Tag Archives: kematian

Jadi Pemuda? Tetap Persiapkanlah Kematian

Assalamualaikum wr wb. Teman-teman Muslim dam Muslimah dimanapun kalian berada, saudara-saudariku, bagaimana rasanya membayangkan sepetak tanah yang akan menjadi singgahsana terakhir kita? Kalau dibayangkan, rasanya langsung sunyi, di keramaian pun merasa sendiri, was-was, merasa rendah diri, sudah sesiap apa kita? Lalu akan diapakan semua pencapaian dan segala usaha keras duniawi yang selama ini kita kejar, akan diapakan? Bukan mustahil dalam perjalanannya kita melakukan banyak dosa, memang Allah Maha Pengampun, tapi sejauh apa kita layak diampuni?

Sebuah laporan global menyebutkan, kematian dini cenderung lebih banyak terjadi di kalangan remaja dan dewasa muda dibandingkan anak-anak. Riset yang dipublikasikan jurnal kesehatan The Lancet, kasus kematian pada usia remaja tampak lebih menonjol. Faktor-faktor seperti kekerasan, bunuh diri, dan kecelakaan lalu lintas diyakini sebagai penyebab utama. Untuk yang sedang berkuliah, teman-teman mahasiswaku, ajal bisa saja menjemput kita saat kita sedang berada di kelas, atau baru saja beranjak pulang dari forum kemahasiswaan, atau mungkin saat baru saja pulang bersenang-senang dari tempat foya-foya.

Saya ingin mengajak teman-teman pemuda Islam khususnya untuk turut mencemaskan kematian dan segera mempersiapkannya meskipun masih muda karena kematian tidak mengenal usia. Setidaknya jika usia kita dipanjangkan, bukankah indah jika akhir hidup kita khusnul khotimah?

Berikut poin-poin rangkuman yang kiranya bisa menjadi persiapan diri kita dalam menanti kematian:

  1. Membiasakan budaya tafakur (merenung)

Manusia adalah mahluk yang berpikir. Apalah arti buku-buku tebal mengenai fenomena fisika, biologi, material, dll kalau tidak mampu mengantarkan kita menjadi mahluk yang merenung, meresapi, dan menyimpulkan. Kapan kita mau sedikit menarik diri dari sekolompok kawan-kawan yang biasa mengajak kita tertawa menikmati hal-hal duniawi? Meluangkan waktu sendiri, benar-benar hanya sendiri antara diri dan Allah, menanyakan eksistensi diri (baca QS Al-Baqarah:30), menanyakan tugas sebagai manusia di muka bumi, menanyakan kenapa kita harus menjalani apa yang kita jalani hari ini, merencanakan segala bentuk usaha diiringi doa untuk meraih ridhoNya dan merayu cintaNya terhadap apa yang Dia tuliskan di lauhul mahfuz.

  1. Senantiasa berpikir jernih

Berpikir jernih dalam hal ini adalah kembali pada apa yang benar dan salah menurut agama. Tepis segala macam paradigma konyol yang dibangun oleh lingkungan masyarakat, kampus, maupun himpunan kemahasiswaan. Sekiranya ada sesuatu yang justru lebih banyak mendatangkan kedzaliman, kemudharatan, dan sedikit manfaat, kenapa harus bertahan didalamnya? Konsekuensi sosial bukan tidak mungkin menimpa kita saat kita berusaha sedikit memberi jarak pada aktivitas yang banyak mudharatnya, apa lagi jika lingkungan teman-teman/kampus cenderung sosialis. “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

  1. Meluruskan niat dalam segala tindakan

Segala bentuk amalan ditentukan oleh niat. Sebagai manusia yang memiliki naluri untuk bertahan hidup, tak jarang kita melakukan sesuatu atas dasar kepentingan yang amat duniawi dan sarat akan kesenangan sesaat. Andai segala kegiatan kita niatkan atas dasar ibadah dan dalam upaya meraih ridhoNya, bukankah tentram hati ini? Nothing to lose. Rasa ikhlas dan tulus bisa menghampiri dengan mudahnya jika segalanya karena Allah, bahkan tanpa menghitung-hitung pahala ibadah pun, segalanya bisa dilakukan secara sukarela demi merayu cinta dan kasihNya. Baiknya kita kembali bertafakur dan bertafakur setiap kali ada niatan yang hampir menyimpang.

  1. Mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya

Melakukan poin keempat ini tidak sesederhana mengutarakannya. Perintah dan laranganNya acap kali menemui gesekan dengan realita hidup yang dihadapi dan pergolakan hati manusia yang penuh dengan ambisi. Ketika gesekan itu muncul, gaungkan lah selalu dalam hati ini bahwa Allah tidak tidur, Allah melihat kita, Allah mengasihi kita yang mengingatnya dan mencintai kita selalu. Allah tidak memberi beban pada kita diluar kemampuan kita. Dalam musibah sekalipun, selalu ada nilai pelajaran yang bisa dipetik. Dan ingatlah selalu bahwa dunia ini fana, akhirat itu kekal. Sekali lagi, dunia ini fana, akhirat itu kekal.

  1. Jangan memelihara subjektifitas

Setiap kali hati dihinggapi dengki, benci, iri, dendam, dan penyakit hati lainnya, ingatlah bahwa kita tidak punya kontrol atas manusia lain selain kontrol terhadap diri sendiri. Ingatlah bahwa sederetan perasaan tersebut hanya akan mengurangi waktu produktif kita dalam berkegiatan maupun beribadah. Ingatlah pula bahwa hanya Allah yang berhak menghakimi hambaNya dan punya kontrol penuh terhadap segala ketetapan. Senantiasa menjadi manusia yang positif dan melepas segala yang negatif akan menjadi awal yang baik dalam melakukan aktivitas apapun.

Berakhiran baik berarti menyelesaikan tugas di dunia dalam keadaan menjadi muslim yang baik. Pada dasarnya kebaikan seorang manusia bisa dibangun pada dua lini, yaitu lini vertikal dan horizontal. Secara vertikal adalah habluminallah, me-maintain hubungan dengan Allah. Memenuhi perintahNya, senantiasa menyenangkanNya (menambah amalan-amalan sunnah, seperti shalat rawatib, tahajud, dhuha, puasa daud, dan tidak menunda-nunda sholat), juga senantiasa berdzikir dan bersyukur. Serta menghindari perkara-perkara yang dapat mengundang murkaNya (bersikap angkuh, menyekutukanNya, melanggar larangan-larangannya). Secara horizontal adalah habluminannas, khusus hubungan antar sesama manusia. Sebagai sesama manusia untuk tidak saling menyakiti, menjaga lisan dan segala bentuk hawa nafsu yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Senantiasa berada dalam koridor-koridor aturanNya ketika berhubungan dengan manusia lain, karena sesungguhnya Allah telah mengatur hajat hidup manusia sampai pada hal-hal yang paling kecil.

Hidup dan mati adalah pasti. (Dialah) yang menjadikan mati dan hidup, agar Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS Al-Mulk: 2).

Semoga bisa mengingatkan saudara-saudari muslimku dimanapun kalian berada. Setiap kali share, setiap itu pula ada muslim yang teringatkan untuk menyegerakan kebaikan dan meninggalkan keburukan sebagai upaya menyiapkan bekal di kehidupan yang kekal.

Advertisements