Tag Archives: ITS

Memoar 20 Tahun

Ini saya, sedang duduk makan french fries sambil memangku tas backpack eiger kesayangan. Pukul 23.25 WIB, 17 Januari 2015 di bar Lobby Airport Cafe, Bandara Juanda Surabaya, sendirian. Jari jemari asyik menari diatas keyboard lipat, mengganti peran keyboard laptop yang ketumpahan bumbu sate padang kapan hari itu. Seharusnya sibuk membaca Study Guide bertopik Journalistic Freedom untuk selanjutnya membuat sebuah position paper, tapi hati ini gatal ingin membeberkan semuanya. Siap-siap, semuanya.

Sebelum pagi, sebelum subuh, dan sebelum pesawat tujuan Lombok take off. Biarkan jemari saya terus menari.

Lahir di Bandung 22 Januari 1995. Belum masuk tanggal 22 pun, awal tahun 2015 serasa mencekik. Januari selalu menjadi bulan yang paling membikin penasaran. Tapi tidak kali ini. Saat-saat ini adalah turning point hidup saya yang pergeserannya luar biasa, hampir 180 derajat bisa saya bilang. Momen paling melankolis yang pernah ada. Saya harap, ini momen terburuk dalam hidup saya, terburuk dari yang terburuk. Supaya tidak pernah saya temui lagi momen yang lebih buruk dari ini.

Tidak salah jika psikologi sepakat, kalau masalah itu sesungguhnya hanya ada dalam otak manusia saja, dan hampir tidak pernah betul-betul terjadi. Dari sebuah kecemasan saja, katanya psikologi, hanya 2% kecemasan yang mungkin akan benar-benar terjadi. Ah, basi, tetap saja tidak bisa mereduksi kegelisahan saya.

Memang betul, masalah itu tidak benar-benar ada. Atau mungkin belum. Tapi Tuhan, tolong, usia 20 tahun ini masalah buatku. Masalah refleksi hidup. Saya mau kemana? Kenapa rencana-rencana terdahulu yang pernah saya susun sedemikian cantik itu nampak seperti sampah sekarang ini? Kenapa saya kehilangan semangat yang menggebu-gebu itu? Kenapa ayat-ayatMu mengalami kemacetan dalam implementasi yang menenangkan buatku ya Allah? Kenapa upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan hidup sebagai khalifah fiil ard ini begitu banyak hitamnya daripada putihnya ya Allah? Kenapa belakangan aku sangat iri kepada saudaraku yang telah Engkau panggil di usia belia? Seperti apa selayaknya aku menunggu mati?

Kenapa

Besyukur, kegalauan ini masih dikeetahui sebabnya. Ini akumulasi tentang penasaran yang hampir habis. Tentang ambisi yang sempat tidak terkontrol, keluar track dari goal sesungguhnya, lantas tersadarkan oleh variabel yang tidak terseimbangkan. Gott sei dank!

Selama 20 tahun, ada banyak catatan yang terceklis dan terlewati. Komposisi dan keberpengaruhan dari setiap pencapaian berhasil maupun gagal nampak begitu harmonis saling menyempurnakan. Dari sini, berangkatlah aku semakin percaya akan Dia sebagai Perencana terbaik.

Beberapa Catatan Lalu

Sejak kecil, saya tidak pernah bermimpi untuk pergi ke luar negeri selama satu tahun menjadi siswa yang ditukar. Tidak pernah. Saya hanya berpikir, bahwa hal itu memang akan terjadi pada saya, bukan bermimpi. Memasuki SMP, saya bahkan sempat lupa tentang pikiran tersebut. Tapi anehnya, kesempatan itu datang begitu saja, bahkan melalui kawan facebook yang tidak pernah saya temui secara langsung.

Ilmi Mayuni Bumi, AFS Participant to Switzerland 2011-2012.

