita layak diampuni?

Sebuah laporan global menyebutkan, kematian dini cenderung lebih banyak terjadi di kalangan remaja dan dewasa muda dibandingkan anak-anak. Riset yang dipublikasikan jurnal kesehatan The Lancet, kasus kematian pada usia remaja tampak lebih menonjol. Faktor-faktor seperti kekerasan, bunuh diri, dan kecelakaan lalu lintas diyakini sebagai penyebab utama. Untuk yang sedang berkuliah, teman-teman mahasiswaku, ajal bisa saja menjemput kita saat kita sedang berada di kelas, atau baru saja beranjak pulang dari forum kemahasiswaan, atau mungkin saat baru saja pulang bersenang-senang dari tempat foya-foya.

Saya ingin mengajak teman-teman pemuda Islam khususnya untuk turut mencemaskan kematian dan segera mempersiapkannya meskipun masih muda karena kematian tidak mengenal usia. Setidaknya jika usia kita dipanjangkan, bukankah indah jika akhir hidup kita khusnul khotimah?

Berikut poin-poin rangkuman yang kiranya bisa menjadi persiapan diri kita dalam menanti kematian:

  1. Membiasakan budaya tafakur (merenung)

Manusia adalah mahluk yang berpikir. Apalah arti buku-buku tebal mengenai fenomena fisika, biologi, material, dll kalau tidak mampu mengantarkan kita menjadi mahluk yang merenung, meresapi, dan menyimpulkan. Kapan kita mau sedikit menarik diri dari sekolompok kawan-kawan yang biasa mengajak kita tertawa menikmati hal-hal duniawi? Meluangkan waktu sendiri, benar-benar hanya sendiri antara diri dan Allah, menanyakan eksistensi diri (baca QS Al-Baqarah:30), menanyakan tugas sebagai manusia di muka bumi, menanyakan kenapa kita harus menjalani apa yang kita jalani hari ini, merencanakan segala bentuk usaha diiringi doa untuk meraih ridhoNya dan merayu cintaNya terhadap apa yang Dia tuliskan di lauhul mahfuz.

  1. Senantiasa berpikir jernih

Berpikir jernih dalam hal ini adalah kembali pada apa yang benar dan salah menurut agama. Tepis segala macam paradigma konyol yang dibangun oleh lingkungan masyarakat, kampus, maupun himpunan kemahasiswaan. Sekiranya ada sesuatu yang justru lebih banyak mendatangkan kedzaliman, kemudharatan, dan sedikit manfaat, kenapa harus bertahan didalamnya? Konsekuensi sosial bukan tidak mungkin menimpa kita saat kita berusaha sedikit memberi jarak pada aktivitas yang banyak mudharatnya, apa lagi jika lingkungan teman-teman/kampus cenderung sosialis. “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

  1. Meluruskan niat dalam segala tindakan

Segala bentuk amalan ditentukan oleh niat. Sebagai manusia yang memiliki naluri untuk bertahan hidup, tak jarang kita melakukan sesuatu atas dasar kepentingan yang amat duniawi dan sarat akan kesenangan sesaat. Andai segala kegiatan kita niatkan atas dasar ibadah dan dalam upaya meraih ridhoNya, bukankah tentram hati ini? Nothing to lose. Rasa ikhlas dan tulus bisa menghampiri dengan mudahnya jika segalanya karena Allah, bahkan tanpa menghitung-hitung pahala ibadah pun, segalanya bisa dilakukan secara sukarela demi merayu cinta dan kasihNya. Baiknya kita kembali bertafakur dan bertafakur setiap kali ada niatan yang hampir menyimpang.

  1. Mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya

Melakukan poin keempat ini tidak sesederhana mengutarakannya. Perintah dan laranganNya acap kali menemui gesekan dengan realita hidup yang dihadapi dan pergolakan hati manusia yang penuh dengan ambisi. Ketika gesekan itu muncul, gaungkan lah selalu dalam hati ini bahwa Allah tidak tidur, Allah melihat kita, Allah mengasihi kita yang mengingatnya dan mencintai kita selalu. Allah tidak memberi beban pada kita diluar kemampuan kita. Dalam musibah sekalipun, selalu ada nilai pelajaran yang bisa dipetik. Dan ingatlah selalu bahwa dunia ini fana, akhirat itu kekal. Sekali lagi, dunia ini fana, akhirat itu kekal.

  1. Jangan memelihara subjektifitas

Setiap kali hati dihinggapi dengki, benci, iri, dendam, dan penyakit hati lainnya, ingatlah bahwa kita tidak punya kontrol atas manusia lain selain kontrol terhadap diri sendiri. Ingatlah bahwa sederetan perasaan tersebut hanya akan mengurangi waktu produktif kita dalam berkegiatan maupun beribadah. Ingatlah pula bahwa hanya Allah yang berhak menghakimi hambaNya dan punya kontrol penuh terhadap segala ketetapan. Senantiasa menjadi manusia yang positif dan melepas segala yang negatif akan menjadi awal yang baik dalam melakukan aktivitas apapun.

Berakhiran baik berarti menyelesaikan tugas di dunia dalam keadaan menjadi muslim yang baik. Pada dasarnya kebaikan seorang manusia bisa dibangun pada dua lini, yaitu lini vertikal dan horizontal. Secara vertikal adalah habluminallah, me-maintain hubungan dengan Allah. Memenuhi perintahNya, senantiasa menyenangkanNya (menambah amalan-amalan sunnah, seperti shalat rawatib, tahajud, dhuha, puasa daud, dan tidak menunda-nunda sholat), juga senantiasa berdzikir dan bersyukur. Serta menghindari perkara-perkara yang dapat mengundang murkaNya (bersikap angkuh, menyekutukanNya, melanggar larangan-larangannya). Secara horizontal adalah habluminannas, khusus hubungan antar sesama manusia. Sebagai sesama manusia untuk tidak saling menyakiti, menjaga lisan dan segala bentuk hawa nafsu yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Senantiasa berada dalam koridor-koridor aturanNya ketika berhubungan dengan manusia lain, karena sesungguhnya Allah telah mengatur hajat hidup manusia sampai pada hal-hal yang paling kecil.

