Reminder

Bersama Departemen Enviro PT Newmont Nusa Tenggara setelah mengambil sampel tailing hasil tambang di dekat palung laut
Bersama Departemen Enviro PT Newmont Nusa Tenggara setelah mengambil sampel tailing hasil tambang di dekat palung laut

Akhirnya ada yang bilang saya cantik, paling cantik malah, khusus di foto ini saja. Bersama rekan-rekan peserta Bootcamp dan profesional dari Departemen Enviro PT Newmont Nusa Tenggara, Januari 2015. Foto ini mengingatkan saya (kembali) kalau saya anak teknik. Seberapapun kecintaan saya terhadap dunia jurnalistik, sosial, budaya, dll, ini menyadarkan saya tentunya pengetahuan di bidang tersebut tidak dapat membantu saya menjawab soal ujian fenomena transport ataupun mekanika fluida. Setidaknya untuk saat ini, area yang sedang urgent untuk diperjuangkan adalah semua tentang teknik material dan metalurgi, hal terdekat yang bisa mengantarkan saya untuk  menjadi manusia yang memiliki skill nyata. Tenang, bukan berarti hobi diluar bidang teknik ditinggalkan, hanya saja lebih terkontrol di tahun ketiga nanti. Rasanya sudah waktunya membuat sesuatu, karya, menyelami lebih dalam tentang keprofesian sendiri. Alhamdulillah Ramadhan kali ini dapat ilham, sudah tidak galau lagi soal track pasca kuliah. Yah, manusia dinamis, setidaknya keputusan saat ini membantu prioritas kedepan. Karena masalah bangsa ini tidak hanya pada persoalan politis saja, tapi masalah-masalah teknis juga. Orang-orang dengan latar belakang teknik berwawasan politik ditambah empati dan kepekaan sosial baik dengan spiritualitas+intelektualitas yang kuat, dibutuhkan banyak di negeri ini bukan?

Advertisements

Kodrat Perempuan sebagai Kekuatan Dahsyat dalam Membangun Peradaban

Dalam catatan sejarah manusia, perempuan dikenal sebagai mahluk yang begitu istimewa. Sedemikian istimewa hingga sejarah pun merekam berbagai pergerakan perempuan beserta polemiknya dari bermacam dimensi budaya dan peradaban manusia di dunia. Tak hanya persoalan budaya, agama sebagai variabel paling mendasar pun turut mengatur berbagai aspek khusus untuk mahluk yang satu ini. Kehadirannya pun bukan tanpa efek, jelas menimbulkan berbagai penafsiran dan persepsi mengenai bentuk ideal seorang perempuan dan pergerakan perempuan. Setidaknya, menentukan idealitas seorang perempuan harus melibatkan perspektif agama, budaya, sosial, ilmu pengetahuan, dan relevansi zaman sehingga dalam pergerakannya menghasilkan luaran yang dianggap positif untuk menunjang laju peradaban kehidupan umat manusia.

Oleh karena itu, mari kita menengok sejarah. Pada sekitar tahun 400 SM, salah seorang filsuf terkenal, Aristoteles, berpendapat tentang kedudukan perempuan. Idenya yang cukup reaksioner jika dilihat dari kacamata zaman sekarang adalah mengenai kepercayaannya soal martabat perempuan yang lebih rendah dibandingkan laki-laki karena dianggapnya segaris dengan hukum alam. Tak beda jauh dengan Plato, ia bahkan berpendapat adanya perbedaan kehormatan antara laki-laki dan perempuan yang cukup signifikan. Ia memandang bahwa kehormatan laki-laki terletak pada kemampuannya memerintah, sedangkan kehormatan perempuan terletak pada kemampuannya menjalankan pekerjaan-pekerjaan yang rendah dan hina.1

Kesimpulan dari hasil catatan sejarah, didapati berbagai kondisi berbeda mengenai perempuan pada setiap dimensi budaya semasa zaman pra Islam. Namun ada satu hal yang identik, yaitu porsi peran perempuan yang berbatas dan takaran harga dirinya yang selalu lebih rendah dibanding laki-laki. Keadaan ini menimbulkan banyak tanya mengenai persepsi terhadap bentuk peran ideal perempuan dalam sebuah peradaban. Tak hanya itu, ruang gerak perempuan pun acap kali menemui konflik karena adanya ketidaksesuaian prinsip seorang perempuan dengan kelaziman budaya mengenai perempuan yang dianut oleh suatu lingkungan masyarakat. Hingga akhirnya tak salah jika kondisi ini mendorong sebuah gerakan feminis yang mulai gencar pada sekitaran tahun 1960. Tuntutan kesetaraan dari kaum feminis pun turut mempengaruhi dalam menentukan idealitas perempuan serta pergerakannya. Lagi-lagi banyak didapati variasi bentuk kesetaraan yang disuarakan, sehingga area pergerakan perempuan mengalami perluasan yang tidak jarang menerobos nilai-nilai agama maupun norma sosial.