Berkebaya di Kota Bern, Swiss.
Berkebaya di Kota Bern, Swiss.
Salju pertama. Rikon-Zurich, Swiss.
Salju pertama. Rikon-Zurich, Swiss.
Skiing pertama. Di Elm-Glarus, Swiss.
Skiing pertama. Di Elm-Glarus, Swiss.
Trip Swiss-Italian part, Lugano.
Trip Swiss-Italian part, Lugano.
With Other Exchange Students!
With Other Exchange Students!

This is the biggest event in my life. Saya sangat yakin, saya hari ini tidak akan ada tanpa pengalaman menjadi siswa AFS. Secara pengalaman, perjalanan spiritual saya dan penemuan jati diri terjadi dalam rentan waktu 11 bulan di negeri Eropa sana. Secara track record, title AFSer telah banyak meloloskan saya kepada berbagai macam kesempatan pasca kepulangan bahkan hingga kuliah sekarang ini. Alhamdulillah, apa yang Allah siapkan untuk satu individu kecil ini?

Saya selalu berpikir, saya akan berkuliah di Bandung atau di luar negeri. Bukan di Surabaya. Meski telah melalui usaha luar biasa, tapi tangan Tuhan tidak mungkin lepas, itu yang saya yakini. Apa lagi ini menyangkut pintu jalan hidup, tentang bidang yang akan digeluti, lingkungan yang akan membentuk, orang-orang yang akan dipertemukan dengan kita, dan masih banyak lagi life-changing variable lainnya. Hingga saya berakhir pada sebuah penerimaan, bahwa ada banyak alasan ditempatkannya saya di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Jurusan Teknik Material dan Metalurgi.

Saya terus mencari alasan itu, yang bisa saja terjawab sekarang, atau nanti berpuluh tahun lagi. Dalam rentang waktu 17 bulan, ini yang sudah saya lakukan di Kampus Perjuangan:

Become part of Himpunan Mahasiswa Teknik Material dan Matelurgi, HMMT.
Become part of Himpunan Mahasiswa Teknik Material dan Matelurgi, HMMT.
Having great family!
Having great family!
MT 15 family!
MT 15 family!
Paticipating on Young Engineers and Scientists Summit 2014 as Public Reations.
Paticipating on Young Engineers and Scientists Summit 2014 as Public Reations.
Tidak melupakan jas merah! @ HOS Tjokroaminoto House
Tidak melupakan jas merah! @ HOS Tjokroaminoto House
Having a great team also family, ITS Online :)
Having a great team also family, ITS Online 🙂
Doing social project ;)
Doing social project 😉
Become modertor at a press conference for the very first time
Become modertor at a press conference for the very first time
Screaming freely as unplanned MC
Screaming freely as unplanned MC
again
again
Knowing Nannotechnolgy and became part of Nano World Indonesia
Knowing Nannotechnolgy and became part of Nano World Indonesia
Hidup Mahasiswa!
Hidup Mahasiswa!

Catatan Hari ini

Hal terdekat yang akan saya temui dalam beberapa jam dari saat saya menulis ini adalah berpetualang ke Batu Hijau, Sumbawa. Memenangkan kompetisi blog tentang UU Mineral dan Batu bara mengantarkan saya kesana untuk melihat langsung lokasi pertambangan PT Newmont Nusa Tenggara dan kehidupan masyarakat disana. Siap-siap!

Exciting sekaligus bingung, karena saya meninggalkan banyak catatan penting lainnya untuk menyipip hiruk pikuk kehidupan tambang di PTNNT. Beberapa jam lalu, masih di bandara, saya tidak sendiri. Karena saya ditemani partner sekaligus kawan project bisnis yang sudah berjalan empat bulan. Kami masih harus rapat. Sebagai koordinator proyek, saya harus mengkondisikan manajerial proyek dalam keadaan baik ketika saya tinggalkan. Sebagai penerima beasiswa Astra 1st Scholarship Program dari PT Astra International Tbk, kami memang diberi kesempatan untuk menjadi business consultant sungguhan untuk salah satu anak perusahan Astra. Menjadi salah satu hal yang sangat challenging buat saya!