Hidup dan mati adalah pasti. (Dialah) yang menjadikan mati dan hidup, agar Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS Al-Mulk: 2).

Semoga bisa mengingatkan saudara-saudari muslimku dimanapun kalian berada. Setiap kali share, setiap itu pula ada muslim yang teringatkan untuk menyegerakan kebaikan dan meninggalkan keburukan sebagai upaya menyiapkan bekal di kehidupan yang kekal.

Terlalu Sibuk Menuntut Kesetaraan

Dibanding 8 Maret (Hari Perempuan Internasional), rasanya 21 April lebih melekat bagi perempuan Indonesia. 21 April menjadi sedemikian penting karena dikatakan sebagai Hari Kartini, tokoh yang memperjuangkan hak-hak perempuan di Indonesia. Terlepas dari kontroversi kelayakan klaim yang jatuh pada Kartini (bukan pada tokoh pejuang perempuan lainnya) ataupun isu kejanggalan soal bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang, setidaknya kemunculan peringatan tentang perempuan pada tanggal 21 April dan 8 Maret ini menunjukkan bahwa perjuangan kaum feminis tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di belahan bumi lainnya.

Emansipasi banyak didengungkan pada hari ini. Menurut KBBI, emansipasi adalah pembebasan dari perbudakan, atau dalam kata lain persamaan hak antara kaum wanita dan kaum pria pada berbagai aspek kehidupan masyarakat. Di belahan bumi lain, masih di sekitaran tahun 1960an, pergerakan perempuan yang menamai diri sebagai kaum feminis pun semakin menjadi. Bekas sejarah tersebut dibuktikan dengan penetapan hari khusus Perempuan Internasional dan hari Kartini di Indonesia. Pertanyaannya adalah, kenapa bisa terjadi emansipasi? Mengapa sejarah mencatat adanya tuntutan para perempuan terhadap sebuah kesetaraan? Jika diilhami, istilah kesetaraan hanya akan muncul jika terjadi ketimpangan atau kata lain yang bersifat negasi dari kesetaraan.

Mari Kita Menengok Sejarah

Pada zaman Yunani Kuno, martabat perempuan sangat direndahkan. Filosof Demosthenes berpendapat bahwa perempuan hanya berfungsi untuk melahirkan anak. Aristoteles pun menganggap perempuan sederajat dengan hamba sahaya. Tak hanya itu, Plato menilai, kehormatan lelaki ada pada kemampuannya memerintah, sedangkan kehormatan perempuan menurutnya ada pada kemampuannya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sederhana dan hina.

Beralih ke sudut lain, pada tahun 586 M, sempat tercetus pikiran dari salah seorang agamawan Perancis mengenai kebolehan seorang perempuan dalam menyembah Tuhan dan statusnya yang dapat masuk surga atau tidak. Pemikiran-pemikiran tersebut berakhir pada sebuah kesimpulan, bahwa perempuan memiliki jiwa namun tidak kekal. Perempuan dianggap hanya bertugas untuk melayani lelaki dan bebas diperjualbelikan. Begitupun sepanjang zaman pra-Islam, posisi perempuan hanya sampai pada posisi pelayan kaum lelaki. Pada zaman Jahiliyah (kebodohan), para orang tua yang memiliki anak perempuan akan menguburnya hidup-hidup karena dianggap sebagai aib.

Melihat catatan sejarah yang seperti itu, tak aneh jika muncul pergerakan kaum feminis untuk menuntut kesetaraan, karena telah terjadi ketimpangan bahkan penghinaan. Sedangkan parameter kesetaraan itu sendiri berbeda-beda seiring perbedaan budaya di berbagai belahan bumi. Hal itu bermakna, bahwa parameter kesetaraan ini berkiblat pada kondisi sosial, politik, norma-norma, dan ekonomi yang berlaku di setiap lapisan peradaban berbeda. Seiring berjalannya waktu, zaman telah membrei kondisi berbeda dengan masa kelam perempuan di masa lalu, zaman telah memiki daya tawar dan opsi lebih bagi kaum perempuan. Meski demikian, pergerakan kaum feminis hingga hari ini masih terbilang cukup agresif. Namun pertanyaannya, kesetaraan seperti apa lagi yang ingin dicapai? Kaum feminis banyak menuntut kesetaraan yang bersifat kultural. Sejauh apa relevansi pergerakan perempuan seperti ini sebetulnya?

Eksistensi Perempuan

Eksistensi atau keberadaan dipastikan memiliki makna. Setidaknya Tuhan menciptakan benda sekecil apapun melainkan untuk suatu fungsi (pernyataan ini tidak berlaku untuk kaum atheis). Secara lahiriah, sains telah membuktikan bahwa struktur fisik lelaki dan perempuan berbeda. Tak terkecuali struktur otak dan kondisi hormonalnya yang sudah barang pasti mempengaruhi pola perilaku seorang individu. Jika diuraikan, Michael Gurian dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa perempuan:

  1. Memiliki corpus callosum atau penghubung jaringan antarbagian otak pada perempuan rata-rata lebih besar 25% pada saat akil baligh. Ini berefek pada terjadinya komunikasi saling-silang dalam otak yang membuat perempuan kerap berkomunikasi sendiri.
  2. Memiliki konektor lebih kuat dalam lobes atau salah satu bagian dari otak. Manfaat konektor ini memungkinkan perempuan lebih terampil mengerjakan tugas-tugas tertulis.
  3. Memiliki hippocampus atau area penyimpan memori dalam otak yang lebih besar. Tak aneh jika perempuan lebih mudah dalam mempelajari bahasa.
  4. Memiliki prefrontal cortex yang berkembang lebih awal dan lebih aktif, sehingga menjadikan perempuan cenderung tidak impulsif.
  5. Lebih sering menggunakan area korteks sehingga perempuan lebih bisa mengatur emosi dan bicaranya.
  6. Aliran volume darah yang mengalir ke otak perempuan 15% lebih banyak dari otak laki-laki, hal itu membuat perempuan lebih bisa mengatur aktivitas kejiawaannya.