Sebelum melangkah lebih jauh kepada persoalan peran sesuai gender, perlu dikaji perbedaan kapabilitas antara perempuan dan laki-laki. Ditinjau dari segi fisik yang kasat mata, perempuan dikarunai kemampuan untuk mengandung dan melahirkan, sedang lelaki tidak. Namun rupanya, perbedaan antara kedua gender berbeda ini tidak sesederhana itu. Menurut penelitian, secara karakter perempuan dinilai lebih emosional dibanding laki-laki. Hal ini dikarenakan sistem limbik yang dimiliki perempuan lebih berkembang, sehingga aspek prilaku, emosi, dan memori perempuan cenderung lebih labil. Ditambah lagi dengan fase khusus setiap bulannya yang dapat mempengaruhi aspek-aspek tersebut, perempuan menjadi sangat labil dalam hal emosi. Ilmu pengetahuan modern juga telah menemukan bahwa perempuan cenderung kurang akal/pikirannya jika dibandingkan dengan laki-laki. Penilaian ini didasari oleh fakta yang menyatakan bahwa otak perempuan lebih kecil dari otak laki-laki hingga 10%. Tak hanya dari segi ukuran, ditemukan pula bahwa dari struktur pun didapati banyak perbedaan mencolok antara otak laki-laki dan perempuan yang berdampak terhadap perbedaan cara berpikir, perilaku, reaksi, dan berpersepsi terhadap sesuatu. Otak perempuan pun diketahui lebih rentan mengalami penurunan sel-sel otak yang dapat menyebabkan menurunnya kemampuan mengingat pada kaum perempuan.2 Rupanya hal ini pun diamini dalam sebuah keterangan hadits, dikatakan oleh Rasulullah, “Aku tidak pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya paling bisa mengalahkan akal lelaku yang kokoh daripada salah seorang kalian (kaum wanita).”3 Situasi ini lantas menghadirkan pertanyaan apakah perbedaan yang telah ditakdirkan Allah berorientasi pada sebuah peran khusus atau tidak sama sekali.

Jauh sebelum hasil penelitian sains dipublikasikan, Islam sudah membagi peran antara laki-laki dan perempuan. Islam menawarkan aturan-aturan bagi perempuan yang dimaksudkan untuk memuliakan mahluk indah ini, bukan sebaliknya. Hal ini terlihat nyata jika dibandingkan dengan status perempuan di masa pra-islam. Meski demikian, hingga kini Islam justru masih dikatakan sebagai agama yang tidak memberikan Hak Asasi Perempuan (HAP). Salah satu hal yang mendasari penilaian tersebut adalah penafsiran dari suatu ayat Al-qur’an yang menyatakan bahwa hanya laki-laki saja yang dikehendaki untuk memimpin, firman tersebut berbunyi, ”Kaum laki-laki itu adalah pemimpin, pemimpin bagi kaum wanita karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkakan sebagian dari harta mereka.4 Tak hanya itu, dalam hal hak waris, Islam mengatur porsi waris perempuan adalah setengah dari bagian laki-laki.5 Dalam hal persaksian, kesaksian perempuan pun dianggap separuh dari persaksian laki-laki.6 Tak ayal, berbagai polemik pun muncul dalam mempersoalkan HAP ini. Hal yang perlu digarisbawahi sebagai acuan peran ideal perempuan adalah pertanyaan, apakah perempuan dengan kemampuan dan akal yang terdesain sedemikian rupa dimaksudkan untuk suatu peran khusus atau tidak? Apakah Islam dengan sekonyong-konyongnya membagi peran dan menghukumi perempuan dengan aturan-aturan khusus tanpa sebuah alasan jelas?

Setidaknya setiap zaman memiliki ceritanya masing-masing. Era tahun 60-an sudah berlalu, demikian pula dengan sejarah pergerakan kaum feminis pada masanya. Kini kita berada di zaman yang kian dinamis dalam hal sosial, budaya, politik, dan ekonomi. Kondisi ini pun akhirnya menyuguhkan opsi lebih banyak bagi perempuan dalam mengambil peran. Namun semenjak manusia terus mendambakan sebuah kehidupan yang damai, ritme hidup sejahtera, dan masyarakat yang madani, tidak ada salahnya jika kita mengkaji ulang pembagian peran per gender ini. Telah banyak berbagai upaya struktural maupun kultural yang digalangkan untuk mencapai peradaban sejahtera. Kita perlu menengok aspek kewanitaan sebagai salah satu opsi atau justru poin utama dalam mencapai kehidupan yang didambakan semua orang tersebut.

Pergerakan tidak selalu harus diawali dengan pemikiran-pemikiran kompleks, maka dari itu mari kita berpikir sederhana. Katakanlah suatu peradaban terdiri dari berbagai lapisan masyarakat. Secara jelas, bermasyarakat adalah kegiatan yang melibatkan interaksi antarkelompok, dimana kelompok-kelompok ini adalah keluarga-kerluaga. Suatu keluarga memuat beberapa individu. Atas dasar ini, disebutlah individu sebagai komponen terkecil dari masyarakat. Ketika masyarakat yang madani menjadi syarat pasti menuju peradaban sejahtera, maka kualitas individu menjadi variabel pendukung yang paling nyata untuk menciptakan nilai-nilai luhur di masyarakat. Membangun individu-individu berkualitas dari segi intelektual dan moral haruslah melalui sebuah pendidikan yang tersistem dengan baik. Keluarga menjadi wadah terdekat dan paling strategis untuk membangun bangsa yang sejahtera dengan masyarakat yang madani. Pendidikan dalam keluarga dapat melahirkan individu-individu yang beradab, karena ketika kualitas seorang individu baik, berbagai tantangan buruk yang menghampiri suatu lapisan masyarakat otomatis akan mudah ditepis.