Fantasix Team, Astra workshop Program
Fantasix Team, Astra workshop Program
Again, fantasix
Again, fantasix
My Astra people
Some of my Astra people

Tak kalah menantang dan penting, catatan lain yang saya tinggalkan adalah segala kepentingan lomba simulasi sidang PBB terbesar, tertua, dan paling prestisius itu. I am part of ITS Delegation for Harvard National Model United Nations (HNMUN) 2015, di Boston Amerika. Lomba yang akan dihelat di salah satu hotel luxurius, Marriott Copley Palace ini menguras banyak tenaga dan pikiran. Mulai dari latihan, komitmen, sampai pencarian dana. Meski visa sudah di tangan dan persiapan terus kami lakoni, namun masih banyak upaya yang harus kita lakukan agar kita benar-benar berangkat ke negeri Paman Sam dan berlomba sebagai delegasi pertama Kampus Perjuangan di lomba paling bergengsi itu. However, till today, I ve learned a looot from them, from our activities!

ITS Delegation for Harvard National Model United Nations 2015
ITS Delegation for Harvard National Model United Nations 2015
ITS Delegation for Harvard National Model United Nations 2015
ITS Delegation for Harvard National Model United Nations 2015
My partner at the same council: Social, Humanitarian, and Cultural Committee
My partner at the same council: Social, Humanitarian, and Cultural Committee

Tidak berhenti sampai disitu, alhamdulillah catatan menggalaukan lainnya datang dari Italia. Sempat ditolak tahun lalu, kini kesempatan itu seperti datang dengan ringgannya. Saya dinyatakan lolos sebagai jurnalis untuk RomeMUN dan termasuk kedalam kandidat penerima total scholarship. Sayang, scholarship yang katanya total itu tidak men-cover biaya visa dan tiket pesawat. Haruskah saya melepas kesempatan untuk kembali ke Eropa? Lalu makna pelangi di Eropa yang sempat menampakkan diri pada saya itu apa? (Konon jika pernah melihat pelangi di Eropa, maka kita akan kembali kesana hehe)

E-mail yang justru membuat cemberut bingung
E-mail yang justru membuat cemberut bingung

Catatan lainnya, sebagai staff Kementerian Kebijakan Publik BEM ITS, Kedirjenan Agitasi dan Propaganda, saya merupakan penanggungjawab aksi. Yang berarti, saya akan bertanggung jawab terhadap perencanaan dan pelaksanaan aksi yang akan ditempuh oleh KM ITS. Challengging bukan? Geregetin tapi bikin gemeter.

DSC_9200 edit

Profesi sampingan sebagai Reporter kampus pun telah menembuskan saya sebagai bagian dari tim penulisan buku “25 Ilmuwan Indonesia yang Mendunia”. Besutan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) bersama Nano World Indonesia dan Masyarakat Nano Indonesia. Tanggung jawab lain yang menunggu untuk diusaikan dengan gemilang.

Si pelaku pers
Si pelaku pers.

Akademik. Setelah mengalami kemerosotan luar biasa pada semester pembuka tahap sarjana, saya mendampat tamparan keras. Kegalauan dimulai. Saya ini mau jadi apa? Apa yang mau saya tonjolkan? Alhasil daripada galau, saya lebih memilih untuk memantapkan squad akademik yang baik dan pencapaian yang tidak biasa.

Begitu banyak catatan anugerah maupun godaan langsung/tak langsung yang harus senantiasa ditafakuri. Agar tidak keluar jalur dan salan orientasi hidup.

Tidak menyangka, Ilmi, seorang anak yang semasa kecilnya hobi menangis kencang sampai satu RT kedengaran ini segera menginjak usia 20 tahun. Bersyukur atas kegalauan yang menimpa, rasanya lebih baik galau daripada banyak tertawa tanpa sempat mentafakuri apa yang sudah diberiNya.