Sedangkan otak laki-laki dikatakan lebih unggul dalam matematika dan fisika, terutama subyek-subyek abstrak. Laki-laki cenderung bersifat impulsif, bukan tipikal pendengar yang baik, dan lebih tertarik pada permainan-permainan.

Islam Tertuduh, Islam Menjawab

Jauh sebelum hasil penelitian sains dipublikasikan, Islam sudah membagi peran laki-laki dan perempuan serta mengklaim bahwa aturan-aturannya penuh dengan pemuliaan terhadap perempuan. Jika harus dibandingkan dengan kehidupan pra-Islam, perempuan dalam konsep kehidupan yang ditawarkan Islam memang dapat dikatakan lebih mulia. Namun kenyataannya, Islam masih dikatakan sebagai agama yang tidak memberikan Hak Asasi Perempuan (HPA). Penilaian tersebut tidak lepas dari aturan-aturan Islam seperti dalam kepemimpinan, perempuan tidak boleh memimpin, dalm hak waris hanya mendapat setengah dari bagian laki-laki, dalam kesaksian pun hanya dianggap setengah dari kesaksian laki-laki. Salah satu hadits yang menuai banyak polemik adalah hadits Muttafaqun ‘alaih, HR Bukhari no.1462 dan Muslim no.79:

“Aku tidak pernah melihat orang kurang akal dan agamanya paling bisa mengalahkan akal lelaki yang kokoh daripada salah seorang kalian (kaum wanita).”

Syaikh ‘Abdul Kairm menerangkan, dalam tafsir tentang makna kurang akal dan agama telah diterangkan dalam hadits tersebut. Bahwa yang dimaksud kurang akal adalah karena persaksian wanita itu separuh dari persaksian laki-laki (sebagaimana tertera pada QS. Al-baqarah: 282).

Pertanyaannya, apakah akal perempuan terdesain sedemikian rupa untuk selamanya berada dibawah derajat laki-laki dan tidak akan pernah setara? Atau dimaksudkan untuk tujuan lainnya? Padahal jika diteliti hasil penelitian secara ilmiah dan capaian-capaian perempuan di zaman ini, hampir tidak bisa dibedakan bahkan tak jarang melebihi laki-laki. Jika ditelaah kembali, masalah akal ini tidak sesederhana menyinggung soal daya pikir dan kecerdasan saja. Namun lebih kepada kadar kesaksian (ingatan dan lupa). Lupa atau ingat ini adalah hal yang berkaitan dengan data empirik serta pengalaman, sama antara laki-laki atau perempuan. Akan tetapi perempuan memiliki kekhususan, dimana perempuan lebih banyak mengalami keadaan berbeda-beda. Terdapat banyak siklus hidup pada perempuan yang berkaitan dengan tubuh dan perasannya yang keduanya sangat berpengaruh pada proses berpikir perempuan. Boleh dikatakan, berdasarkan hal ini, Islam menjawabnya dengan pembagian peran dan menghukumi perempuan sesuai tabiat dan kehidupan kesehariannya dalam masyarakat islami secara lebih khusus.

Pergerakan Perempuan: Membangun Masyarakat yang Madani

Setiap zaman memang memiliki ceritanya masing-masing. Era tahun 60-an sudah berlalu, demikian pun dengan sejarah yang mencatat pergerakan-pergerakan perempuan pada masanya. Kini kita dihadapkan dengan zaman yang kian dinamis, entah dari segi sosial, politik, dan ekonomi. Perempuan pun memiliki lebih banyak opsi di abad 21 ini. Sejak dulu, tidak bisa ditampikkan bahwa manusia mendambakan kehidupan yang damai dan sejahtera. Masyarakat yang madani diidam-idamkan, segala bentuk sistem dan usaha tak struktural pun ditempuh demi mencapai sebuah peradaban sejahtera.

Mari kita berpikir sederhana, karena pergerakan tidak harus selalu diawali dengan pemikiran-pemikiran yang kompleks. Suatu peradaban terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, bermasyarakat dapat berarti adanya interaksi bersama antar rumah tangga. Keluarga memuat bebrapa idividu yang merupakan komponen terkecil dari masyarakat. Nilai-nilai luhur yang dapat berlaku di masyarakat (sebagai syarat menuju masyarakat yang madani) dibawa oleh individu. Maka dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah wadah terdekat dan paling strategis dalam mebangun peradaban sejahtera dengan masyarakat yang madani. Pendidikan dalam keluarga melahirkan individu-individu yang beradab, tanpa peduli tantangan yang akan terjadi di arena kemasyarakatan yang lebih luas, namun dengan individu yang berprinsip, hal ini bukan tidak mungkin terjadi.

Perempuan terhukum secara sosial maupun agama, rata-rata untuk berada di rumah dan mendidik anak-anak. Dikolerasikan dengan fitrah bahwa perempuan harus mengandung yang berefek pada intuisi lebih terhadap anak yang dilahirkannya. Mencoba merendahkan hati dan menerima fenomena ini, tidakkah kita melihat bahwa perempuan ini sebetulnya sudah memiliki wadah pergerakannya sendiri?

Bahwa perempuan dikatakan sebagai racun dunia. Laki-laki bisa sukses dan bisa hancur karena perempuan. Individu-individu hebat, pemimpin-pemimpin bijak hanya akan lahir dari rahim perempuan cerdas dan bertanggung jawab (sebab mengapa pendidikan tinggi pantas dienyam kaum perempuan). Bahwa perempuan sesungguhnya sudah memiliki senapan jitu, hanya tinggal menambah amunisinya saja. Dalam menambah amunisi inilah kaum perempuan kiranya bijak memilih alur yang tidak membuyarkan fokus akhirnya. Bahwa rupanya wadah pergerakan perempuan ini sudah eksis bahkan sangat strategis. Sedemikian jelas ranah-ranah kepemimpinan khusus perempuan ini, dengan karakterisitk yang hanya dimiliki oleh kita, betapa besar dampak yang dapat dihasilkan.

Kepada Srikandi-srikandi Indonesia.. Sebesar itu kekuatan kita, dan kita masih menuntut kesetaraan?