Perempuan terhukum secara sosial maupun agama, rata-rata untuk berada di rumah dan mendidik anak-anak. Secara kodrat, perempuan berkemampuan untuk mengandung, setidaknya hal ini menjadi alasan lebih bagi perempuan untuk memiliki intuisi yang lebih kentara terhadap anak yang dilahirkannya dibandingkan dengan laki-laki. Mencoba menilai persoalan kodrat ini dengan rendah hati, tidakkah perempuan ini sebetulnya sudah memiliki wadah pergerakannya sendiri? Mendidik tidak pernah menjadi perkara yang mudah, diperlukan kemampuan komunikasi yang baik dan telaten. Menurut hasil studi Magnetic Resonance Imaging (MRI), diketahui perempuan cenderung memiliki kecerdasan linguistik yang lebih baik daripada laki-laki. Hal ini disebabkan karena otak perempuan memiliki area otak caudate atau bagian yang mengatur bahasa lebih luas dibanding otak laki-laki.7 Artinya, secara fitrah perempuan mempunyai kapabilitas lebih dalam hal verbal dan berkomunikasi, tentu kemampuan ini sangat menunjang peran seorang pendidik anak dalam mencetak individu berkualitas. Pemimpin-pemimpin bijak hanya akan lahir dari ibu yang cerdas dan istri yang suportif. Jelas disini, bahwa rupanya wadah pergerakan perempuan ini sudah eksis bahkan sangat strategis. Dengan karakteristik khusus yang hanya dimiliki oleh perempuan, ranah kepemimpinan khusus perempuan ini sudah sangat nyata dan berdampak besar hasilnya.

Idealitas peran perempuan yang ruang lingkupnya cenderung di dalam keluarga bukan berarti membatasi ruang gerak perempuan. Pergerakan perempuan dengan peran sedemikian vital justru merupakan senapan jitu yang membutuhkan banyak amunisi. Dalam menambah amunisi, perempuan perlu memperkaya khazanah pemikiran mereka dengan banyak membaca dan mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Maka tidak benar jika perempuan terlahir untuk berada di rumah tanpa harus bersekolah. Tidak dapat disalahkan juga jika seorang perempuan ingin mengisi suatu peran pekerjaan di sektor manapun, selama tidak melalaikan tugas dan tanggung jawab idealnya secara gender, dan secara norma agama. Di sisi lain, pendekatan ketuhanan bisa menjadi salah satu penguatan peran seorang perempuan, bahkan ini bisa menjadi hal yang paling mendasar. Mengimani segala perintah Allah adalah mutlak adanya, karena Islam justru telah mengatur segala hal menyangkut hajat hidup manusia. Sebab perempuan pun memiliki potensi spiritual yang sama dengan laki-laki dalam pencapaian keimanan dan ketaqwaan. Namun harus ditekankan, dalam proses menambah amunisi inilah perempuan perlu bijak dalam melaluinya agar tidak membuyarkan peran ideal sebagai mahluk yang mengisi peran strategis ini. Di abad 21 ini, semakin banyaknya opsi hidup membuat semakin banyak celah yang dapat dimasuki oleh sisa-sisa pergerakan kaum feminis terdahulu sehingga justru dapat memungkinkan menyalahi kodrat sebagai perempuan.

Sebagai pencetak generasi yang berbudi luhur, perempuan perlu melatih kecerdasan interpersonalnya melalui praktik interaksi sosial. Perempuan diharapkan cukup berpengetahuan untuk dapat taat terhadap etika dan nilai-nilai universal. Menjaga nilai-nilai dasar kemanusiaan dan memupuk empati di lingkungan masyarakat. Mengingat sedemikian besar pengaruh seorang perempuan dalam sebuah lingkungan masyarakat, agama telah mengatur berbagai batasan-batasan fisik maupun tindakan perempuan. Maka dalam berperilaku, perempuan perlu menjaga etika di lingkungan sosial, mulai dari penampilan, pola bicara, hingga perilakunya. Seorang perempuan yang dikaruniai tubuh indah selayaknya menutup dan menjaga keindahan tersebut agar tidak mengundang gairah dari laki-laki yang bukan mahramnya, sefleksibel apapun situasi budaya tempat seorang perempuan muslim berada. Sebagai sosok yang menjadi teladan bagi anak-anak, baiknya seorang perempuan berperilaku dengan penuh kasih kelembutan, penuh pengertian, dapat mengontrol emosi, dan bersifat akomodatif. Menjaga integritas melalui pola bicara menjadi salah satu hal yang tidak boleh terlewatkan, mengatur nada bicara dalam takaran santun, lugas, dan tidak bernada manja. Akumulasi dari segala kelembutan sikap seorang perempuan adalah sebuah kesabaran, nilai karakter yang amat penting eksistensinya dalam diri seorang perempuan sebagai pendidik generasi.