Karena inti dari berkuliah (dan mengarungi hidup) adalah mau bekerja keras dan berdamai dengan kenyataan. (Ilmi Mayuni Bumi, 2015)

Harus banget ya, Mahasiswa Ngomongin Politik?

Dalam tatanan kehidupan manusia, didapati begitu banyak elemen kehidupan. Agar roda kehidupan bisa berputar, berbagai sektor bidang dengan peranan khusus pun eksis untuk saling mendukung satu sama lain. Tak ayal, manusia pun turut dispesifikasi karakter dan keahliannya untuk menempati posisi peran-peran tersebut. Maka disinilah lembaga pendidikan hadir untuk menjawab kebutuhan peranan-peranan tersebut.

Saat ini, kurang lebih ada 100 Perguruan Tinggi Negeri (berbentuk universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, politeknik), 52 Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN), 272 Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta, dan 3.078 Perguruan Tinggi Swasta yang tersebar di seluruh nusantara. Diketahui dari Angka Partisipasi Kasar (APK) pada tahun 2012, jumlah mahasiswa Indonesia kurang lebih sekitar 4,5 juta (dari 25 juta usia produtif 19-24 tahun) atau 1,8 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Dengan peningkatan persentase jumlah mahasiswa hingga 2014 ini, taruhlah 2 persen penduduk Indonesia adalah mahasiswa.

Semua penduduk Indonesia dengan latar pendidikan yang berbeda-beda menempati perannya masing-masing di berbagai sektor dimana mereka dibutuhkan. Mulai dari buruh pabrik, tenaga pendidik, spesialis industri, pemerintah, hingga wiraswasta. Kondisi tersebut adalah jika proporsi jumlah penduduk, kebutuhan konsumsi keseharian, dan ketersediaan sumber daya alam/manusia menunjukkan kondisi yang tepat terintegrasi dan seimbang. Namun, dari 250 juta penduduk Indonesia, ternyata 7,24 juta diantaranya adalah pengangguran. Selain itu, masih ada persoalan kesehatan, pembangunan, pendidikan, asktivitas impor-ekspor, dan kesejahteraan masyarakat Indonesia yang dianggap masih belum mencapai kondisi ideal.

Berangkat dari hal tersebut, kita menyadari bersama bahwa sistem ini perlu mendapat perhatian lebih. Masalah-masalah perlu ditanggulangi dengan tepat. Ada begitu banyak variabel yang terlibat dalam terjadinya suatu kebijakan. Mulai dari masalah yang dihadapi, efisiensi solusi, ketersediaan tenaga, pembagian peran, gesekan kepentingan dalam maupun luar negeri, dan masih banyak lagi (baca: tangan-tangan invisible yang penuh ambisi :p). Cara mencapai itu lah yang kita sebut politik.

Review Apa itu Politik

Menurut teori klasik Aristoteles, politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Perspektif lain bicara, bahwa politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara, atau sesuatu yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat. Definisi yang paling klop untuk saya pribadi: politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.

Saya memahami bahwa dalam perumusan dan pelaksaan ini lah, banyak perilaku-perilaku politik yang menunjukkan ketidaksamaan persepsi. Dalam arti, sedemikian banyak kepentingan disana, sehingga menimbulkan gesekan dan pelanggaran yang dapat berefek pada kebijakan yang kurang tepat. Pada akhirnya, rakyat lah yang paling menikmati efek (baik/buruk)-nya suatu kebijakan tanpa bisa banyak berpartisipasi.

Bicara partisipasi politik, sejak saya mengenal Indonesia dan bangku kuliah, mahasiswa selalu dielu-elukan sebagai subjek terpercaya dalam mengawal kebijakan pemerintah karena dianggap sebagai kaum intelek yang berada pada posisi netral. Iyakah?