Setidaknya zaman sudah memberi opsi, hanya tinggal memilih peran yang tidak membohongi dasar hati nurani dan naluri kewanitaan. Selamat 21 April, Selamat Hari Kartini!

__________________________________________

Catatan: penulis menulis berdasarkan riset dan beberapa pandangan pribadi. Penulis mengambil contoh kasus dalam Islam karena penulis menganut agama Islam.

Harus banget ya, Mahasiswa Ngomongin Politik?

Dalam tatanan kehidupan manusia, didapati begitu banyak elemen kehidupan. Agar roda kehidupan bisa berputar, berbagai sektor bidang dengan peranan khusus pun eksis untuk saling mendukung satu sama lain. Tak ayal, manusia pun turut dispesifikasi karakter dan keahliannya untuk menempati posisi peran-peran tersebut. Maka disinilah lembaga pendidikan hadir untuk menjawab kebutuhan peranan-peranan tersebut.

Saat ini, kurang lebih ada 100 Perguruan Tinggi Negeri (berbentuk universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, politeknik), 52 Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN), 272 Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta, dan 3.078 Perguruan Tinggi Swasta yang tersebar di seluruh nusantara. Diketahui dari Angka Partisipasi Kasar (APK) pada tahun 2012, jumlah mahasiswa Indonesia kurang lebih sekitar 4,5 juta (dari 25 juta usia produtif 19-24 tahun) atau 1,8 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Dengan peningkatan persentase jumlah mahasiswa hingga 2014 ini, taruhlah 2 persen penduduk Indonesia adalah mahasiswa.

Semua penduduk Indonesia dengan latar pendidikan yang berbeda-beda menempati perannya masing-masing di berbagai sektor dimana mereka dibutuhkan. Mulai dari buruh pabrik, tenaga pendidik, spesialis industri, pemerintah, hingga wiraswasta. Kondisi tersebut adalah jika proporsi jumlah penduduk, kebutuhan konsumsi keseharian, dan ketersediaan sumber daya alam/manusia menunjukkan kondisi yang tepat terintegrasi dan seimbang. Namun, dari 250 juta penduduk Indonesia, ternyata 7,24 juta diantaranya adalah pengangguran. Selain itu, masih ada persoalan kesehatan, pembangunan, pendidikan, asktivitas impor-ekspor, dan kesejahteraan masyarakat Indonesia yang dianggap masih belum mencapai kondisi ideal.

Berangkat dari hal tersebut, kita menyadari bersama bahwa sistem ini perlu mendapat perhatian lebih. Masalah-masalah perlu ditanggulangi dengan tepat. Ada begitu banyak variabel yang terlibat dalam terjadinya suatu kebijakan. Mulai dari masalah yang dihadapi, efisiensi solusi, ketersediaan tenaga, pembagian peran, gesekan kepentingan dalam maupun luar negeri, dan masih banyak lagi (baca: tangan-tangan invisible yang penuh ambisi :p). Cara mencapai itu lah yang kita sebut politik.

Review Apa itu Politik

Menurut teori klasik Aristoteles, politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Perspektif lain bicara, bahwa politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara, atau sesuatu yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat. Definisi yang paling klop untuk saya pribadi: politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.

Saya memahami bahwa dalam perumusan dan pelaksaan ini lah, banyak perilaku-perilaku politik yang menunjukkan ketidaksamaan persepsi. Dalam arti, sedemikian banyak kepentingan disana, sehingga menimbulkan gesekan dan pelanggaran yang dapat berefek pada kebijakan yang kurang tepat. Pada akhirnya, rakyat lah yang paling menikmati efek (baik/buruk)-nya suatu kebijakan tanpa bisa banyak berpartisipasi.

Bicara partisipasi politik, sejak saya mengenal Indonesia dan bangku kuliah, mahasiswa selalu dielu-elukan sebagai subjek terpercaya dalam mengawal kebijakan pemerintah karena dianggap sebagai kaum intelek yang berada pada posisi netral. Iyakah?

Status Mahasiswa

Perguruan Tinggi menyuguhkan atmosfer pendidikan yang lebih terfokus dan mendalam, juga menawarkan lingkungan yang intelek. Untuk bisa survive dalam menjadi mahasiswa, dikatakan perlu daya berpikir lebih daripada mereka yang tidak mengenyam bangku kuliah. Tanpa maksud mengeneralisir dan menyalahi takdir, kondisi ini tidak salah jika mahasiswa dikatakan mampu melihat serta mengkritisi keadaan pemerintah. Tak hanya otaknya yang diklaim terlatih mengkaji persoalan, mahasiswa berada dibawah institusi legal yang mana track untuk mencapai meja pemerintah lebih dekat, apa lagi dosen-dosen/petinggi kampus adalah mereka-mereka yang sering bersinggungan langsung dengan pemerintah.

Ditambah lagi, mahasiswa tidak terlibat dalam pengambilan kebijakan pemerintah (jelas lah), namun capable untuk mengkritisi kebijakan-kebijakannya. Maka posisi mahasiswa ini sangatlah netral dan strategis untuk turut berpolitik dalam soal dijadikan sebagai pengawal kebijakan dan penyambung lidah rakyat. Lalu, populasi 2 persen dari total penduduk Indonesia ini juga adalah yang paling memungkinkan dijadikan sebagai pemegang tongkat estafet pemerintahan Indonesia (Ibu Susi lain cerita).

Akhirnya, disebut-sebutlah bahwa mahasiswa memiliki peranan khusus. Peranan khusus tersebut meliputi Agen Perubahan (saya lebih setuju untuk bilang Pemimpin Perubahan), Moral Force, Iron Stock (better Golden Stock :p), dan Social Control.

Fenomena Mahasiswa Hari Ini

Lima juta lebih mahasiswa dengan berbagai fokus bidang yang berbeda ini dipaksa oleh sistem ataupun passionnya untuk memenuhi kebutuhan peradaban. Sementara ini menurut riset, untuk mencapai kondisi ideal, Indonesia membutuhkan 100 ribu dokter umum, 6000 dokter spesialis, 2,7 juta teknisi, 600 aktuaris, dan masih banyak lagi sektor yang harus dipenuhi oleh para mahasiswa ini. Tak ayal, pikiran terspesialis pun muncul, dimana mahasiswa berpikir bahwa apa yang perlu dilakukannya hanyalah menggeluti fokus bidangnya saja.