Banyaknya aturan agama, norma sosial, dan persepsi soal idealitas perempuan sebaiknya tidak menjadi hambatan bagi perempuan untuk bergerak dalam wadah yang tepat. Perempuan perlu menyadari bahwa kodrat bukanlah belenggu, namun justru sebagai sebuah kesadaran penuh untuk membangun kekuatan dahsyat. Dengan tetap berada dalam bingkai kodrat itu sendiri, pergerakan perempuan bisa mencapai hasil yang menakjubkan sampai ke skala peradaban.

Referensi:

[1] K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, (Jakarta: Yogyakarta, 1999), Cet.Ke-22, h.81

[2] http://www.sciencedaily.com/releases/2012/09/120905110931.htm

[3] Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari No. 1462 dan Muslim No.79

[4] QS An Nisa’: 34

[5] QS Al-Anfal ayat 75 dan hadits dari Aisyah riwayat Tirmidzi: الخال وارث من لا وارث له. Dan hadits riwayat Imam Malik dalam Muwatta’: كان عمر بن الخطاب رضي الله عنه يقول: “عجباً للعمة تورث ولا ترث

[6] QS Al-Baqarah : 282

[7] Gardner, Howard. 2003. Multi Intelligenc Kecerdasan Majemuk. Teori dalam Praktek. Batam Center. Inter Askara

Ilmi Mayuni Bumi, dalam artikel bertemakan Manner in Move: Idealitas Perempuan dan Pergerakannya.

Bandung, 2015.

Kita cuma perlu belajar untuk menaruh segala sesuatunya pada porsi yang proposional. Mengontrol sisi individualis,  sosialis, dan orientasi oportunis.

Kita cuma perlu jujur pada diri sendiri dan saling jujur dengan yang lain tanpa saling tunjuk. Tanpa saling mendikte. Tanpa saling sok tahu.

Kita cuma perlu sedikit lebih berani menerima resiko, menerima rasa kecut sedikit, karena siapa manusia di dunia ini yang bisa menyenangkan hati semua orang?

Kita terlalu fokus pada hal yang tidak merubah apa-apa. Berapa kali Tuhan mengingatkan kita soal waktu? Waktu, waktu, waktu.

Ilmi Mayuni Bumi, 2015

BRIDGING UNDERSTANDING A Presentation by YES Alumni in Bandung, Indonesia

almost 3 years ago! here are some stories about the exchange year programs (YES, AFS, and Rotary)!

Indonesia YES Alumni Association

The Seven facilitators/panelists of the presentation: (1) Lidya Sophiani – Hosted in Round Hill, Virginia, USA (YES Program Alumni 2011-2012); (2) Rininta Muthia Syahrir – Hosted in Whitefish, Montana, USA (YES Program Alumni 2011-2012); (3) Vitara Caprinita – Hosted in Little Rock, Arkansas, USA (YES Program Alumni 2011-2012); (4) Nabila Ratna Kasyalia – Hosted in Wausau, Wisconsin, USA (YES Program Alumni 2011-2012); Ibrahim Azizi – Hosted in South Bend, Indiana, USA (YES Program Alumni 2011-2012) (5); Ilmi Mayuni Bumi – Hosted in Zurich, Switzerland (AFS Program to Europe Alumni 2011-2012) (6); Sri Izzati – Hosted in Waupaca, Wisconsin, USA (Rotary Program Alumni 2011-2012) (7)

On September, 22nd 2012, YES Program Returnees of 2011-2012 from Bandung Chapter, held an event in MAN 1 Bandung (Madrasah Aliyah Negeri  – Islamic High School) to commemorate and to contribute for International Education Week which is the national project of Indonesian YES Alumni Returnees…

View original post 898 more words

Terlalu Sibuk Menuntut Kesetaraan

Dibanding 8 Maret (Hari Perempuan Internasional), rasanya 21 April lebih melekat bagi perempuan Indonesia. 21 April menjadi sedemikian penting karena dikatakan sebagai Hari Kartini, tokoh yang memperjuangkan hak-hak perempuan di Indonesia. Terlepas dari kontroversi kelayakan klaim yang jatuh pada Kartini (bukan pada tokoh pejuang perempuan lainnya) ataupun isu kejanggalan soal bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang, setidaknya kemunculan peringatan tentang perempuan pada tanggal 21 April dan 8 Maret ini menunjukkan bahwa perjuangan kaum feminis tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di belahan bumi lainnya.

Emansipasi banyak didengungkan pada hari ini. Menurut KBBI, emansipasi adalah pembebasan dari perbudakan, atau dalam kata lain persamaan hak antara kaum wanita dan kaum pria pada berbagai aspek kehidupan masyarakat. Di belahan bumi lain, masih di sekitaran tahun 1960an, pergerakan perempuan yang menamai diri sebagai kaum feminis pun semakin menjadi. Bekas sejarah tersebut dibuktikan dengan penetapan hari khusus Perempuan Internasional dan hari Kartini di Indonesia. Pertanyaannya adalah, kenapa bisa terjadi emansipasi? Mengapa sejarah mencatat adanya tuntutan para perempuan terhadap sebuah kesetaraan? Jika diilhami, istilah kesetaraan hanya akan muncul jika terjadi ketimpangan atau kata lain yang bersifat negasi dari kesetaraan.