Status Mahasiswa

Perguruan Tinggi menyuguhkan atmosfer pendidikan yang lebih terfokus dan mendalam, juga menawarkan lingkungan yang intelek. Untuk bisa survive dalam menjadi mahasiswa, dikatakan perlu daya berpikir lebih daripada mereka yang tidak mengenyam bangku kuliah. Tanpa maksud mengeneralisir dan menyalahi takdir, kondisi ini tidak salah jika mahasiswa dikatakan mampu melihat serta mengkritisi keadaan pemerintah. Tak hanya otaknya yang diklaim terlatih mengkaji persoalan, mahasiswa berada dibawah institusi legal yang mana track untuk mencapai meja pemerintah lebih dekat, apa lagi dosen-dosen/petinggi kampus adalah mereka-mereka yang sering bersinggungan langsung dengan pemerintah.

Ditambah lagi, mahasiswa tidak terlibat dalam pengambilan kebijakan pemerintah (jelas lah), namun capable untuk mengkritisi kebijakan-kebijakannya. Maka posisi mahasiswa ini sangatlah netral dan strategis untuk turut berpolitik dalam soal dijadikan sebagai pengawal kebijakan dan penyambung lidah rakyat. Lalu, populasi 2 persen dari total penduduk Indonesia ini juga adalah yang paling memungkinkan dijadikan sebagai pemegang tongkat estafet pemerintahan Indonesia (Ibu Susi lain cerita).

Akhirnya, disebut-sebutlah bahwa mahasiswa memiliki peranan khusus. Peranan khusus tersebut meliputi Agen Perubahan (saya lebih setuju untuk bilang Pemimpin Perubahan), Moral Force, Iron Stock (better Golden Stock :p), dan Social Control.

Fenomena Mahasiswa Hari Ini

Lima juta lebih mahasiswa dengan berbagai fokus bidang yang berbeda ini dipaksa oleh sistem ataupun passionnya untuk memenuhi kebutuhan peradaban. Sementara ini menurut riset, untuk mencapai kondisi ideal, Indonesia membutuhkan 100 ribu dokter umum, 6000 dokter spesialis, 2,7 juta teknisi, 600 aktuaris, dan masih banyak lagi sektor yang harus dipenuhi oleh para mahasiswa ini. Tak ayal, pikiran terspesialis pun muncul, dimana mahasiswa berpikir bahwa apa yang perlu dilakukannya hanyalah menggeluti fokus bidangnya saja.

Hal tersebut tidak salah, mengingat dalam tatanan kehidupan ini memang dibutuhkan para jenius di bidang-bidang khusus yang pendalamannya membutuhkan fokus penuh. Tapi, apakah semua mahasiswa harus begitu?

Adanya jurusan ilmu politik, hukum, ilmu pemerintahan, dan lain sejenisnya ini dianggap oleh beberapa mahasiswa sudah cukup menjawab kebutuhan panggung perpolitikan Indonesia. Lantas mahasiswa-mahasiswa jurusan tersebut dianggap yang paling bertanggung jawab mengurusi politik. Terus, kita-kita mahasiswa teknik, sains, dan lainnya ini apakah tidak diperlukan? Layak kah lepas peran dan tanggung jawab sebagai mahasiswa?

Fenomena lain yang tak kalah menarik adalah orientasi kebanyakan individu mahasiswa itu sendiri. Bersekolah, kerja, mendapat gaji cukup, dan hidup bahagia, agaknya menjadi situasi dambaan banyak mahasiswa saat ini. Tak salah memang, sudah menjadi dasar sifat manusia untuk mencari kenyamanan hidup. Dikatakan kebanyakan mahasiswa sekarang pragmatis dan oportunis. Mementingkan kenyamanan hidup sendiri, begitu?

Kondisi lingkungan Indonesia pascareformasi ini menghadirkan kenyamanan tersendiri. Tidak ada gejolak nyata ataupun common enemy (seperti Soeharto dulu), sehingga nampak seperti semuanya tidak ada yang salah. Lupa melihat masih ada rakyat yang susah, dikatakan kebanyakan mahasiswa sekarang cenderung elitis dan kurang merakyat. Katanya penyambung lidah rakyat?