Hal tersebut tidak salah, mengingat dalam tatanan kehidupan ini memang dibutuhkan para jenius di bidang-bidang khusus yang pendalamannya membutuhkan fokus penuh. Tapi, apakah semua mahasiswa harus begitu?

Adanya jurusan ilmu politik, hukum, ilmu pemerintahan, dan lain sejenisnya ini dianggap oleh beberapa mahasiswa sudah cukup menjawab kebutuhan panggung perpolitikan Indonesia. Lantas mahasiswa-mahasiswa jurusan tersebut dianggap yang paling bertanggung jawab mengurusi politik. Terus, kita-kita mahasiswa teknik, sains, dan lainnya ini apakah tidak diperlukan? Layak kah lepas peran dan tanggung jawab sebagai mahasiswa?

Fenomena lain yang tak kalah menarik adalah orientasi kebanyakan individu mahasiswa itu sendiri. Bersekolah, kerja, mendapat gaji cukup, dan hidup bahagia, agaknya menjadi situasi dambaan banyak mahasiswa saat ini. Tak salah memang, sudah menjadi dasar sifat manusia untuk mencari kenyamanan hidup. Dikatakan kebanyakan mahasiswa sekarang pragmatis dan oportunis. Mementingkan kenyamanan hidup sendiri, begitu?

Kondisi lingkungan Indonesia pascareformasi ini menghadirkan kenyamanan tersendiri. Tidak ada gejolak nyata ataupun common enemy (seperti Soeharto dulu), sehingga nampak seperti semuanya tidak ada yang salah. Lupa melihat masih ada rakyat yang susah, dikatakan kebanyakan mahasiswa sekarang cenderung elitis dan kurang merakyat. Katanya penyambung lidah rakyat?

Niat berkontribusi untuk bangsa, tapi nanti-saja-kalau-sudah-sukses, lantas sekarang fokus kuliah tanpa peduli apa yang terjadi dengan bangsanya. Hm, ada yang berkata, cara paling efektif untuk merusak suatu bangsa adalah dengan membuat para pemudanya tidak kenal sejarah. Bagaimana bisa kita membantu berkontribusi untuk bangsa sedangkan sejarah akar masalahnya saja kita tidak paham karena tidak memerhatikan sedari dulu?

Fenomena yang paling mudah ditemui adalah, “Kuliah saya saja sudah susah, tambah susah mikirin politik.” Padahal semua yang kita hadapi adalah menyangkut politik, bahkan pendidikan sekalipun. Intinya, tidak mau susah?

Jadi, Harus banget?

Mengutip perkataan dari salah satu tokoh penulis favorit saya, Bertolt Brecht,

”Buta yang terburuk adalah buta politik. Dia tidak mendengar, tidak berbicara dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, dll semua tergantung pada keputusan politik.

Orang yang buta begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si Dungu ini tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional.”

Lihat betapa sebenarnya kita semua ini pada hakikatnya adalah pelaku politik? Bahkan saintis yang sibuk di lab dan teknisi yang sibuk merancang bangunan sekalipun. Jika kehidupan sebagai teknisi misalnya, tidak sejahtera, temuan tidak dihargai, kompetensi tidak terstandardisasi, dan lainnya, apa lagi kalau bukan persoalan politik?

Tinggal bagaimana kita mau mengalokasikan waktu dan tenaga untuk berpartisipasi aktif sesuai kapabilitas yang kita miliki. Mahasiswa dengan kapabilitas sebesar itu, apakah hanya mau memilih belajar di kelas dan iya-iya saja? Ketika sebetulnya kebertahanan status mahasiswa kita ini diperjuangkan oleh rakyat melalui dana pajak, dan perputaran uang negara. Masih merasa tidak berdosa kah untuk bersikap apatis terhadap peristiwa menyangkut rakyat Indonesia?

Andai pemimpin bangsa dapat lahir dari masa lalu yang tidak peduli dan tidak mau mengenal politik, apa mungkin? 🙂

Sesungguhnya taburan kata ini bukan untuk menggurui apa lagi mendikte, namun sekadar menjadi pengingat bagi yang lupa, dan pemancing inspirasi bagi siapapun.

————————————————————————————————————————

Tulisan ini saya dedikasikan secara khusus untuk Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang konon memiliki semangat kejuangan sepuluh nopember. Mahasiswa yang mengenyam pendidikan di kampus yang murni didirikan oleh bangsa sendiri tanpa campur tangan bangsa lain. Kampus yang konon menjadi senter poros pergerakan mahasiswa Indonesia timur. #AkuSepuluhNopember #AkuArekITS

Bandung, 31 Desember 2014

Ilmi Mayuni Bumi

Mahasiswi Teknik Material dan Metalurgi

Staff Kementerian Kebijakan Publik BEM ITS

Life-changing Experience: Menjadi Jurnalis ITS

10641283_750522898319097_3791604042997384474_n

Setiap kampus pastilah melakukan berbagai upaya untuk membangun citra yang baik. Pemanfaatan media menjadi salah satu cara utama untuk mencapai itu. Melejitkan popularitas dan mengenalkan kepada Indonesia bahkan dunia, tentang eksistensi ITS sebagai kampus teknik dibilang merupakan salah satu hal yang amat penting.

Berita-berita mengenai prestasi, kegiatan, hingga kebijakan di kampus ITS secara terus menerus bermunculan di halaman its.ac.id. Tak hanya secara online, para pelaku berita tersebut mengemas setiap kisah ITS ini kedalam bentuk cetak berupa majalah yang dinamai ITS Point. Juga sesekali menulis buku sebagai bentuk tanggung jawab atas fungsinya sebagai pers, yaitu mengabadikan peristiwa. Buku-buku yang pernah ditulis oleh mereka meliputi sejarah ITS, catatan 25 mahasiswa berprestasi, hingga profil mengenai mobil-mobil buatan mahasiswa ITS.