Mari Kita Menengok Sejarah

Pada zaman Yunani Kuno, martabat perempuan sangat direndahkan. Filosof Demosthenes berpendapat bahwa perempuan hanya berfungsi untuk melahirkan anak. Aristoteles pun menganggap perempuan sederajat dengan hamba sahaya. Tak hanya itu, Plato menilai, kehormatan lelaki ada pada kemampuannya memerintah, sedangkan kehormatan perempuan menurutnya ada pada kemampuannya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sederhana dan hina.

Beralih ke sudut lain, pada tahun 586 M, sempat tercetus pikiran dari salah seorang agamawan Perancis mengenai kebolehan seorang perempuan dalam menyembah Tuhan dan statusnya yang dapat masuk surga atau tidak. Pemikiran-pemikiran tersebut berakhir pada sebuah kesimpulan, bahwa perempuan memiliki jiwa namun tidak kekal. Perempuan dianggap hanya bertugas untuk melayani lelaki dan bebas diperjualbelikan. Begitupun sepanjang zaman pra-Islam, posisi perempuan hanya sampai pada posisi pelayan kaum lelaki. Pada zaman Jahiliyah (kebodohan), para orang tua yang memiliki anak perempuan akan menguburnya hidup-hidup karena dianggap sebagai aib.

Melihat catatan sejarah yang seperti itu, tak aneh jika muncul pergerakan kaum feminis untuk menuntut kesetaraan, karena telah terjadi ketimpangan bahkan penghinaan. Sedangkan parameter kesetaraan itu sendiri berbeda-beda seiring perbedaan budaya di berbagai belahan bumi. Hal itu bermakna, bahwa parameter kesetaraan ini berkiblat pada kondisi sosial, politik, norma-norma, dan ekonomi yang berlaku di setiap lapisan peradaban berbeda. Seiring berjalannya waktu, zaman telah membrei kondisi berbeda dengan masa kelam perempuan di masa lalu, zaman telah memiki daya tawar dan opsi lebih bagi kaum perempuan. Meski demikian, pergerakan kaum feminis hingga hari ini masih terbilang cukup agresif. Namun pertanyaannya, kesetaraan seperti apa lagi yang ingin dicapai? Kaum feminis banyak menuntut kesetaraan yang bersifat kultural. Sejauh apa relevansi pergerakan perempuan seperti ini sebetulnya?

Eksistensi Perempuan

Eksistensi atau keberadaan dipastikan memiliki makna. Setidaknya Tuhan menciptakan benda sekecil apapun melainkan untuk suatu fungsi (pernyataan ini tidak berlaku untuk kaum atheis). Secara lahiriah, sains telah membuktikan bahwa struktur fisik lelaki dan perempuan berbeda. Tak terkecuali struktur otak dan kondisi hormonalnya yang sudah barang pasti mempengaruhi pola perilaku seorang individu. Jika diuraikan, Michael Gurian dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa perempuan:

  1. Memiliki corpus callosum atau penghubung jaringan antarbagian otak pada perempuan rata-rata lebih besar 25% pada saat akil baligh. Ini berefek pada terjadinya komunikasi saling-silang dalam otak yang membuat perempuan kerap berkomunikasi sendiri.
  2. Memiliki konektor lebih kuat dalam lobes atau salah satu bagian dari otak. Manfaat konektor ini memungkinkan perempuan lebih terampil mengerjakan tugas-tugas tertulis.
  3. Memiliki hippocampus atau area penyimpan memori dalam otak yang lebih besar. Tak aneh jika perempuan lebih mudah dalam mempelajari bahasa.
  4. Memiliki prefrontal cortex yang berkembang lebih awal dan lebih aktif, sehingga menjadikan perempuan cenderung tidak impulsif.
  5. Lebih sering menggunakan area korteks sehingga perempuan lebih bisa mengatur emosi dan bicaranya.
  6. Aliran volume darah yang mengalir ke otak perempuan 15% lebih banyak dari otak laki-laki, hal itu membuat perempuan lebih bisa mengatur aktivitas kejiawaannya.

Sedangkan otak laki-laki dikatakan lebih unggul dalam matematika dan fisika, terutama subyek-subyek abstrak. Laki-laki cenderung bersifat impulsif, bukan tipikal pendengar yang baik, dan lebih tertarik pada permainan-permainan.

Islam Tertuduh, Islam Menjawab

Jauh sebelum hasil penelitian sains dipublikasikan, Islam sudah membagi peran laki-laki dan perempuan serta mengklaim bahwa aturan-aturannya penuh dengan pemuliaan terhadap perempuan. Jika harus dibandingkan dengan kehidupan pra-Islam, perempuan dalam konsep kehidupan yang ditawarkan Islam memang dapat dikatakan lebih mulia. Namun kenyataannya, Islam masih dikatakan sebagai agama yang tidak memberikan Hak Asasi Perempuan (HPA). Penilaian tersebut tidak lepas dari aturan-aturan Islam seperti dalam kepemimpinan, perempuan tidak boleh memimpin, dalm hak waris hanya mendapat setengah dari bagian laki-laki, dalam kesaksian pun hanya dianggap setengah dari kesaksian laki-laki. Salah satu hadits yang menuai banyak polemik adalah hadits Muttafaqun ‘alaih, HR Bukhari no.1462 dan Muslim no.79:

“Aku tidak pernah melihat orang kurang akal dan agamanya paling bisa mengalahkan akal lelaki yang kokoh daripada salah seorang kalian (kaum wanita).”