Niat berkontribusi untuk bangsa, tapi nanti-saja-kalau-sudah-sukses, lantas sekarang fokus kuliah tanpa peduli apa yang terjadi dengan bangsanya. Hm, ada yang berkata, cara paling efektif untuk merusak suatu bangsa adalah dengan membuat para pemudanya tidak kenal sejarah. Bagaimana bisa kita membantu berkontribusi untuk bangsa sedangkan sejarah akar masalahnya saja kita tidak paham karena tidak memerhatikan sedari dulu?

Fenomena yang paling mudah ditemui adalah, “Kuliah saya saja sudah susah, tambah susah mikirin politik.” Padahal semua yang kita hadapi adalah menyangkut politik, bahkan pendidikan sekalipun. Intinya, tidak mau susah?

Jadi, Harus banget?

Mengutip perkataan dari salah satu tokoh penulis favorit saya, Bertolt Brecht,

”Buta yang terburuk adalah buta politik. Dia tidak mendengar, tidak berbicara dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, dll semua tergantung pada keputusan politik.

Orang yang buta begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si Dungu ini tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional.”

Lihat betapa sebenarnya kita semua ini pada hakikatnya adalah pelaku politik? Bahkan saintis yang sibuk di lab dan teknisi yang sibuk merancang bangunan sekalipun. Jika kehidupan sebagai teknisi misalnya, tidak sejahtera, temuan tidak dihargai, kompetensi tidak terstandardisasi, dan lainnya, apa lagi kalau bukan persoalan politik?

Tinggal bagaimana kita mau mengalokasikan waktu dan tenaga untuk berpartisipasi aktif sesuai kapabilitas yang kita miliki. Mahasiswa dengan kapabilitas sebesar itu, apakah hanya mau memilih belajar di kelas dan iya-iya saja? Ketika sebetulnya kebertahanan status mahasiswa kita ini diperjuangkan oleh rakyat melalui dana pajak, dan perputaran uang negara. Masih merasa tidak berdosa kah untuk bersikap apatis terhadap peristiwa menyangkut rakyat Indonesia?

Andai pemimpin bangsa dapat lahir dari masa lalu yang tidak peduli dan tidak mau mengenal politik, apa mungkin? 🙂

Sesungguhnya taburan kata ini bukan untuk menggurui apa lagi mendikte, namun sekadar menjadi pengingat bagi yang lupa, dan pemancing inspirasi bagi siapapun.

————————————————————————————————————————

Tulisan ini saya dedikasikan secara khusus untuk Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang konon memiliki semangat kejuangan sepuluh nopember. Mahasiswa yang mengenyam pendidikan di kampus yang murni didirikan oleh bangsa sendiri tanpa campur tangan bangsa lain. Kampus yang konon menjadi senter poros pergerakan mahasiswa Indonesia timur. #AkuSepuluhNopember #AkuArekITS

Bandung, 31 Desember 2014

Ilmi Mayuni Bumi

Mahasiswi Teknik Material dan Metalurgi

Staff Kementerian Kebijakan Publik BEM ITS

Life-changing Experience: Menjadi Jurnalis ITS

10641283_750522898319097_3791604042997384474_n

Setiap kampus pastilah melakukan berbagai upaya untuk membangun citra yang baik. Pemanfaatan media menjadi salah satu cara utama untuk mencapai itu. Melejitkan popularitas dan mengenalkan kepada Indonesia bahkan dunia, tentang eksistensi ITS sebagai kampus teknik dibilang merupakan salah satu hal yang amat penting.

Berita-berita mengenai prestasi, kegiatan, hingga kebijakan di kampus ITS secara terus menerus bermunculan di halaman its.ac.id. Tak hanya secara online, para pelaku berita tersebut mengemas setiap kisah ITS ini kedalam bentuk cetak berupa majalah yang dinamai ITS Point. Juga sesekali menulis buku sebagai bentuk tanggung jawab atas fungsinya sebagai pers, yaitu mengabadikan peristiwa. Buku-buku yang pernah ditulis oleh mereka meliputi sejarah ITS, catatan 25 mahasiswa berprestasi, hingga profil mengenai mobil-mobil buatan mahasiswa ITS.