Mereka adalah Reporter ITS Online. Sudah pernah dengar ITS Online sebelumnya? Kebanyakan orang akan bertanya, “Apakah itu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)?” Jelas bukan. Biar saya ceritakan ya!

ITS Online merupakan media resmi kampus ITS. Bersama ITS TV, sebagai ITS Media Center yang berada langsung dibawah Badan Koordinasi Pengendalian dan Komunikasi Program (BKPKP) selaku Hubungan Masyarakat (Humas) ITS. Posisinya yang sedemikian resmi namun diisi oleh para mahasiswa, maka bisa dibilang menjadi Reporter ITS Online itu semacam bekerja dalam lingkup semi-profesional. We work, we get paid.

Ada banyak alasan kenapa saya menganggap bahwa pengalaman menjadi jurnalis kampus merupakan salah satu Life-changing experience. Dari awal masuk ke ITS pada Agustus 2013 dan resmi menjadi reporter ITS Online pada Desember 2013, terhitung sudah 9 bulan saya menjadi mahasiswa sekaligus jurnalis kampus. Tidak bisa dipungkiri, banyak sisi dari kehidupan kampus saya berjalan mulus dikarenakan kegiatan dan predikat saya sebagai Reporter ITS Online. Kalau dipaparkan satu-satu:

  1. Pesona CV naik 99%
    Tulisan “Reporter ITS Online” yang berada di kolom Working Experiences dalam CV saya nampaknya makin mempercantik CV. Betapa tidak, mulai dari daftar kepanitiaan suatu acara hingga beasiswa yang seleksinya sangat kompetitif seakan ditembus dengan ringan oleh CV yang saya rangkai selama bertahun-tahun ini. Tak jarang, di sesi wawancara, mereka selalu menanyakan dengan antusias perihal profesi saya yang justru tidak ada kaitannya dengan status saya sebagai mahasiswa teknik.
  2. Relasi kenceng!
    Salah satu aset hidup yang saya anggap mahal adalah relasi. Karena ITS Online merupakan media kampus, dimana saya fokus meliput segala bentuk kegiatan kampus serta berbagai macam prestasi nasional-internasional, saya selalu dipertemukan dengan orang-orang inspiratif. Hal tersebut jelas adanya. Keseharian saya mewawancarai para pemenang kompetisi, innovator, para aktivis, petinggi ormawa, hingga birokrasi. Orang-orang yang menempati posisi strategis kampus ini dengan mudahnya saya temui, berbincang, bertukar pikiran, bahkan hingga terjalin hubungan baik dalam waktu yang lama.
  3. Up to date
    Ini bagian seru. Setiap pekan, ada yang namanya rapat redaksi. Momen dimana para reporter dan redaktur beserta koordinator liputan berkumpul untuk mem-plot berita. Disini informasi dari ujung kampus ITS timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut, utara, timur laut terkumpul. Saling melaporkan dan berburu berita. Biasanya reporter memilih acara yang sesuai passion-nya. Misal, saya cenderung sering meliput kegiatan-kegiatan yang bertemakan sosial politik di kampus, atau hal-hal yang berbau internasional. Ada juga reporter yang hobi hunting sertifikat workshop atau seminar, secara workshop semahal apapun bisa kita masuki gratis karena status kita yang merupakan pers kampus :D. Disini kita jadi tahu lebih dulu mengenai kegiatan-kegiatan apapun!
  4. Berwawasan luas
    Tidak ada sejarahnya seorang pelaku media tidak berwawasan. Knowledgeable ini gengsi utama seorang jurnalis. Bayangkan saja, seorang jurnalis kampus yang berkuliah di jurusan desain harus meliput acara workshop yang membahas materi mengenai inovasi bio-material misalnya. Tentu dalam menulis berita, jurnalis tersebut harus melakukan riset mengenai materi terkait. Secara terus menerus mengenal hal baru, wawasan baru dan pola pemikiran baru mengenai suatu subjek. Kebiasaan ini setidaknya bisa memperkaya khazanah pemikiran dan semakin memperkaya pengetahuan.
  5. Lebih Open-minded
    Berpikiran terbuka membebaskan kita untuk menerima hal baru dan melihat sesuatu dari banyak sisi. Pikiran yang terbuka dapat meminimalisasi ketimpangan antara ekspektasi dan kenyataan, sehingga penting untuk memiliki karakter ini. Wawasan yang luas akan mengantarkan kita pada kondisi ini. Selain itu, kebiasaan bertemu dengan orang yang ideologinya berbeda-beda juga akan membiasakan kita untuk lebih open-minded.
  6. Kemampuan Interpersonal oke
    Salah satu kemampuan yang penting bagi seseorang untuk bisa survive dalam kehidupan bersosial adalah kemampuan interpersonal. Kemampuan memahami orang lain ini sangat bermanfaat agar kita bisa menjalin hubungan baik dan cepat mengerti situasi atau paparan orang lain. Terbiasa bertemu orang yang macam-macam, mendapati peristiwa yang macam-macam pula menjadikan kita semakin sensitif dalam mengenal psikis manusia. Sensitifitas ini juga bisa membantu kita cepat menentukan sikap dan gesture. Sedikit banyaknya pasti mempengaruhi karisma kita 😉
  7. Bisa menulis dengan baik
    Saya tidak tulis “jago nulis”, karena menulis tulisan jurnalistik dan tulisan lainnya akan sangat berbeda. Namun setidaknya kita dipaksa untuk me-re-pattern pikiran kita terhadap sesuatu (dalam hal ini liputan berita) kedalam bentuk tulisan yang memenuhi kode etik jurnalistik dan aturan penulisan ITS Online. Kebiasaan yang dapat mengasah kemampuan berpikir sistematis dan memperkaya kosa kata. Ini hal utama yang saya kejar. Motivasi saya di awal ketika memutuskan untuk menjadi jurnalis kampus adalah membiasakan menulis. Hampir semua recruitment apapun, beasiswa, kompetisi, dan akademik pastinya mengharuskan mahasiswa untuk menulis. Lagi pula menurut saya, mahasiswa memang harus bisa menulis.
  8. Become a positive energy!
    Ini maksudnya apa? Ada satu rahasia yang belum diketahui oleh saya sebagai reporter junior, yaitu kriteria recruitment-nya. Tapi, mengenal rekan-rekan kantor ITS Online, mereka itu orang-orang luar biasa. Tipikal mau berjuang, jujur, berdedikasi tinggi, dan berpikiran terbuka. Berada diantara mereka, rasanya seperti di-charge! Ada semacam energi positif yang membuat tubuh lebih segar setelah mungkin seharian bersinggungan dengan berbagai gelombang energi yang banyak membuat eosional*terlalu metafisik, maaf, saya empath*. Berada di lingkungan prestatif juga banyak memberikan energi positif ini. Sesuatu yang unexplainable memang, tapi ini berpengaruh besar terhadap semangat saya khususnya.