Syaikh ‘Abdul Kairm menerangkan, dalam tafsir tentang makna kurang akal dan agama telah diterangkan dalam hadits tersebut. Bahwa yang dimaksud kurang akal adalah karena persaksian wanita itu separuh dari persaksian laki-laki (sebagaimana tertera pada QS. Al-baqarah: 282).

Pertanyaannya, apakah akal perempuan terdesain sedemikian rupa untuk selamanya berada dibawah derajat laki-laki dan tidak akan pernah setara? Atau dimaksudkan untuk tujuan lainnya? Padahal jika diteliti hasil penelitian secara ilmiah dan capaian-capaian perempuan di zaman ini, hampir tidak bisa dibedakan bahkan tak jarang melebihi laki-laki. Jika ditelaah kembali, masalah akal ini tidak sesederhana menyinggung soal daya pikir dan kecerdasan saja. Namun lebih kepada kadar kesaksian (ingatan dan lupa). Lupa atau ingat ini adalah hal yang berkaitan dengan data empirik serta pengalaman, sama antara laki-laki atau perempuan. Akan tetapi perempuan memiliki kekhususan, dimana perempuan lebih banyak mengalami keadaan berbeda-beda. Terdapat banyak siklus hidup pada perempuan yang berkaitan dengan tubuh dan perasannya yang keduanya sangat berpengaruh pada proses berpikir perempuan. Boleh dikatakan, berdasarkan hal ini, Islam menjawabnya dengan pembagian peran dan menghukumi perempuan sesuai tabiat dan kehidupan kesehariannya dalam masyarakat islami secara lebih khusus.

Pergerakan Perempuan: Membangun Masyarakat yang Madani

Setiap zaman memang memiliki ceritanya masing-masing. Era tahun 60-an sudah berlalu, demikian pun dengan sejarah yang mencatat pergerakan-pergerakan perempuan pada masanya. Kini kita dihadapkan dengan zaman yang kian dinamis, entah dari segi sosial, politik, dan ekonomi. Perempuan pun memiliki lebih banyak opsi di abad 21 ini. Sejak dulu, tidak bisa ditampikkan bahwa manusia mendambakan kehidupan yang damai dan sejahtera. Masyarakat yang madani diidam-idamkan, segala bentuk sistem dan usaha tak struktural pun ditempuh demi mencapai sebuah peradaban sejahtera.

Mari kita berpikir sederhana, karena pergerakan tidak harus selalu diawali dengan pemikiran-pemikiran yang kompleks. Suatu peradaban terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, bermasyarakat dapat berarti adanya interaksi bersama antar rumah tangga. Keluarga memuat bebrapa idividu yang merupakan komponen terkecil dari masyarakat. Nilai-nilai luhur yang dapat berlaku di masyarakat (sebagai syarat menuju masyarakat yang madani) dibawa oleh individu. Maka dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah wadah terdekat dan paling strategis dalam mebangun peradaban sejahtera dengan masyarakat yang madani. Pendidikan dalam keluarga melahirkan individu-individu yang beradab, tanpa peduli tantangan yang akan terjadi di arena kemasyarakatan yang lebih luas, namun dengan individu yang berprinsip, hal ini bukan tidak mungkin terjadi.

Perempuan terhukum secara sosial maupun agama, rata-rata untuk berada di rumah dan mendidik anak-anak. Dikolerasikan dengan fitrah bahwa perempuan harus mengandung yang berefek pada intuisi lebih terhadap anak yang dilahirkannya. Mencoba merendahkan hati dan menerima fenomena ini, tidakkah kita melihat bahwa perempuan ini sebetulnya sudah memiliki wadah pergerakannya sendiri?

Bahwa perempuan dikatakan sebagai racun dunia. Laki-laki bisa sukses dan bisa hancur karena perempuan. Individu-individu hebat, pemimpin-pemimpin bijak hanya akan lahir dari rahim perempuan cerdas dan bertanggung jawab (sebab mengapa pendidikan tinggi pantas dienyam kaum perempuan). Bahwa perempuan sesungguhnya sudah memiliki senapan jitu, hanya tinggal menambah amunisinya saja. Dalam menambah amunisi inilah kaum perempuan kiranya bijak memilih alur yang tidak membuyarkan fokus akhirnya. Bahwa rupanya wadah pergerakan perempuan ini sudah eksis bahkan sangat strategis. Sedemikian jelas ranah-ranah kepemimpinan khusus perempuan ini, dengan karakterisitk yang hanya dimiliki oleh kita, betapa besar dampak yang dapat dihasilkan.

Kepada Srikandi-srikandi Indonesia.. Sebesar itu kekuatan kita, dan kita masih menuntut kesetaraan?