Mereka adalah Reporter ITS Online. Sudah pernah dengar ITS Online sebelumnya? Kebanyakan orang akan bertanya, “Apakah itu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)?” Jelas bukan. Biar saya ceritakan ya!

ITS Online merupakan media resmi kampus ITS. Bersama ITS TV, sebagai ITS Media Center yang berada langsung dibawah Badan Koordinasi Pengendalian dan Komunikasi Program (BKPKP) selaku Hubungan Masyarakat (Humas) ITS. Posisinya yang sedemikian resmi namun diisi oleh para mahasiswa, maka bisa dibilang menjadi Reporter ITS Online itu semacam bekerja dalam lingkup semi-profesional. We work, we get paid.

Ada banyak alasan kenapa saya menganggap bahwa pengalaman menjadi jurnalis kampus merupakan salah satu Life-changing experience. Dari awal masuk ke ITS pada Agustus 2013 dan resmi menjadi reporter ITS Online pada Desember 2013, terhitung sudah 9 bulan saya menjadi mahasiswa sekaligus jurnalis kampus. Tidak bisa dipungkiri, banyak sisi dari kehidupan kampus saya berjalan mulus dikarenakan kegiatan dan predikat saya sebagai Reporter ITS Online. Kalau dipaparkan satu-satu:

  1. Pesona CV naik 99%
    Tulisan “Reporter ITS Online” yang berada di kolom Working Experiences dalam CV saya nampaknya makin mempercantik CV. Betapa tidak, mulai dari daftar kepanitiaan suatu acara hingga beasiswa yang seleksinya sangat kompetitif seakan ditembus dengan ringan oleh CV yang saya rangkai selama bertahun-tahun ini. Tak jarang, di sesi wawancara, mereka selalu menanyakan dengan antusias perihal profesi saya yang justru tidak ada kaitannya dengan status saya sebagai mahasiswa teknik.
  2. Relasi kenceng!
    Salah satu aset hidup yang saya anggap mahal adalah relasi. Karena ITS Online merupakan media kampus, dimana saya fokus meliput segala bentuk kegiatan kampus serta berbagai macam prestasi nasional-internasional, saya selalu dipertemukan dengan orang-orang inspiratif. Hal tersebut jelas adanya. Keseharian saya mewawancarai para pemenang kompetisi, innovator, para aktivis, petinggi ormawa, hingga birokrasi. Orang-orang yang menempati posisi strategis kampus ini dengan mudahnya saya temui, berbincang, bertukar pikiran, bahkan hingga terjalin hubungan baik dalam waktu yang lama.
  3. Up to date
    Ini bagian seru. Setiap pekan, ada yang namanya rapat redaksi. Momen dimana para reporter dan redaktur beserta koordinator liputan berkumpul untuk mem-plot berita. Disini informasi dari ujung kampus ITS timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut, utara, timur laut terkumpul. Saling melaporkan dan berburu berita. Biasanya reporter memilih acara yang sesuai passion-nya. Misal, saya cenderung sering meliput kegiatan-kegiatan yang bertemakan sosial politik di kampus, atau hal-hal yang berbau internasional. Ada juga reporter yang hobi hunting sertifikat workshop atau seminar, secara workshop semahal apapun bisa kita masuki gratis karena status kita yang merupakan pers kampus :D. Disini kita jadi tahu lebih dulu mengenai kegiatan-kegiatan apapun!
  4. Berwawasan luas
    Tidak ada sejarahnya seorang pelaku media tidak berwawasan. Knowledgeable ini gengsi utama seorang jurnalis. Bayangkan saja, seorang jurnalis kampus yang berkuliah di jurusan desain harus meliput acara workshop yang membahas materi mengenai inovasi bio-material misalnya. Tentu dalam menulis berita, jurnalis tersebut harus melakukan riset mengenai materi terkait. Secara terus menerus mengenal hal baru, wawasan baru dan pola pemikiran baru mengenai suatu subjek. Kebiasaan ini setidaknya bisa memperkaya khazanah pemikiran dan semakin memperkaya pengetahuan.
  5. Lebih Open-minded
    Berpikiran terbuka membebaskan kita untuk menerima hal baru dan melihat sesuatu dari banyak sisi. Pikiran yang terbuka dapat meminimalisasi ketimpangan antara ekspektasi dan kenyataan, sehingga penting untuk memiliki karakter ini. Wawasan yang luas akan mengantarkan kita pada kondisi ini. Selain itu, kebiasaan bertemu dengan orang yang ideologinya berbeda-beda juga akan membiasakan kita untuk lebih open-minded.
  6. Kemampuan Interpersonal oke
    Salah satu kemampuan yang penting bagi seseorang untuk bisa survive dalam kehidupan bersosial adalah kemampuan interpersonal. Kemampuan memahami orang lain ini sangat bermanfaat agar kita bisa menjalin hubungan baik dan cepat mengerti situasi atau paparan orang lain. Terbiasa bertemu orang yang macam-macam, mendapati peristiwa yang macam-macam pula menjadikan kita semakin sensitif dalam mengenal psikis manusia. Sensitifitas ini juga bisa membantu kita cepat menentukan sikap dan gesture. Sedikit banyaknya pasti mempengaruhi karisma kita 😉
  7. Bisa menulis dengan baik
    Saya tidak tulis “jago nulis”, karena menulis tulisan jurnalistik dan tulisan lainnya akan sangat berbeda. Namun setidaknya kita dipaksa untuk me-re-pattern pikiran kita terhadap sesuatu (dalam hal ini liputan berita) kedalam bentuk tulisan yang memenuhi kode etik jurnalistik dan aturan penulisan ITS Online. Kebiasaan yang dapat mengasah kemampuan berpikir sistematis dan memperkaya kosa kata. Ini hal utama yang saya kejar. Motivasi saya di awal ketika memutuskan untuk menjadi jurnalis kampus adalah membiasakan menulis. Hampir semua recruitment apapun, beasiswa, kompetisi, dan akademik pastinya mengharuskan mahasiswa untuk menulis. Lagi pula menurut saya, mahasiswa memang harus bisa menulis.
  8. Become a positive energy!
    Ini maksudnya apa? Ada satu rahasia yang belum diketahui oleh saya sebagai reporter junior, yaitu kriteria recruitment-nya. Tapi, mengenal rekan-rekan kantor ITS Online, mereka itu orang-orang luar biasa. Tipikal mau berjuang, jujur, berdedikasi tinggi, dan berpikiran terbuka. Berada diantara mereka, rasanya seperti di-charge! Ada semacam energi positif yang membuat tubuh lebih segar setelah mungkin seharian bersinggungan dengan berbagai gelombang energi yang banyak membuat eosional*terlalu metafisik, maaf, saya empath*. Berada di lingkungan prestatif juga banyak memberikan energi positif ini. Sesuatu yang unexplainable memang, tapi ini berpengaruh besar terhadap semangat saya khususnya.

Delapan poin yang cukup banyak mengubah hidup saya. Seandainya saya harus membayangkan kehidupan kampus saya dari nol tanpa aktivitas ini, entahlah. Saya banyak bersyukur dan banyak berterimakasih kepada semua orang yang telah mendukung saya serta menyemangati saya untuk terus berkarya sebagai jurnalis kampus ITS.

Teringat kepada salah seorang yang paling berjasa, redaktur pembimbing saya ketika OJT, beliau selalu mengingatkan, “Jika kamu ingin keluar dari ITS Online, pikirkan seribu kali.”

IMG_2919 b

Ilmi Mayuni Bumi
Teknik Material dan Metalurgi ITS 2013
Reporter ITS Online