Delapan poin yang cukup banyak mengubah hidup saya. Seandainya saya harus membayangkan kehidupan kampus saya dari nol tanpa aktivitas ini, entahlah. Saya banyak bersyukur dan banyak berterimakasih kepada semua orang yang telah mendukung saya serta menyemangati saya untuk terus berkarya sebagai jurnalis kampus ITS.

Teringat kepada salah seorang yang paling berjasa, redaktur pembimbing saya ketika OJT, beliau selalu mengingatkan, “Jika kamu ingin keluar dari ITS Online, pikirkan seribu kali.”

IMG_2919 b

Ilmi Mayuni Bumi
Teknik Material dan Metalurgi ITS 2013
Reporter ITS Online

Pendapat Orang Belanda tentang Indonesia: Concerned only with money Opinion and Editorial

Since 1991 I have visited many places in Indonesia, from Medan to Makassar. As I learned Bahasa Indonesia I can easily mingle with ordinary Indonesians. My first opinion about Indonesia was very positive. Most people greeted me and invited me to their homes. In particular people in the countryside are very happy when a westerner visits their village.

After staying a long time in this country and having talked with many people at all social levels, from farmers to government officials, it seems that most have only one topic which keeps them entertained: money.  In my country, the Netherlands, people have many hobbies and ambitions. Dutch children as young as four years old want to become doctors, police officers, dentists, lawyers, musicians, dancers, etc. They are encouraged by their parents to swim, dance, sing, draw cartoons, love animals, respect nature and so on.

Indonesian children simply hang around all day in the vicinity of their house without having anything to do. They aren’t encouraged by their parents to do something useful as these parents only watch television, chat with neighbors or, even worse, sleep.

As a European I become bored of being told every day that I am rich just because I’m from Europe. Indonesians don’t care about their achievements, but only about the amount of money they acquire. The way they get this money doesn’t matter to them.

People at all levels protest daily about corruption, but most of them are themselves corrupt. If those protesters could acquire top positions they wouldn’t mind being corrupt in the same way they now accuse others.  A lot of the media, especially The Jakarta Post, run stories on widespread corruption. Unfortunately, it’s only talk with almost no action at all.

In my opinion, the high level of corruption in Indonesia is caused by the fact that Indonesians have no ambition, except to acquire money. When they have more than they need, they simply have a party, buy a car, television, or waste it on other meaningless items.

They don’t save it for their children’s education and future like we do in Europe. What’s the meaning of money if you don’t know what to do with it?
How is this country going to develop if nobody cares about their achievements but only about money?

RONALD RAMAKERS
Medan, North Sumatra

March 10, 2007

 

Source: http://www.thejakartapost.com/yesterdaydetail.asp?fileid=20070310.F05

Subhanallah, Pasangan Menikah Ternyata Miliki Kesamaan Genetik

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Hadis Nabi yang mengatakan bahwa perempuan sesungguhnya diciptakan dari tulang rusuk laki-laki tak perlu diragukan lagi. Hal ini ternyata bisa dibuktikan secara genetik dalam sebuah studi yang dilakukan sebuah tim dari Boulder Institute of Behavioral Science di Universitas Colorado.

Pemimpin peneliti, Benjamin Domingue mengatakan timnya meneliti genetika dari 825 pasangan menikah di Amerika yang dipilih secara acak. Peneliti membandingkan lebih dari 1,7 juta titik potensi kemiripan genetik. Salah satu pasangan cenderung memiliki kemiripan secara genetik dengan pasangannya, sehingga keduanya memiliki keyakinan untuk menikah.

“Kesamaan gen akhirnya mendorong hati kita dengan berbagai peluang dan struktur ketika menentukan dengan siapa kita akan menikah. Sebagai contoh, gen pula yang menentukan apakah calon pasangan Anda harus berbadan tinggi, berat badannya, latar belakang etnisnya, agama, hingga tingkat pendidikannya,” ujar Domingue, dilansir dari Easy Good Health, Senin (9/6).

Kesimpulan ini kemudian diteliti lagi lewat model statistik untuk memahami perbedaan genetik antara populasi manusia yang tidak sedarah. Ada perbedaan kesamaan genetik antara pasangan yang menikah dengan saudara sekandung mereka. Kesamaan antara orang-orang yang sudah menikah hampir tidak sedalam saudara kandung.

“Saudara kandung rata-rata memiliki kesamaan genetik berkisar 40-60 persen, sedangkan rentang persamaan gen antara pasangan yang sudah menikah lebih kecil dari itu,” ujar Domingue.

Pasangan menikah cenderung memiliki sifat genetik yang sama karena gen mereka membantu menentukan dengan siapa mereka akan bertemu selama hidup mereka. Orang-orang dengan gen yang mirip misalnya, akhirnya menginginkan pasangan dengan latar belakang pendidikan yang sama, misalnya sama-sama S1. Seseorang juga cenderung untuk menikahi pasangan yang mirip dengan diri mereka sendiri, dalam hal etnis, ras, dan ukuran tubuh.