Setidaknya zaman sudah memberi opsi, hanya tinggal memilih peran yang tidak membohongi dasar hati nurani dan naluri kewanitaan. Selamat 21 April, Selamat Hari Kartini!

__________________________________________

Catatan: penulis menulis berdasarkan riset dan beberapa pandangan pribadi. Penulis mengambil contoh kasus dalam Islam karena penulis menganut agama Islam.

Ketahuilah, Sejak Lama Aku Mengagumimu

Sudah hampir dua tahun menjadi warga kampus perjuangan, sudah hampir selama itu pula aku mengagumimu. Melihatmu dari jauh, terlalu terpesona aku. Semakin lama aku melihatmu, semakin banyak lah pertanyaan yang muncul dalam benakku, semakin aku tidak mengerti pula kenapa Tuhan menghadirkan sosok sepertimu. Terdengar picisan memang. Tapi aku betul-betul tidak bisa membendung derai air mata saat menulis ini. Tangan yang lemah dan bergetar ini pun seketika menjadi kuat ketika menyentuh keyboard. Tak tahan ingin kuluapkan dalam tulisan, karena aku tidak akan sanggup jika harus mengungkapkannya pada orang lain.

Sepertinya warna merah adalah warna favoritmu. Tidak pernah aku melihatmu mengenakan pakaian selain warna merah itu. Tas cantikmu yang besar menjadi aksesori lengkapmu setiap harinya. Entah kenapa, semakin siang, isi tasmu semakin penuh saja, membuatku semakin terpesona. Setiap kali aku tanyakan pada orang-orang sekitar tentang kamu, mereka hanya bilang, “oh dia, sudah biasa.” Sedangkan aku hampir tidak bisa mengerti semua orang, kenapa mereka hanya menanggapi sosokmu sesederhana itu. Padahal aku diam-diam terbelalak melihatmu.

Selama tiga semester, kita tidak pernah bicara. Setiap kali aku melihatmu, setiap itu pula aku sedang terburu-buru. Sayang sekali. Sesekali aku ingin menyapa, tapi aku selalu bingung bagaimana. Tak ayal, hanya senyum yang bisa aku beri padamu selama kurun waktu sekian semester itu.

Meski begitu, kamu mengajariku banyak hal. BANYAK SEKALI.

Kamu mengajariku untuk berani melangkah dengan pasti. Tidak peduli paku, tidak peduli pecahan kaca, dengan mantap kamu melangkah. Anehnya, tidak pernah aku menemuimu mengenakan alas tubuh. Semestinya di usia yang sedewasa itu, kamu sudah belajar banyak pelajaran hidup. Apakah kamu tidak pernah dihinggapi paku? Entahlah. Ini hal pertama yang membuatku kagum, betapa kamu melangkah dengan pasti, tanpa ragu, tanpa cemas.

Lebih lagi, kamu mengajariku percaya diri. Tidak pernah kudapati kamu menundukkan kepala, sama sekali selain jika kamu mencari sesuatu yang biasa mengisi penuh tasmu. Ketika berjalan, dagumu mantap naik, tatapanmu mantap kedepan. Tak jarang, dengan penuh percaya diri kamu menyapa para priyayi yang lalu lalang di keseharianmu.

Sampai suatu hari Tuhan mengizinkanku untuk menyapamu lebih, lebih dekat. Berjalan santai di kampus, dari jauh, kamu yang aku kagumi terlihat sedang membungkukkan badan mencoba untuk meraih sesuatu. Jalanku pun terhenti. Aku kembali berjalan dengan tempo yang semakin lamban, seiring dengan otakku yang berusaha mencari cara untuk menyapamu. Berjalan lebih dekat, kala itu kamu justru meloncat-loncat berusaha meraih sesuatu di pohon yang lumayan tinggi. Syukurlah, karena tindakanmu itu, aku berani menghampirimu. Sayang sekali, percakapan pertama kita sepertinya tidak berlangsung baik.

Ketika kusapa kamu, kamu seperti kebingungan membalas apa. Ketika kamu bicara, aku yang kebingungan memahami maksudmu. Bahasa Jawa ku yang terbatas dan Bahasa Indonesia mu yang terbatas mau tidak mau membuat kita sama-sama harus main tebak-tebakkan. Tanpa banyak kata, kuambilkan dahan pohon itu, aku tarik mendekatimu. Ah, rupanya kamu mau mengambil bunga! Begitu saja aku ikut memetikkannya untuk mu. Ternyata kantongmu sudah penuh dengan bunga. Kutanya untuk apa, sayang aku tidak mengerti jawabanmu.

Siang itu berlalu, aktivitasku berlanjut mengalir. Entah kenapa aku berpikir keras tentang makanan favoritmu. Seandainya aku ingin mengajakmu duduk bersama untuk makan siang dan tertawa kecil..

Kilasan momen kita siang itu membawaku pada terkaan-terkaan lain yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan tentangmu. Kenapa kamu bisa sekuat itu, sih? Kamu membuatku semakin kagum. Aku berharap kita bisa ketemu dan ngobrol lagi ya.