Gen-gen juga membentuk perbedaan biologis yang lebih halus namun justru bisa saling menarik satu sama lain untuk saling menyukai lewat cara-cara yang tidak kita mengerti. Setidaknya, pasangan sudah menikah memiliki seperti kesamaan dalam hidup mereka.

 sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/14/06/09/n6vo43-subhanallah-pasangan-menikah-ternyata-miliki-kesamaan-genetik

Inilah Rahasia Mengapa Shalat Harus di Awal Waktu

syaamilquran.com – Inilah Rahasia Mengapa Shalat Harus di Awal Waktu – Rasulullah saw sangat menganjuran umatnya untuk melaksanakan shalat fadhu di awal Seperti yang beliau sabdakan,”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Swt adalah Shalat pada waktunya, Berbakti kepada kedua orang tua, dan Jihad di jalan Allah Swt.” (HR Bukhari & Muslim)

Inilah Rahasia Mengapa Shalat Harus di Awal Waktu

Ternyata anjuran tersebut ada hikmahnya. Menurut para ahli, setiap perpindahan waktu sholat, bersamaan dengan terjadinya perubahan tenaga alam dan dirasakan melalui perubahan warna alam. Kondisi tersebut dapat berpengaruh pada kesehatan, psikologis dan lainnya. Berikut ini kaitan antara shalat di awal waktu dengan warna alam.

  1. Waktu Subuh

Pada waktu subuh, alam berada dalam spektrum warna biru muda yang bersesuaian dengan frekuensi tiroid (kelenjar gondok). Dalam ilmu Fisiologi (Ilmu biologi yang mempelajari berlangsungnya sistem kehidupan) tiroid mempunyai pengaruh terhadap sistem metabolisma tubuh manusia. Warna biru muda juga mempunyai rahasia tersendiri berkaitan dengan rejeki dan cara berkomunikasi. Mereka yang masih tertidur nyenyak pada waktu Subuh akan menghadapi masalah rejeki dan komunikasi. Mengapa? Karena tiroid tidak dapat menyerap tenaga biru muda di alam ketika roh dan jasad masih tertidur. Pada saat azan subuh berkumandang, tenaga alam ini berada pada tingkatan optimal. Tenaga inilah yang kemudian diserap oleh tubuh kita terutama pada waktu ruku dan sujud.

  1. Waktu Zuhur

Alam berubah menguning dan ini berpengaruh kepada perut dan sistem pencernaan manusia secara keseluruhan. Warna ini juga punya pengaruh terhadap hati. Warna kuning ini mempunyai rahasia berkaitan dengan keceriaan seseorang. Mereka yang selalu ketinggalan atau melewatkan sholat Zuhur berulang kali akan menghadapi masalah dalam sistem pencernaan serta berkurang keceriaannya.

  1. Waktu Ashar

Alam berubah lagi warnanya menjadi oranye. Hal ini berpengaruh cukup signifikan terhadap organ tubuh yaitu prostat, rahim, ovarium/ indung telur dan testis yang merupakan sistem reproduksi secara keseluruhan. Warna oranye di alam juga mempengaruhi kreativitas seseorang. Orang yang sering ketinggalan waktu Ashar akan menurun daya kreativitasnya. Di samping itu organ-organ reproduksi ini juga akan kehilangan tenaga positif dari warna alam tersebut.

  1. Waktu Maghrib

Warna alam kembali berubah menjadi merah. Sering pada waktu ini kita mendengar banyak nasehat orang tua agar tidak berada di luar rumah. Nasehat tersebut ada benarnya karena pada saat Maghrib tiba, spektrum warna alam selaras dengan frekuensi jin dan iblis. Pada waktu ini jin dan iblis amat bertenaga karena mereka ikut bergetar dengan warna alam. Mereka yang sedang dalam perjalanan sebaiknya berhenti sejenak dan mengerjakan sholat Maghrib terlebih dahulu. Hal ini lebih baik dan lebih selamat karena pada waktu ini banyak gangguan atau terjadi tumpang-tindih dua atau lebih gelombang yang berfrekuensi sama atau hampir sama dan bisa menimbulkan fatamorgana yang bisa mengganggu penglihatan kita.

  1. Waktu Isya

Pada waktu ini, warna alam berubah menjadi nila dan selanjutnya menjadi gelap. Waktu Isya mempunyai rahasia ketenteraman dan kedamaian yang frekuensinya sesuai dengan sistem kontrol otak. Mereka yang sering ketinggalan waktu Isya akan sering merasa gelisah. Untuk itulah ketika alam mulai diselimuti kegelapan, kita dianjurkan untuk mengistirahatkan tubuh ini. Dengan tidur pada waktu Isya, keadaan jiwa kita berada pada gelombang Delta dengan frekuensi dibawah 4 Hertz dan seluruh sistem tubuh memasuki waktu rehat. Selepas tengah malam, alam mulai bersinar kembali dengan warna-warna putih, merah jambu dan ungu. Perubahan warna ini selaras dengan kelenjar pineal (badan pineal atau “mata ketiga”, sebuah kelenjar endokrin pada otak) kelenjar pituitarythalamus (struktur simetris garis tengah dalam otak yang fungsinya mencakup sensasi menyampaikan, rasa khusus dan sinyal motor ke korteks serebral, bersama dengan pengaturan kesadaran, tidur dan kewaspadaan) dan hypothalamus (bagian otak yang terdiri dari sejumlah nucleus dengan berbagai fungsi yang sangat peka terhadap steroid, glukokortikoid, glukosa dan suhu). Maka sebaiknya kita bangun lagi pada waktu ini untuk mengerjakan sholat malam (tahajud).

Kita sebagai umat Islam sepatutnya bersyukur karena telah di’karuniakan’ syariat shalat oleh Allah Swt sehingga jika dilaksanakan sesuai aturan maka secara tak sadar kita telah menyerap tenaga alam ini. Inilah hakikat mengapa Allah Swt mewajibkan shalat kepada kita sebagai hambaNya. Sebagai Pencipta Allah swt mengetahui bahwa hambaNya amat sangat memerlukan-Nya. Shalat di awal waktu akan membuat badan semakin sehat.*** (syaamilquran.com/ sumber: motivasi islami abadi)  Continue reading Inilah Rahasia Mengapa Shalat Harus di Awal Waktu