Akhirnya, suatu sore aku melihatmu lagi. Sayang, aku sedang harus mengurusi sesuatu. Usai urusanku selesai, aku melihatmu lagi. Yes! Kamu berjalan menyebrangi gedung jurusanku dengan dua bingkisan besar. Saat itu aku sedang menelpon abahku. Aku tutup telponku, sebelumnya kubilang pada abahku bahwa aku sedang terpesona melihat seseorang, abahku pun mengizinkanku untuk menutup telpon. Aku hampiri kamu, lagi-lagi percakapan kita semacam kurang smooth. Tak apa lah. Terpenting percakapan awal itu membuat kita bisa berjalan bersama sore itu.

Tapi kenapa kamu berjalan jauh didepanku? Padahal aku berharap kamu berjalan disampingku. Supaya aku bisa mendapatkan inspirasi lain. Karena diamnya kamu saja sudah mengajarkan dan menginspirasi banyak hal, apa lagi bicaramu, kupikir. Terlihat kamu mengusap pipi berkali-kali. Aku tanya tentang kemana kita akan pergi, kamu bungkam. Sesekali menjawab dengan kerongkongan yang berat tak seperti biasanya. Aku ikuti kemana kamu pergi dengan kerepotan membawa dua bingkisan besar. Lenganku sudah gemetar, tanganku sakit. Kekagumanku padamu menjadi berlipat-lipat sore itu. Apa lagi saat kita sudah mau sampai, track yang kamu lalui ternyata sebegitunya. Aku takut sungai, tapi kamu melewatinya setiap hari melalui jalan yang hanya cukup untuk satu kaki saja. Aku keringat dingin, aku tidak habis pikir dengan orang-orang yang menganggapmu biasa dan tidak mau menyapamu. Mataku sembab.

Aku pulang dalam diam, tertunduk, menikmati kampus yang libur, sunyi, sejuk sehabis hujan. Kakiku sudah kotor oleh lumpur. Tanganku sudah tidak sanggup kuangkat untuk sekadar membetulkan kerudungku. Kusimpan kedua tanganku di dalam saku jaketku dan membiarkannya terjatuh lemah.

Sesampainya di kamar, aku menangis sejadi-jadinya. Tanpa bisa kuusap karena tanganku benar-benar lemah. Waktu maghrib tiba pun aku tidak langsung bergegas, karena mengangkat untuk mengucap takbir pun sudah gemetar dan jatuh begitu saja. Usai sholat, aku berusaha mendokumentasikan perasaanku ini dalam tulisan.

Dokumentasi ini menjadi penting, agar aku selalu ingat pelajaran yang telah banyak aku pelajari dari kamu. Untuk jangan manja, untuk bisa berdamai dengan kenyataan sepahit apapun itu. Untuk selalu tersenyum, untuk berani bertaruh di arena yang tidak bisa ditebak. Untuk jangan mengeluh, lakukan saja apa yang bisa dilakukan. Untuk jangan mengharap iba dari orang lain, berdiri pada kaki sendiri, berjuang di jalan kemandirian.

Untuk menjadi wanita yang mandiri.

Aku wanita, aku tahu perasaanmu. Tahu betul dan mengerti betul. Sekuat itukah benteng yang telah terbangun oleh pengalaman hidupmu, Nek? Aku senang bertemu dengan kamu. Ketahuilah, aku benar-benar mengangumimu. Sering kali Tuhan memperlihatkan aku sosokmu di kala lelah dan perasaan hampir menyerah menghampiriku. Aku mendapati energi misterius seketika setiap kali itu terjadi. Sering-seringlah kita bertemu, supaya aku selalu ingat bahwa tugasku sekarang adalah berjuang untuk menjadi sosok yang bisa memerdekakanmu, dan tetangga-tetanggamu. Kita saudara, kan? Terima kasih, ya. Terima kasih banyak.

Galeriku: USA 2015

Di depan kampus teknik yang konon terbaik di dunia, MIT, Boston.  Taken by Marvin's
Di depan kampus teknik yang konon terbaik di dunia, MIT, Boston.
Taken by Marvin’s
IMG_3942 copy
Foto bersama John Harvard di Harvard University, Boston. Well, kami semua sudah menyentuh kaki kirinya, akankah kami kembali kesana? Taken by Marvin’s
IMG_4070 copy
Sempat turut berduka, ini kami di monumen 911, New York. Taken by Mavin’s
IMG_3967 copy
Merasa seperti menemukan surga pengetahuan. Di depan perpustakaan Harvard University, Boston. Taken by Marvin’s
IMG_3901 copy
Closing ceremony Harvard National Model United Nations, Marriott Copley Place, Boston. Yeay! Taken by Marvin’s
IMG_0019
Menikmati Boston pagi yang diselimuti salju dari lantai 19 :3
DSCF4449
Tiada hari lain di Amerika selama kami disana selain hari itu yang membuat kami bersyukur menjadi orang Indonesia. -18 derajat disertai angin, dan kami berada diluar untuk hampir satu jam. Betapa panasnya Surabaya harus disyukuri :3 Taken by Marvin’s
IMG_0945
Heathrow! Excitement menginjakkan kaki di London hilang begitu saja ketika melewati security check yang….huh
IMG_1729
Anak-anak yang serba ingin tahu. @ Apple Store, fifth Avenue, New York. Taken by Adit’s

Masih akan terus update…….

warm, brown, smooth, tasty, and sticky